
"Kamu nggak apa-apa Ai makan di tempat seperti itu lagi? Mas takut kalau nanti tempat kita makan itu ada penglarisnya lagi seperti terakhir kita makan waktu itu.''
"Ya...kita liat aja dulu mas, kita bisa lihat mana yang kira-kira pakai atau enggak. Jualan yang ramai tak selalu memakai penglaris juga kok. Mungkin emang udah rejekinya.''
"Iya sih Ai!'', sahut Ikbal. Lelaki itu menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Aini cukup terkejut merasakan genggaman tangan dari suaminya tersebut. Masih ada rasa tak percaya jika dirinya kini berstatus sebagai seorang istri.
''Kenapa?'',tanya Ikbal saat istrinya terus memandanginya.
"Nggak apa-apa mas'', jawab aini. Mereka pun berjalan santai menuju ke tempat penjual pecel lele. Sebenarnya lokasinya cukup jauh jika di tempuh dengan jalan kaki dari apartemen Ikbal. Tapi Aini yang kera kepala ingin berjalan kaki. Selain memang ingin melatih otot-otot kakinya, ia juga ingin menikmati suasana malam. Sejak dia tidur lama dan tinggal di apartemen suaminya, baru kali ini dia keluar dari gedung bertingkat tersebut.
Setelah berjalan kaki sekitar sepuluh menit dari pintu masuk apartemen, mereka tiba di sebuah kedai yang berada di trotoar. Tak terlalu banyak pengunjung kedai tersebut. Bahkan ada perempuan yang sedang duduk, mungkin berperan sebagai kasir.
"Sialhkan mas,mba!'', kata salah seorang laki-laki di sana. Ikbal dan Aini menyunggingkan senyumnya kemudian memilih tempat duduk.
Terlihat jelas jika seorang perempuan yang Aini lihat tadi tengah memegang mushaf. Dan suara murotal Quran juga terdengar meski tak terlalu kencang. Mungkin takut mengganggu pengunjung atau takut tak mendengar pesanan pengunjung.
Sepasang suami istri itu pun memesan makanan yang mereka tawarkan. Kali ini, Aini yakin jika tempat mereka makan itu 'bersih' dalam artian yang pokoknya....begitu lah.
Sesekali keduanya tampak berbicara di sela makan malam yang memang sudah cukup malam untuk ukuran makan. Apalagi, ikbal seorang dokter yang pasti paham alasan kenapa tidak boleh makan terlalu malam. Tapi untuk kali ini, dia memakluminya.
"Langsung pulang?'', pertanyaan pertama yang Ikbal lontarkan pada sang istri setelah mereka selesai makan.
"Eum...iya mas, udah malam.''
Setelah membayar makanan mereka, keduanya kembali menuju ke apartemen mereka.
"Ngga ada apa-apa di tempat tadi Ai?'', tanya Ikbal.
"Cuma....''
''Cuma apa?'',tanya Ikbal penasaran karena istrinya tak melanjutkan ucapannya. Aini sedang memikirkan bagaimana jika dia bercerita tentang penglihatannya di loby tadi dan juga sosok-sosok yang ada di unit mereka.
''Ngga apa-apa mas. Oh iya mas, kok mas Ikbal mau sih makan di tempat biasa kaya tadi? Mas Ikbal kan dokter, pengusaha tapi...''
Ikbal terkekeh pelan.
"Masalahnya apa? Dimana pun makan, asal makanan itu sehat dan bersih mas ngga pernah pilih-pilih. Lagian, jamannya masih jadi mahasiswa dulu juga biasa makan kaya gini.''
Aini mengangguk pelan. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok yang cukup ia kenal turun dari sebuah motor matic dan sedang melepas helmnya. Meski rambutnya sudah di pangkas, Aini masih cukup mengenalnya. Ikbal pun ikut memperhatikan arah pandang sang istri yang ternyata sedang melihat mantan kekasihnya yang tak lain adalah adik tirinya tersebut.
Tapi sayangnya Ibas tak tahu jika Aini dan Ikbal berada tak jauh darinya. Lelaki yang pernah gondrong itu sibuk memesan makanannya.
"Mau menyapa Ibas?'',tanya Ikbal tiba-tiba sampai membuat Aini menoleh pada suaminya.Aini tak melihat adanya kemarahan di mata sang suami. Tapi...dia cukup tahu diri, posisinya kini sudah bersuami.
"Nggak mas!'', jawab Aini yang berjalan mendahului suaminya.
*********
Terimakasih
16.09