Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 24


Ikbal mengantar Aini ke kantor polisi terlebih dahulu. Mereka berdua mengobrol banyak hal yang membuat keduanya tak lagi saling canggung. Tak lama kemudian, mobil mereka sudah berada di halaman kantor polisi terdekat yang menangani kasus bunuh diri Risma.


"Selamat pagi!", sapa Aini dan Ikbal pada petugas jaga.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu bapak ibu?", sapa petugas.


"Rekan saya ini tinggal di kost Xxx yang kemarin sempat ada kasus bunuh diri pak. Dan...dia ingin menyampaikan informasi pada petugas yang menangani kasus tersebut."


"Oh... baiklah, anda bisa bertemu dengan Aiptu Adi. Mari saya antar!", kata petugas. Aini dan Ikbal pun mengikuti petugas tersebut.


Setelah bertemu dengan Aiptu Adi, Ikbal dan Aini bersalaman.


"Dengan bapak dan ibu siapa?", tanya Aiptu Adi.


"Saya Ikbal pak, kemarin saya yang minta ijin masuk menemui rekan saya yang sakit saat anda sedang bertugas di TKP kost Xxx."


"Oh, iya. Dokter Ikbal?", tanya Aiptu Adi. Ikbal mengangguk pelan. Lalu Aiptu Adi menoleh pada Aini.


"Saya Aini pak!", kata Aini memperkenalkan diri.


"Ya, mba Aini ada yang bisa saya bantu?", tanya Aiptu Adi.


Aini tampak menghela nafas berat.


"Begini pak, saya tahu mungkin ini... tidak masuk akal. Tapi...", Aini menoleh ke arah Ikbal. Ikbal memberi kode dengan anggukan.


"Almarhumah Risma tidak bunuh diri pak. Melainkan di bunuh oleh seseorang!", kata Aini.


Aiptu Adi menatap heran pada gadis muda di hadapannya.


"Tahu dari mana anda?", tanya Adi.


"Eum... mungkin...bagi anda tidak masuk akal pak. Bagaimana pun juga, penyelidikan harus tetap berjalan bukan? Apalagi apa yang saya sampaikan pasti...di anggap tidak realistis!"


"Heum, tentu saja. Semua harus pakai logika, kami tidak percaya dengan hal-hal yang di luar nalar."


"Justru karena itu pak, saya sendiri juga takut nantinya saya malah terseret kasus yang bahkan saya tidak mengenal almarhumah sama sekali."


Aiptu Adi menghela nafas panjang.


"Apa yang almarhumah katakan pada anda?", tanya Adi pada akhirnya.


"Anda percaya pada saya meski saya sama sekali tidak mengenal dan bertemu langsung saat almarhumah masih hidup?", tanya Aini.


"Saya hanya mencoba untuk mendengarkan apa yang anda sampaikan...nona Aini!"


''Iya, anda benar. Tapi ...saya hanya menyampaikan apa yang almarhumah sampai. Jadi, Risma mengatakan jika saat dia pulang dari kampus ia akan melunasi sewa kost ke rumah induk ibu kost kami yang masih satu area dengan kamar-kamar kami."


Aiptu Adi masih mendengarkannya.


"Tapi...maaf pak, apa boleh yang saya ceritakan ke anda cukup berhenti di anda dulu? Saya takut nantinya hasil penyelidikan tidak sesuai dengan yang saya katakan?"


"Saya hanya akan mencatat poin-poin penting nya saja nona. Karena sejauh penyelidikan kami, tidak ada yang mencurigakan. Silahkan anda lanjutkan kesaksian anda!", kata Aiptu Adi kembali mempersilahkan.


"Jadi...saat Risma akan membayar sewa kost nya, tidak sengaja...dia melihat anak dan ibu kost sedang...euum...", Aini menoleh pada Ikbal. Dalam hati, Aini malu sendiri mengatakan hal tersebut.


"Sedang?", tanya Aiptu Adi.


"Mereka sedang berhubungan suami istri pak."


Aiptu Adi dan Ikbal mengernyitkan alisnya tapi Adi masih mencatat apa yang Aini sampaikan.


"Lalu setelah itu?"


"Kondisi kost kosong karena memang banyak yang tidak ada kost siang hari seperti itu. Dan...Risma meninggal bukan baru hari kemarin kan pak?"


"Menurut pemeriksa, korban meninggal sudah dua hari sejak di temukan."


"Iya pak, setelah Risma memergoki hubungan tidak sehat antara ibu dan anak itu, Risma memilih kembali ke kamarnya. Tapi...anaknya ibu kost mengejarnya dan...Risma di lecehkan!"


"Lalu?"


"Pelaku mempersiapkan segala sesuatu yang membuat Risma seolah-olah meninggal karena bunuh diri. Tapi... menyadari jika hidupnya tidak lama lagi, Risma meninggalkan barang bukti tapi entah apa itu. Dia meletakkan di bawah kasur."


