
Ibas langsung pulang ke kediaman Rini. Tujuannya saat ini adalah kamar Ilma. Dia akan mencari tahu apapun petunjuk yang bisa dia gunakan untuk bukti jika papanya memang terlibat di sini.
Ibas mungkin benar, seorang penjahat kela***, tapi dia tidak akan setega itu menghabisi nyawa orang lain.
Kamar Ilma masih sangat rapi. Tujuannya yang pertama adalah sebuah lemari pakaian yang berisi beberapa pakaian Ilma dan juga seragam SMA mereka.
Sambil mencari-cari apa yang bisa ia jadikan petunjuk, Ibas justru bernostalgia dengan masa lalu nya saat bersama Ilma.
Gadis kecilnya terlalu menggemaskan!
Ibas mengambil sebuah boneka yang masih di simpan di dalam plastik bekas laundry. Sebuah boneka berbentuk beruang kecil berwarna pink sedang memeluk bantal love.
Ya, itu bantal cinta pemberiannya untuk Ilma saat gadis itu berusia tujuh belas tahun.
"Cantik! Aku kangen!", bisik Ibas sambil memeluk dan mengusap boneka tersebut seolah itu adalah Ilma.
Setelah puas memeluk boneka Ilma, Ibas beralih ke meja belajar Ilma. Foto Ilma dan Ikbal di bingkai foto minimalis berwarna hitam.
Lelaki berambut gondrong itu meraih foto itu. Nafasnya terdengar begitu lesu.
'Bagaimana kalo papa ku memang terlibat dalam kasus kamu cantik!', monolog Ibas.
.
.
.
"Kamu ngga tidur Ain?", tanya Nita yang baru pulang bekerja.
"Belum ngantuk gue!", jawab Aini.
"Tapi mata Lo udah merah Ain, jangan di paksa melek. Atau Lo lagi nunggu telpon dari mas dokter ya?", ledek Nita.
"Ngga Nit. Gue emang beneran belum ngantung sih."
"Ya udah, gue ganti baju dulu deh!", Nita pun masuk ke kamar mandi untuk bebersih.
Aini benar-benar menahan kantuknya. Dia sudah memejamkan matanya beberapa saat tadi. Tapi bayang-bayang dirinya berada di sebuah tempat asing membuatnya trauma untuk tidur. Terus...ngga butuh tidur gitu???
Nita keluar dari kamar mandi sudah dalam kondisi segar dengan piyama pendeknya. Gadis itu langsung merebahkan diri di kasurnya sambil memainkan benda pipih berwarna pink itu.
"Lo keliatan ngantuk banget Ain! Ya Allah???", Nita menggeleng heran.
"Tapi gue takut tidur Nit, takut ngga bangun-bangun seperti kemarin.Takut mimpi itu datang lagi.
"Ya tinggal berdoa aja sih Ai. Namanya juga mimpi, beda sama di dunia nyata yang bisa langsung balas kalo ada yang nyakitin. Tidur aja sekarang?!", pinta Nita pada sahabatnya. Dengan terpaksa, ia pun mencoba memejamkan matanya.
Nyatanya dia benar-benar ngantuk. Karena beberapa menit kemudian, dengkuran halus terdengar dari bibir Aini.
"Tuh kan?? Ngantuk aja di paksa melek Ain!", gumam Nita.
Setelah puas berselancar di dunia maya, Nita pun ikut merebahkan diri.
.
.
.
"Selamat datang kembali ratu ku!", kata seseorang yang duduk di sebuah singgasana.
Aini menganga tak percaya. Apa yang dia takutkan terjadi. Mimpi buruk dan sudah keluar dari alam mimpi tersebut.
"Mau kamu apa sebenarnya? kenapa kamu harus selalu hadir dalam mimpi ku?", tanya Aini.
"Karena kamu calon ratuku, gadis cantik?"
"Astaghfirullah, tolong ya... keluarkan aku baik-baik dari sini. Oke?", Aini mencoba memberikan penawaran.
"Baik-baik yang seperti apa?", tanya laki-laki yang sepertinya seorang pemimpin.
"Aku tidak pernah mengganggu alam kalian, jadi tolong jangan ganggu aku!", kata Aini.
"Sayangnya, aku tidak mau memenuhi keinginan kamu! Camkan itu!", kata Aini tegas. Dalam hatinya ia mencoba melafalkan banyak doa yang Aini mampu hingga perlahan ia bisa menguasai diri dan semoga bisa lepas dari alam mimpi tersebut.
*****"
Terimakasih! 21.10