
"Tidak ada yang mencurigakan sama sekali Ai!", Ikbal terdengar putus asa.
"Kita periksa lagi Mas. Kalau tidak di chat, galeri mungkin panggilan terakhir atau apa?"
Ikbal mengutak-atik ponsel Ilma. Dia serius melihat setiap aplikasi di dalam ponsel tersebut.
'Giliran butuh, Lo ngga ada. Kemana sih Ilma? Kita udah dapet ponsel kamu!' teriak Aini dalam hatinya.
"Ngga ada apa-apa Ai!", kata Ikbal.
Aini pun mengangguk dan ikut menghela nafas seperti Ikbal yang duduk bersandar di dinding.
"Aku juga belum ada petunjuk apapun mas!", cicit Aini. Ikbal langsung menoleh pada gadis itu.
"Sudah, tidak apa-apa Ai. Mungkin kita memang butuh waktu lama untuk mencari tahu bukti yang di maksud!", Ikbal mencoba bijak.
Memang benar, seandainya jika Romi adalah pelakunya, Ikbal hanya bisa memenjarakan dirinya atau paling parah membuat nya lumpuh. Tapi....Ilma tetap tidak bisa kembali lagi bersamanya bukan???
"Oh iya mas, maaf! Aku ambilkan air minum dulu ya?"
Ikbal mengangguk tipis. Karena duduk nya di dekat pintu, Ikbal bisa melihat arah luar di mana masih ada beberapa polisi di sekitar kamar Risma. Sebagian penghuni yang kemarin sempat mengungsi pun nampaknya sudah kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Maaf mas hanya air putih!", kata Aini. Dia lupa belum membeli stok makanan.
"Terimakasih Ai!", sahut Ikbal.
Seperti biasa, Ilma seperti jailangkung. Datang tak di jemput pulang tak di antar. ya begitulah Ilma!
Ilma berbisik kecil pada Aini. Aini kontan memundurkan tubuhnya karena terkejut oleh ulah Ilma.
"Astaghfirullah!", gumam Aini.
"Sorry, kaget ya...?"
"Gak! Kemana aja sih Lo?"
"Ada urusan tadi dikit. Tapi ya ...udah clear sih!", jawab Ilma. Aini sendiri berdecak kesal.
"Kaya orang bener aja sih Lo Ilma!", bisik Aini.
"Emang bener kok!", jawab Ilma.
"Lo nyari di apaan?", tanya Ilma.
"Galeri, chat, panggilan...!"
"Ssttt...ngga di situ? Tapi dari rekaman. Lo liat aja di fitur rekam suara!", pinta Ilma. Aini pun mengangguk lalu ia mendekati Ikbal.
"Mas!"
Ikbal mengangkat dagunya. Perhatiannya teralihkan seseorang yang memanggilnya 'mas'.
"Kenapa Ai?"
"Fitur rekaman suara mas!", jawab Aini .
Ikbal pun mengangguk tanda mengerti. Dia membuka satu persatu rekaman di ponselnya.
Benar saja, ikbal mulai membuka satu persatu. Aini dan ikbal saling berpandangan ingin melihat isi dari rekaman percakapan di ponsel Ilma.
Keduanya berkonsentrasi sehingga setiap kata yang keluar dari benda pipih tersebut
memberikan bukti bahwa Romi adalah dalang dimana kecelakaan papanya.
Ternyata, Ilma sempat merekam suara yang cukup terdengar di balik pintu ruang kerja papanya. Dia sendiri juga tak merasa yakin akan selamat. Ilma berharap jika mereka akan ada buktinya hingga akhirnya ia temukan meninggal dunia di lokasi yang sangat tidak terduga. Tempat sampah!
"Begini sudah cukup jadi bukti membawa Romi ke jeruji besi?", tanya Aini. Ikbal menggeleng lemah.
"Siapa yang akan percaya Ai?"
Aini kembali buntu. Jika mereka melapor pada yang berwajib, itu artinya kasus yang sudah lama menghilang akan di angkat lagi.
"Kita coba dulu mas!", kata Aini. Ikbal tertunduk lesu.
"Mas Ikbal memang hafal suara itu milik Romi. Tapi polisi kan tidak? Kita bisa memberikan nomor atau tanggal yang tertera di dalam rekaman tersebut kan?"
Ikbal mengangguk.
"Apa Ilma di temui di hari yang sama?", tanya Aini. Lagi-lagi hanya anggukan kecil dari Ikbal.