
Aini membalas chat dari Ikbal yang menanyakan dirinya sudah makan siang atau belum.
Gadis itu pun beranjak dari kasurnya lalu membersihkan diri sebelum keluar dari kostnya. Jenuh! Yups, gadis itu jenuh selalu berada di ruang 3x3 meter tersebut sejak 'sakit'.
Setelah di rasa cukup layak untuk keluar rumah, dia pun bersiap untuk mengambil ponsel serta uangnya.
"Huffft! Mana cukup seminggu kalo tinggal segini?", monolog Aini.
"Minta aja sama kakakku, pasti di kasih!", celetuk Ilma yang tiba-tiba sudah nongol di belakang Aini.
"Astaghfirullah! Bisa ngga sih kalo datang tuh ngomong dulu??? Bikin kaget orang kok jadi kebiasaan!", kata Aini kesal.
"Yah...marah nih kakak ipar?!", ledek hantu cantik itu.
Aini melengos meninggalkan Ilma yang masih berdiri di belakangnya. Dia mengabaikan keberadaan Ilma.
"Dih, serius marah nih? Yakin ya mau denger info terbaru dari gue nih ...heum?", Ilma mensejajarkan dirinya saat Aini mengunci pintu kamar.
"Bodo...!", sahut Aini acuh.
"Heum, padahal gue harap Lo bisa bantu lho!", kata Ilma yang mengekor di belakang Aini.
Beruntung Aini mengobrol dengan suara hatinya, jika tidak...wah...pasti orang-orang yang tadi berpapasan dengan Aini sudah menganggap diri nya gila karena ngomel sendiri.
"Bantu apa lagi? Kan kasus Lo udah di serahin sama yang berwajib Ilma!"
"Iya, tapi ini bukan soal gue. Tapi kakak gue!", kata Ilma dengan suara penuh keyakinan.
Aini menghentikan langkahnya lalu menoleh pada perempuan cantik berwajah pucat itu.
"Kenapa sama mas Ikbal?"
"Penasaran juga kan Lo?", Ilma meledek Aini.
"Ngga usah ngomong deh! Males!", kata Aini mencoba abai.
"Ada yang mau celakain kak Ikbal lewat dukun!", kata Ilma. Aini menautkan kedua alisnya.
"Maksudnya?"
"Ada semacam sihir atau santet lah namanya yang di tujukan ke kakak dengan tujuan mencelakakan dirinya."
"Siapa yang melakukan hal seperti itu?", tanya Aini.
"Papa nya Ibas?", tanya Aini pada Ilma. Tapi Ilma tak menyahuti ucapan Aini. Entah lah...dua gadis itu seolah susah move on dari sosok bernama Ibas tersebut.
"Lo masih cemburu sama gue perkara Ibas nemuin gue kemaren?", tanya Aini.
"Mana ada setan cemburu!", sahut Ilma ketus.
"Oh...jadi Lo itu setan?", tanya Aini. Ilma mendelik tajam pada Aini.
"Tuh kan, malah melotot! Gue ga bakal balikan sama Ibas! Percaya sama gue!", kata Aini.
"Tapi hati Lo masih nyangkut sama dia. Hebatnya Lo juga kesemsem sama kakak gue. O my God! Apa itu namanya!", Ilma memutar bola matanya jengah.
"Gak lah!"
"Heum, semoga aja. Gue harap, Lo bisa bantu gue jagain kakak gue Ain! Om Romi ngga akan tinggal diam selama kak Ikbal masih ada."
"Gue bisa apa buat lindungi mas Ikbal? Lo sendiri tahu, gue aja ga bisa lindungi diri gue sendiri dari teror mimpi buruk itu!"
"Iya, ya...? Tuh raja jin demen sama Lo ya? Heran gue!", kata Ilma.
"heum, kenapa ngga Lo aja ya? Si hantu penasaran!"
"Ogah, urusan gue kelar gue ga bakalan gentayangan lagi. Gue bakal berada di alam yang semestinya!", kata Ilma dengan nada suara serius.
Aini pun langsung menoleh pada sosok hantu perempuan itu.
"Gue pasti bakal kangen keisengan Lo!", kata Aini. Ilma tersenyum tipis.
"Gue akan tenang kalo kak Ikbal udah punya orang yang bakal nemenin dia!", kata Ilma.
"Lo ngga peduli sama mama Lo? Andai om Romi di penjara, otomatis mama Lo sendirian!?"
"Seenggaknya dia bebas dari hubungan toxic dengan si Romi itu!", sahut Ilma datar. Aini tak melanjutkan pertandingannya berikutnya karena dia sudah berada di depan salah satu rumah makan yang tak jauh dari kost nya.
*****
Terimakasih 🙏
15.26