
Kendaraan yang Ikbal dan Aini tumpangi melesat lincah membelah jalanan ibukota yang padat di jam kerja seperti sekarang ini. Beruntung Ikbal membawa motor, seandainya dia memakai mobil saat menjemput aini tadi sudah dipastikan keduanya akan terlambat.
Di lampu merah motor mereka berhenti. Keduanya tampak bercanda akrab. Tanpa keduanya sadari jika di sebelah mereka ada sepasang mata yang menatapnya benci. Dia adalah Ibas. Lelaki tampan dengan penampilan yang urakan tentu saja akan selalu di cap buruk dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.
Dulu lo larang gue deketin Ilma sampai gue kehilangan dia. Dan sekarang lo mau ambil Aini dari gue. Lo benar-benar ngajak ribut Ikbal!!!! Gumam Ibas.
Aini yang mampu mendengar suara hati orang lain pun menoleh ke samping. Benar saja, Ibas tengah memandangi dirinya dengan tatapan yang penuh emosi. BEruntung lampu hiaju menyala hingga kendaraan Ikbal melesat mendahului motor Ibas. Aini mengeratkan pegangannya di perut Ikbal yang memang melaju kencang agar segera sampai ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, keduanya berpisah di ruangan masing-masing. Ternyata Bambang dan Kholil sudah lebih dulu sampai di ruangan mereka.
"Asalamualaikum!', sapa Aini pada para penghuni ruanagn tersebut. Percyalah, tidak hanya Kholil dan Bambang yang Aini lihat. Banyak yang lain yang ada di sana.
"Walaikumalam!',jawab keduanya kompak.
"Mas Ahmad ngga masuk?",tanya Aini.
"Masuk ko! Lagi ke kamar mandi'',sahut Kholil. Aini hanya mengangguk tipis lalu duduk di bangkunya. Tak lama kemudian sosok yang baru saja di bicarakan sudah nongol.
"Nah, berhubung kalian sudah kumpul. Gue mau tahu semalam kalian ke mana sampai di cariin dokter Ikbal! Dia nelponin gue sama Mas Bambang!", tanya Kholil.
Aini dan Ahmad saling berpandangan. Mereka hanya sangsi apakah kedua rekannya percaya dengan apa yang akan mereka ceritakan pada kholil dan Bambang.
"Emang kalo aku cerita kalian akan percaya gitu?', tanya Aini.
"Kenapa ngga?', tanya Bambang.
Aini menghela nafasnya pelan.
"Semalam kan waktu kita pisah di perempatan, sempet gerimis kan?', tanya Aini.
"Gerimis dari mana? Yang ada panas banget mah iya!'',kata Bambang. Lagi-lagi aini dan Ahmad hanya saling bertukar pandangan. Mereka yakin kedua rekannya itu tidak akan percaya jika Aini dan Ahmad sudah melewati dimensi lain yang membuat mereka terdampar di kota lain hanya dalam hitungan beberapa menit.
"ya udah deh ngga jadi cerita kalo gitu!", aini ngambek.
"Eh, cerita dong Ain!', pinta Kholil.
Aini pun menceritakan pengalamannya dengan ahmad yang sudah nyasar sampai kota lain. Melewati hutan yang seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Dan segala kengerian yang hanya Aini dan Ahmad tahu rasanya seperti apa.
"Astaghfirullahaladzim'', gumam Kholil dan Bambang bersama-sama.
"Pengalaman yang tak terlupakan pasti!', kata Bambang.
"Gimana mau lupa mas! Di mobil bak menuju ke Jakarta aja mereka pada ikut", kata Ahmad.
"Mereka siapa Mad?', tanya Bambang.
"Itu, teman-temannya Aini.'
"Terserah lo aja dah!", sahut Ahmad. Tak lama kemudian ada yang memberitahu jika ada jenazah yang harus segera mereka urus. Alhasil mereka menghentikan obrolannya dan bekerja sesuai jadwal yang ada.
.
.
Ibas pergi ke bengkel Ruby. Meski keduanya tidak berteman dekat, tapi dulu mereka sering double date dengan pasangan masing-masing yang tak lain Nita dan Aini tentunya.
"Mas, ada temennya datang!', salah seorang karyawan Ruby memberitahunya. Ruby pun tampak abai dengan kehadiran bocah berandalan itu.
"Bang!", panggil Ibas pada Ruby. Ruby menoleh singkat.
"Apa?'',tanya Ruby.
"Aini pacaran sama kakak gue?'',tanya Ibas.
"Kayanya IYA. Lo keberatan?'',tanya Ruby.
"Tinggal jawab aja apa susahnya!", Ibas mulai ngegas.
"Kenapa lo ga tanya aja sendiri sama kakak Lo?', tanya Ruby balik. Lagi-lagi Ibas pergi dengan perasaan kesal dan tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
.
.
.
Ternyata jenasah yang diurus adalah seorang laki-laki lanjut usia. Jadi Aini tak turut mengurus jenasah tersebut. Tapi bagaimana pun, dia harus banyak belajar agar kedepannya semakin bisa.
Ditengah perhatian yang tertuju pada kegiatan ketiga rekannya, Aini dikejutkan dengan kehadiran Ilma yang selalu datang mengejutkan dirinya.
"gue ngga mau tahu ya Ai! Lo harus secepatnya ngurus gue!",kata Ilma merajuk.
"Insyaallah Ilma. Rencananya gue sama kakak Lo mau ke rumah lo. Semoga rencana kita berhasil dan lo bisa tenang!"
Ilma mengangguk seperti anak kecil. Dia udah lelah luntang lantung bertahun-tahun hingga ia menemukan sosok Aini yang akan berusaha membantunya.
*******
Terimakasih
22.36