
"Aku pamit pulang dulu ya Ai!",kata Ikbal.
"Langsung ke rumah sakit mas?'',tanya Aini.
"Iya!'',jawab Ikbal singkat.
"Hati-hati ya mas"
Ikbal tersenyum mendengar Aini mengucap kalimat sederhana tersebut.
"Bapak,Ibu. Ikbal pamit kerja dulu ya. Titip Aini!", ujar Ikbal. Lagi-lagi Aini di bua tersipu malu karena ucapan Ikbal.
"Ngga usah nak Ikbal bilangin juga bapak sama ibu pasti jagain Aini kok",kata BApak Aini menepuk-nepuk bahu Ikbal yang kokoh tersebut. Ikbal hanya menggaruk lehernya yang tak gatal karena bersikap absurb. Padahal Aini saja belum memberikan jawaban atas niatnya untuk serius dengan Aini.
Bapak mengantar Ikbal sampai di depan teras kamar Aini karena IKbal menolak untuk di antar ke depan oleh calon bapak mertuanya tersebut.
Lagi, saat ia melewati taman kost Aini, bulu kuduknya merinding tidak seperti biasnya. Dia merasa seolah ada yang mengawasinya. Tapi setiap ia menoleh, tidak ada siapa pun. Bahkan penghuni kost tersebut ta ada yang nampak padahal baru bada Isya.
Ikbal pun memasuki mobilnya. Tapi tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok yang terlihat di spionnya. Seketika itu ia beristighfar lalu menoleh ke belakang. Tidak ada sia pun. Dia memegang erat kemudinya. Apakah dia takut?
Jawabannya, IYA!
Tapi dia sendiri tak tahu apa yang ia takutkan. Bukan dia tak percaya ada dunia lain selain dunia ini. Hanya saja ia berkeyakinan bahwa tidak ada setan atau hantu yang memakan orang kecuali di layar kaca. Dia muslim meski belum taat sepenuhnya. Tapi selama ini ia selalu berusaha beribadah tepat waktu. Setidaknya ia percaya bahwa, Allah akan tetap menghargai umatnya sekalipun hanya ada keimanan sebiji zahra dalam hatinya. Tidak hanya tentang amal dan dosa saja.
"Astaghfirullah",gumam Ikbal. Setelah itu ia pun menyalakan mobilnya menuju ke rumah sakit. Dia akan mandi di ruang prakteknya karena ia juga sering menginap disana. Apalagi sejak Romi dn Ibas berada di rumahnya. Dia jarang tinggal di rumah. Kalau tidak apartemen, pilihannya ya rumah sakit.
Suasana hening di dalam mobil tersebut. Cuaca juga mulai gerimis syahdu. Beberapa kedaraan melintas di sebelahnya. Tak sengaja ia melihat motor Ibas berhenti tepat di sampingnya.
Ibas pun menoleh, menyadari jika itu mobil Ikbal. Ibas mengetuk kaca mobil Ikbal.
Tok
Tok
Tok
Ikbal pun membukanya meski germis mengguyurnya. Kedua pasang mata itu saling bersirobok. Ibas menatap Ikbal dengan penuh kebencian.
"Gue mau bicara sama Lo!", tukas Ibas.
"Gue ngga banyak waktu buat layanin ocehan lo yang ngga berfaedah!",kata Ikbal ketus.
Wajah Ibas memerah karena ucapan Ikbal tadi yang cukup menyakiti hatinya.
"Gue mau bahas Aini sama Lo!'', Ibas sudah terpancing emosinya. Dan akhirnya, Ikbal mengalah untuk berbicara dengan Ibas.
Ia menjalankan mobilnya mengikuti motor Ibas lalu berhenti di sebuah kafe yang cukup lengang. Ibas lebih dulu memilih tempat untuk duduk di bangku yang agak jauh dari pintu masuk kafe. Tak lama kemudian, Ikbal menyusul di belakangnya. Seorang pelayan menghampiri Ibas.
"Selamat malam Mas, mau pesan apa?'',tanya pelayan itu ramah.
"Ada lago?'',tanya pelayan tersebut.
"Sementara cukup mba!'',jawab Ibas.
"Baik mas, mohon di tunggu!", kata pelayan tersebut lalu meninggalkan Ibas dan Ikbal.
"Lo mau ngomong apa?'',tanya Ikbal pada Ibas.
"Aini!"
"Kenapa?',tanya Ikbal sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Jauhin Aini, dia masih cewek gue!'',kata Ibas. Ikbal tersenyum sinis.
"Gue ga level rebutan cewek. Tapi setahu gue, setelah apa yang lo lakuin sama dia, Lo udah bukan siapa-siapa buat Aini. Gue yang akan jaga Aini. Bukan makhluk bejat model Lo yang cuma mikirin ************!'',sarkas Ikbal.
"Lebih baik Lo diem, Lo gak tahu apa-apa soal hubungan gue sama Aini!''
"Ckkk...Lo pikir gue ngga tahu? Aini sudah menceritakan semuanya ke gue. Dan gue harap, Lo sadar diri. Ngga usah ngarepin Aini lagi. Karena gue udah minta langsung sama ortu Aini buat jagain dia!''
"Permisi mas, pesanannya!'', pelayan mengantarkan dua lemon tea untuk dua lelaki tampan itu.
"Terimakasih!', ujar Ikbal. Pelayan itu pun meninggalkan meja Ibas dan Ikbal. Entah karena emosi atau haus, Ibas langsung menghabiskan lemon tea tersebut.
"Gue yakin kalo Aini masih cinta sama gue!",kata Ibas penuh percaya diri.
"Ngga usah over pede deh Lo! Dia udah lupain lo!'',lanjut Ikbal lalu berdiri dari bangkunya.
"Sebenarnya lo punya dendam apa sama gue? Dulu, lo larang gue pacaran sama Ilma. Dan sekarang Lo mau rebut Aini dari gue!'', kata Ibas yang juga langsung berdiri.
"Pertanyaan bodoh! udah jelas Ilma itu dik tiri Lo. Lo macarin dia! Ngga punya otak emang Lo!'',Ibas meninggalkan meja Ibas begitu saja. Tapi baru berapa langkah, tiba-tiba Ibas merasa dadanya begitu sesak. Lehernya seolah ada yang mencekik. Ibas cukup terkejut tapi spontan dia menghampiri kakak tirinya.
"Lo kenapa ?'', tanya Ibas panik. Ikbal sama sekali tak menyentuh minumannya jadi Ibas tidak akan berpikir jika Ikbal keracunan.
"Akkhh...!'', nafas Ikbal mulai sesak. Antara sadar dan tidak sadar ia melihat makhluk menyeramkan yang mencekik lehernya. Dalam hati, IKbal merapalkan doa yang dia bisa. Sekelebatan bayangan Ilma muncul menatapnya dengan sendu, Ilma masih memakai seragam sma nya.
"Bal, lo kenapa? Ya Tuhan!", Ibas terlihat sangat panik. Kondisi kafe yang tak terlalu ramai membuat Ibas sulit meminta bantuan.
Perlahan kesadarn Ikbal menurun membuat Ibas semakin kalang kabut. Mau tak mau, ia membawa Ikbal kerumah sakit dimana ia praktek dan Ibas meninggalkan motornya di kafe tersebut.
********
Terimakasih
18.47