Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 29


Ikbal dan Aini sudah sampai di perusahaan milik keluarga Ikbal. Lelaki tampan itu disambut dan disapa dengan ramah oleh para karyawannya.


Aini hanya turut mengangguk tipis dan tersenyum seadanya saat ia juga di beri senyuman oleh para karyawan Ikbal.


"Sebenarnya mau apa ke sini mas? Apa fungsi ku di sini?", tanya Aini.


"Nemenin aku lah Ai!", jawab Ikbal.


"Nemenin apa? Aku ngga tahu pekerjaan mas di sini ngapain! Yang ada nanti malah aku cuma ganggu mas Ikbal!", kata Aini.


Ya, masih kecewa ternyata Ikbal tak memiliki perasaan apa pun padanya.


"Siapa bilang ganggu, kamu udah jadi penyemangat ku di sini. Dan besok di rumah sakit, penyemangat ku juga di sana!", kata Ikbal.


Aini tertegun mendengar ucapan Ikbal barusan. Kemudian, keduanya menaiki lift menuju ke lantai ruangan Ikbal.


Di lantai ruangan Ikbal, dia sudah di sambut oleh seorang perempuan cantik yang berpakaiannya seksi.


Pasti itu sekretaris nya, seksi cantik lagi! Batin Aini.


"Selamat siang pak Ikbal!", sapa perempuan itu ramah.


"Selamat siang Tiara, ada dokumen yang harus di tandatangani ya?", tanya Ikbal.


"Betul pak, sudah saya siapkan di atas meja anda!", jawab Tiara sambil tetap menyunggingkan senyumnya. Lalu ia pun membukakan pintu untuk Ikbal.


"Saya tinggal ke dalam dulu ya Tiara!", kata Ikbal.


"Silahkan pak!", kata Tiara sopan. Tapi Aini justru terdiam di depan meja Tiara. Tiara sendiri menjadi bingung kenapa gadis yang bersama bos nya menunduk terus.


Karena merasa Aini tak mengikutinya, Ikbal pun menoleh ke belakang. Dia menggeleng heran. Tangannya pun terulur menarik tangan Aini.


"Eh...???", Aini terkejut karena tiba-tiba di tarik ke dalam ruangan Ikbal lalu pintu itu tertutup.


"Kenapa?", tanya Ikbal pada Aini. Aini hanya menggeleng.


Ikbal mendudukkan Aini di sofa. Dia sendiri duduk di belakang mejanya. Tumpukan berkasnya sudah menggunung di atas meja kerjanya.


Ikbal mengevaluasi setiap pekerjaan Tiara. Ada yang dia tandatangani ada pula yang ia minta refisi.


Ikbal menoleh pada Aini yang menunduk dari tadi. Tangan gadis itu saling bertautan.


Pekerjaan Ikbal selesai tak sampai dua puluh menit. Dia pun menghampiri Aini di sofanya. Mereka duduk berhadapan yang terhalang meja.


"Ada apa Ai?", tanya Ikbal.


"Heum? Ngga mas!", kata Aini. Ikbal tersenyum tipis.


"Tiara sudah menikah, punya anak kembar. Ngga usah berpikir yang bukan-bukan!", kata Ikbal.


"Heuh? Aku...aku ngga tanya kok!", jawab Aini.


"Iya ngga tanya sih, tapi penasaran kan?", tanya Ikbal.


"Ih...ngga lah, lagian apa urusan nya sih? Kan mas Ikbal bukan siapa-siapa aku juga!", kata Aini.


"Demen amat kasih kode?!", ledek Ikbal pada Aini.


"Kode apa sih?", Aini semakin salah tingkah.


Tiba-tiba Ilma datang di antara mereka.


"Pacaran Mulu! Hp gue udah bener tau!", kata Ilma yang tiba-tiba muncul seperti hantu. Tapi emang hantu sih!


"Mas, ponselnya udah jadi belom. Coba telpon ke gerai hp itu!", kata Aini mengalihkan pembicaraan Ikbal.


Ikbal pun menuruti ucapan Aini, beberapa panggilan tak terjawab dari tukang service hp.


"Ya udah jadi. Ayok kita ke sana. Nanti aku antar pulang sekalian."


"Iya mas!", jawab Aini.


.


.


.


Ruby sedang berada di bengkelnya, Ibas dan teman geng nya berada di sana.


"Ganti oli bang!", kata teman Ibas. Ruby yang sedang mengecek kendaraan lainnya pun menoleh pada sosok laki-laki yang bergaya urakan tersebut.


"Iya, antri!", jawab Ruby. Sebenarnya ia malas menghadapi Ibas dkk. Tapi bagaimana pun dia harus ramah pada pelanggan.


Ibas ikut jongkok di depan Ruby.


"Lo tahu kalo Aini dekat sama Abang gue?", tanya Ibas. Ruby menghentikan pekerjaannya.


Menatap mata Ibas yang cekung.


Buta kali si Aini bisa bucin sama laki model gini!??! Batin Ruby.


"Ga tahu! itu urusan mereka!", jawab Ruby.


"Oh...!", sahut Ibas santai.


"Tapi gue tahu, Lo terlibat dalam kecelakaan Aini waktu itu! Hanya saja, Aini masih berbaik hati membiarkan Lo berkeliaran sampai sekarang!", kata Ruby berbisik takut terdengar oleh pelanggan lain.