Ikbal dan Adi yang sama-sama berpikir logis pun hanya memandang Aini.


"Jadi... menurut kesaksian eum... almarhumah Risma, pemilik kost pelakunya?"


Aini mengangguk pelan.


Aini diam, tak berkomentar.


"Maaf pak, masih ada perasaan polisi line di sekitar kamar Risma. Saya takut barang bukti itu hilang !'', kata Aini.


"Bagaimana ya... sebenarnya laporan anda cukup tidak masuk akal ,tapi saya akan mencoba memeriksa dan olah TKP."


"Alhamdulillah!", ujar Aini lega. Tiba-tiba saja Risma menampakkan dirinya di belakang Aiptu Adi. Hal itu cukup membuat Aini terkejut. Penampilan Risma benar-benar menakutkan meski ini siang hari. Perempuan itu mengangguk samar pada Aini, entah...apa yang di maksud oleh arwah itu.


Setelah pembicaraan usai, Aini bernama melamar pekerjaan ke rumah sakit di mana Ikbal praktek.


"Kamu yakin mau melamar pekerjaan di sana?", tanya Ikbal.


"Iya mas. Di coba aja dulu!"


"Kamu ngga takut?", tanya Ikbal sambil memicingkan matanya.


"Takut yang seperti apa ini? Darah? Hantu ?",tanya Aini balik.


"Between of both! May be!", jawab Ikbal.


"Bisa di bilang...iya sih mas. Tapi ...selain itu pekerjaan halal, tentu saja mulia kan mas? Karena...semua hanya menunggu giliran!", jawab Aini. Ikbal mengangguk pelan.


"Apa...Ilma menemui kamu lagi?"


"Heuh? Tidak atau tepatnya belum mungkin."


"Oh...!", Ikbal mengangguk pelan.


"Bagaimana dengan barang yang ada di bawah lemari hias, apa sudah mas Ikbal cek?"


"Belum. Tadinya...aku mau ajak kamu ke rumah mama. Tapi ternyata kamu sibuk hari ini."


"Maaf mas!", kata Aini lirih.


"Iya, ngga apa-apa kok. Aku off di rumah sakit tapi sebenarnya mau ke kantor almarhum papa. Ada pekerjaan di sana."


"Mas Ikbal ngurusin perusahaan papanya juga?", tanya Aini.


"Iya, tapi kan tidak setiap hari ke kantor. Aku lebih sering berada di rumah sakit timbang ke kantor."


"Owh...!"


"Atau...kamu mau melamar pekerjaan di kantor ku saja? Aku bisa beri kamu posisi apa pun yang sesuai dengan kamu."


"Bisa di coba sih nanti, yang penting liat dulu hasil lamaran sekarang. Kalo gagal baru melamar ke kantor mas Ikbal!"


Ikbal tersenyum tipis lalu kembali menatap depan.


.


.


Di kost Aini...


Polisi kembali berdatangan menuju kost yang Aini huni. Polisi memeriksa kembali TKP.. Sesuai dengan ucapan Aini, polisi itu membuka ujung kasur. Dan benar saja, ada sesuatu di bawah kasur.


Sebuah jam tangan dan lipatan kertas yang sedikit berantakan penulisannya. Antara terburu-buru atau gemetaran.


Polisi itu mengantonginya jam tangan dan kertas tersebut. Terlihat tulisan itu yang tak rapi dan terkesan terburu-buru bahkan ada bekas tetesan air yang mengering. Mungkin karena korban menangis sambil menulis.


Ia menceritakan persis seperti yang Aini katakan. Dan yang paling miris, tertulis di bawahnya. Jika nanti dirinya tidak ada, maka mereka lah pelakunya.


Saat sedang mendalami kasus, ibu dan anak pemilik kost pura-pura menyaksikan proses penyelidikan hingga setiap barang bukti yang kira-kira menunjukkan bahwa pelaku utama adalah anak ibu kost, di simpan oleh polisi untuk di periksa sidik jarinya.


Aiptu Adi yang memimpin penanganan kasus tersebut menoleh pada sosok ibu dan anak pemilik kost.


Sebagai lelaki normal, Aiptu Adi sampai merinding membayangkan Risma yang memergoki ibu dan anak itu berse****.


"Briptu Hari, Briptu Rani!"


"Siap!", sahut keduanya lalu menghampiri Aiptu Adi.


"Bawa tuan Aa dan nyonya CC ke kantor, katakan pada mereka untuk di mintai keterangan."


"Siap?", jawab mereka berdua. Sepasang ibu dan anak terpaksa ikut polisi ke kantor dengan dalih di mintai keterangan. Padahal bukti sudah jelas adanya jam tangan dan surat tersebut.


Tapi penyelidikan yang lebih realistis juga akan di lanjutkan.