Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 47


Ikbal melajukan roda duanya membelah jalanan kota yang masih di padati kendaraan. Pikirannya kacau karena terlampau emosi setiap kali melihat wajah Romi.


Dimatanya, Romi adalah iblis berwajah manusia. Bagaimana tidak? Dia sudah merenggut kebahagiaannya. Dia mengambil paksa papa dan adiknya dari kehidupannya.


Jika kesempatan untuk membalas sakit hatinya dengan menghabisi Romi bukan lah sebuah kejahatan, pasti sudah ia lakukan sejak ia tahu bahwa Romi lah dalang di balik semuanya.


Aini mengusap bahu Ikbal saat lelaki itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Setelah itu, barulah Ikbal mengurangi kecepatan kendaraannya. Di traffic light roda dua itu berhenti.


"Aku aja yang bawa motor nya mas, aku ngga mau kita kenapa-kenapa karena kamu kurang fokus."


"Tapi Ai...!"


"Percaya sama aku mas!", ulang Aini. Ikbal pun pasrah bertukar posisi. Aini yang memegang kendali motor matic besar itu. Alhasil, Ikbal yang bonceng di belakang.


Aini mulai melaju perlahan dan hati-hati. Tidak terlalu pelan juga tidak terlalu cepat. Ikbal agak bingung dengan posisi sekarang. Akhirnya ia memegang kedua bahu Aini. Tidak mungkin bukan jika dia memeluk Aini dari belakang???


Tak berapa lama, motor matic itu sudah berada di depan kost Aini. Keduanya pun turun.


"Mau mampir dulu mas?", tanya Aini basa basi sebenarnya. Tapi ternyata Ikbal malah mengiyakannya.


Salah siapa???


Dan ya.... keduanya pun berjalan menuju ke kamar Aini. Nita sepertinya belum pulang. Mungkin kebagian shift malam.


"Minum dulu mas!", Aini menyodorkan segelas teh manis hangat. Mereka duduk di depan kamar alias di teras kamar.


"Makasih, Ai!"


Ikbal pun meminum minuman hangat tersebut.


Aini mengeluarkan ponselnya yang berisi rekaman suara Romi tadi. Beruntung, Romi itu cadel. Jadi Aini bisa memastikan jika suara di ponsel Ilma sama dengan yang tadi ia rekam.


"Ini hp ku mas. Isi rekaman suara om Romi sudah tersimpan."


Ikbal pun meraih ponsel itu tapi tidak sengaja justru tangan Aini pun ia sentuh. Kedua pasang mata itu saling bertautan beberapa detik. Tapi Aini segera menarik tangannya. Sayangnya dia kalah cepat dari Ikbal.


"Kenapa?", tanya Ikbal. Aini menggeleng.


"Ngga apa-apa mas!", jawab Aini.


"Apa kamu marah soal di rumah tadi? Yang bilang.... kamu calon menantu mama?" tanya Ikbal.


"Jadi?"


"Jadi apa?", Aini tremor. Dia sudah cukup dewasa untuk memahami ucapan Ikbal dan sejenisnya.


"Jadi, kamu mau ngga jadi menantu mama?",tanya Ikbal.


"Maksudnya?"


"Ngga usah pura-pura ngga tahu Ai! Kamu paham maksud ku!"


"Aku beneran ngga tahu mas!"


"Oke, kalo aku bilang ke kamu gini. Aini, kamu mau jadi istri ku kan?", tanya Ikbal. Pipi Aini merona.


"Tuh kan, pipi kamu merah. Udah deh, bahas lain kali saja. Kita bahas kasus Ilma dulu."


Aini pun mengangguk setuju. Keduanya menyalakan ponsel Aini dan ponsel Ilma bergantian. Mereka mendengarkan dengan seksama.


Seperti biasa, Ilma muncul dan duduk di antara dirinya dan Ikbal.


"Jangan keseringan berduaan, nanti yang ketiga setan!", bisik Ilma pada Aini. Aini menatap tajam pada sosok Ilma yang cekikikan.


"Kan Lo setannya, Ilma!", batin Aini sambil terus melotot pada hantu itu.


"Ya....ya.... mending jadian aja deh kalian berdua!", ledek Ilma.


"Apaan sih Ma, kita lagi fokus ngurusin lo tahu ngga. Bukannya Lo udah nangis Bombay tiap hari? Dah lah, mending Lo terima beres!", kata Aini masih dalam hatinya.


"Kalo masalah gue kelar, gue ga ketemu lo lagi dong? Calon kakak ipar!"


"Diem Lo Ma. Ide gue sama kakak Lo udah berhasil. Tinggal menunggu kapan bukti-bukti itu lengkap dan di serahkan pada pihak berwajib."


"Huum, gue percaya sama Lo , Ai!", kata Ilma. Aini mengangguk sambil tersenyum. Ikbal menyadari, pasti Aini sedang berada di dunianya yang hanya dirinya lah yang tahu. Tapi karena sudah terbiasa, Ikbal pun mengabaikannya. Seandainya memang bertemu dengan adiknya, Aini pasti akan bercerita.


**"""


21.05


terimakasih 🙏