Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 89


Ikbal merogoh saku jas nya. Ponselnya bergetar ada panggilan dari Aini. Bibir nya tersenyum tipis melihat nama si pemanggil.


[Assalamualaikum]


[Walaikumsalam mas. Sibuk?]


Aini basa basi sedikit. Dia yakin jika tidak terjadi hal buruk seperti yang Ilma takut kan mendengar suara tenang Ikbal di seberang sana.


[Ngga. Lagi di makam Ilma. Kenapa? Kangen?]


Tanya Ikbal di sertai kekehan ringan.


[Iya...eh ...ngga!]


Aini buru-buru membekap mulutnya yang kelepasan. Ilma yang ada di samping Aini memutar bola matanya jengah. Dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Aini yang sedang salting.


Ternyata bukan hanya Aini yang salting, Ikbal pun demikian. Ia merasa tersanjung mendengar pengakuan Aini. Bibir nya pun berkedut ingin tersenyum.


[Kangen juga nggak apa-apa Ai!]


[Ehem! Ngga kok biasa aja. Cuma dari tadi pagi ngga keliatan di rumah sakit]


[Masih ngga ngaku lagi!]


[Tau ah...]


[Pasti cemberut! Manyun tuh bibir kan?]


[Eh, ngga ya!]


Entah reflek atau apa, Aini menutup mulutnya sendiri.


[Ya udah, mas jemput bentar lagi!]


[Mana ada, masih tiga jam lagi kali kerjanya mas]


[Ngga apa-apa. Mas juga mau ada kepentingan di rumah sakit]


[Oh, ya udah. Hati-hati!]


.


.


.


Dia merasa ada yang mengawasinya di belakang. Saat ia menoleh, tak ada siapa pun di belakangnya.


Seberani apapun seorang Ikbal, tentu dia masih merasa takut dengan hal-hal semacam itu. Apalagi pengalamannya yang hampir mati karena sesak nafas yang tak jelas penyebabnya membuat dia semakin mawas diri.


"Astaghfirullahaladzim!", gumam Ikbal sambil memejamkan matanya lalu melangkah ke luar pemakaman.


Setelah di kavling depan, ia menjumpai beberapa orang yang sepertinya sedang menggali makam baru.


Ada sedikit kelegaan di hati Ikbal. Setidaknya dia bukan satu-satunya manusia yang ada di sana.


Ikbal menyempatkan diri mencuci tangannya dengan air mineral yang ada di mobilnya lalu membasuh wajahnya untuk sekedar menyegarkannya.


Setelah itu, ia langsung menuju ke rumah sakit di mana ia bekerja.


Diliriknya sebuah map yang ada di bangku penumpang sebelahnya. Map yang sudah ia siapkan beberapa hari lalu sebelum benar-benar menentukan keputusannya.


Kurang lebih empat puluh lima menit, Ikbal sudah sampai di rumah sakit. Jika biasanya karyawan rumah sakit melihat Ikbal dengan kemeja atau jas profesinya, kali ini sebagian dari mereka menatap kagum pada sosok tampan yang mengenakan stelan jas formal.


Sesekali Ikbal membalas senyum orang-orang yang menyapanya. Bukan ruang Dirut yang ia tuju saat ini, melainkan ruangan Aini.


Tampak dari kejauhan Aini sedang mengobrol dengan Ahmad. Sesekali keduanya terlihat tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya sangat seru dan akrab sekali hingga memantik rasa cemburu seorang Ikbal.


"Ai!", panggil Ikbal pada Aini. Aini dan Ahmad menoleh bersama-sama. Ahmad tersenyum tipis menghormati dokter yang bekerja di rumah sakit itu. Tapi sepertinya Ikbal yang sedang cemburu tak menggubris senyuman Ahmad.


'Nih orang tumben jutek? Salah gue apa?', batin Ahmad yang di dengar oleh Aini tentunya. Aini menoleh ke Ahmad dan Ikbal bergantian.


"Gue ke kantin dulu Ain, mau ngopi dulu! Mari... dokter Ikbal!", sapa Ahmad.


"Iya!", jawab Ikbal. Aini menarik tangan Ikbal ke tempat duduk yang ada di sana.


"Mukanya jutek banget mas, kenapa? Ada masalah apa?"


"Jangan deket-deket sama Ahmad atau cowok mana pun!", kata Ikbal.


"Cowok kamu posesif banget!", bisik sesemakhluk di samping Aini. Aini menoleh pada sosok itu hingga matanya membulat lebar.


Bukan Ilma yang ia lihat, melainkan mbak Kun yang pernah ia temui di awal ia memiliki kemampuan itu!


*****


Terimakasih 🙏


08.41