Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 35


Aini bangun sejak subuh. Dia sudah mandi lebih dulu baru membangunkan Nita.


"Bangun woy! Anak gadis jam segini belum bangun!"


Aini mengguncang bahu Nita pelan-pelan.


"Nanti dulu Ain, masih ngantuk. Gue shift siang!", sahut Nita dengan suara parau.


"Gue mau berangkat kerja nanti jam enam! Lo mau tahu ngga gue jadinya kerja di mana?", tanya Aini.


"Tahu gue. Di rumah sakit Xxx kan? Bagian apa gitu? Ngurusin jenazah!", jawab Nita tanpa membuka matanya.


"Tahu dari mana Lo?"


"Kan kemaren udah bahas. Cuma semalam gue gabut, jadi chat sama mas Ikbal."


Bohong Nita. Padahal dia hanya asal nebak dan chat yang di maksud juga hanya mengirim rekaman suara Aini tentang pengakuan perasaannya saja.


Aini mencebikkan bibirnya.


"Ya udah deh kalo Lo udah tahu!", sahut Aini. Dia pun bersiap mengenakan pakaian formal. Untung masih punya. Mungkin nanti kalo ada jatah libur, Aini akan belanja online agar bisa mengganti beberapa pakaiannya yang kasual.


Jam enam pagi kurang lima menit, Nita sudah kembali tidur setelah solat subuh yang kesiangan.


Aini hanya menggeleng heran dengan sikap sahabat nya yang kadang-kadang ajaib dan kadang pula nguji emosi.


"Jangan lupa kunci pintu Nit, gue jalan! Assalamualaikum?!"


"Walaikumsalam, good luck Ai!", sahut Nita serak. Baru saja akan tidur lagi, Ruby menghubunginya yang mengatakan akan sampai ke sana lima belas menit lagi untuk mengantarkan sarapan.


Mau tak mau Nita pun bergegas membersihkan diri. Takut mengecewakan sang pacar saat melihat kondisi terburuknya yang baru bangun.


Aini berada di depan gerbang kost. Rangkaian bunga berduka cita berjajar rapi sepanjang jalan termasuk kost nya.


Gadis itu menghela nafas. Ia memikirkan betapa kasiannya bapak kost. Sudah di khianati oleh anak dan istrinya sendiri.


Di tengah lamunannya, Ilma hadir di samping Aini.


"Hai!", sapa Ilma.


"Heum, apa?"


"Jutek banget sih? Gimana, udah ada ide belom?"


"Itu salah satu bukti kejahatan Romi. Ayolah... segera pecahkan! Biar gue tenang!"


Aini meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Apa Ikbal akan setuju dengan idenya kemarin???


"Gue juga lagi mikir gimana caranya Ilma!", jawab Omk geregetan.


"Iya, kapan?", cerca Ilma


"Ya sabar dulu Ilma! Gue juga udah lagi usaha kok."


"Oke, gue percaya sama Lo! Eh.... mobil kakak gue noh!", kata Ilma pada Aini. Aini pun menoleh pada arah mobil yang Ikbal kendarai.


"Ayo masuk Ai! Kita satu tempat kerja sekarang!", bujuk Ikbal yang membuka pintu tanpa keluar dari mobil.


"Ngga enak mas. Masa iya dokter jemput aku?", tanya Aini dengan semburat senyum yang lebar.


"Jangan nolak, ayok???!", paksa Ikbal. Alhasil, Aini langsung masuk ke dalam mobil Ilma kembali mengekor duduk di belakang.


Aini melihat wajah Ilma yang sendu. Berbeda dengan tadi saat melihat berbicara dengan nya sebelum Ikbal datang.


"Mas, kenapa repot jemput aku segala. Aku juga bisa kok berangkat sendiri." Setelah itu, Ikbal mengusir puncak kepala Aini.


"Kan lebih enak kalo berdua begini!", kata Ikbal.


"Ilma nanya kapan kita menyerahkan kasus ini, gimana mas?", tanya Aini.


"Bilang sama Ilma, sabar!", kata Ikbal. Lalu ia pun melanjutkan perjalanannya.


"Kayanya ide kamu ada benarnya Ai!"


"Oh ya? ide apa?", tanya Aini.


"Nanti pulang kerja kita makan di rumah. Sekaligus memulai penyelidikan lewat pesan suara handphone Ilma!"


Aini tersenyum dan mengangguk pasrah.


*****


22.58


Terimakasih 🙏