
Nita pulang sekitar jam sepuluh malam. Jika shift malam memang ia selalu di jemput oleh Ruby. Lelaki itu terlalu khawatir jika kekasihnya pulang sendiri di malam hari. Terlebih, jika ia ingat tentang kecelakaan yang menimpa Aini.
Aini sudah ia anggap seperti adiknya sendiri selain gadis itu adalah sahabat kekasihnya.
"Mas ngga mampir ya sayang!", kata Ruby sambil menerima helm dari tangan Nita.
"Heum, sebenarnya mas ngga usah repot-repot kalau aku pulang malem gini. Kasian kamu mas, udah capek di bengkel dari pagi di tambah jemput aku!", ujar Nita.
"Ngga repot kok sayang, ya udah masuk gih! Bestie kamu udah mimpi indah kayanya."
"Heheh tahu dari mana tuh bocah mimpi indah mas?"
"Tahu lah, dia pasti lagi berbunga-bunga. Ya... Alhamdulillah sih, dia udah move on dari Ibas!", kata Ruby.
"Perhatian banget sih sayang ku ini! Jangan bilang kalo kamu menaruh hati sama sahabat ku lho!", Nita mencubit hidung Ruby.
"Ngga lah sayang. Udah gih, masuk sana. Mas langsung pulang kok!", kata Ruby.
"Huum. Hati-hati mas!", kata Nita.
"Iya sayang. Udah sana masuk, kalo kamu udah masuk ke kamar mas baru pulang." Nita pun mengangguk cepat. Setelah itu, gadis itu pun melangkahkan kakinya menuju kamar nya bersama Aini.
Ruby memastikan kekasihnya masuk ke dalam kamar, baru lah ia pulang ke bengkelnya yang sekaligus menjadi tempat ia beristirahat.
Jika Ruby dan Nita pikir Aini tengah mimpi indah, kenyataannya justru sebaliknya. Aini mimpi buruk yang menurutnya sangat menakutkan.
Di dalam mimpi Aini ....
"Aku di mana?", tanya Aini.
"Di suatu tempat", jawab seseorang yang Aini pun tak kenal.
"Kamu siapa? Dan ini di mana? Bukankah aku tidur?", tanya Aini pada seorang laki-laki yang bertelanjang dada hanya menggunakan celana tanggung dan di lapisi kain.
Kenapa kaya jaman kerajaan ya? Tapi ...kok bisa basa Indonesian? Batin Aini.
"Di suatu tempat dimana kamu bisa melihat semua yang tidak berada dalam dunia mu!", jawabnya.
"Hah? Di mana ini? Apa aku mati ?", tanya Aini. Sosok tadi menggeleng.
"Hah....????", tanya Aini cengok. Lalu tak lama kemudian, Aini melihat sesosok laki-laki tinggi dan besar menghampiri dirinya.
Aini memundurkan tubuhnya.
"Aku... bagaimana cara aku kembali pulang dari sini? Ini bukan tempat ku!", kata Aini menggeleng cepat.
"Aku menyukai mu gadis kecil!", jawabnya.
Sosok menyeramkan itu mendekati Aini. Aini memundurkan tubuhnya perlahan. Lantunan ayat kursi menggema dalam hatinya.
Takut ! Itu yang aini rasakan. Jika dia dalam kondisi normal, mungkin dia bisa lari. Tapi ini???? Ini di dalam mimpi.
Ayo Aini, jangan takut! Kamu punya Alah Ai! Jangan takut! Aini menyemangati dirinya sendiri.
Lalu....
"Ai, Aini? Lo mimpi buruk ya? Bangun Ai!", Nita mengguncang bahu aini hingga akhirnya gadis itu terbangun.
Panggilan dari Nita seolah harapan yang menjadi kenyataan
Perlahan, Aini pun terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.
'' Minum dulu Ain?", Nita memberi segelas air putih yang memang di di nakas.
Nita mengusap dahi Aini yang berkeringat. Mendadak ia cemas jika Aini kenapa-kenapa. Apalagi dirinya pernah sakit parah hingga koma pasca kecelakaan waktu itu.
"Udah tenang Ain?", tanya Nita. Aini pun mengangguk pelan.
"Iya Nit, gue ngga apa-apa kok!", kata Aini.
"Ya udah, Lo istirahat deh. Gue mandi dulu." Aini pun mengiyakan dengan anggukan. Setelah meminum air putih lagi, aini pun melanjutkan tidurnya .Ia berharap jika mimpi itu tidak datang lagi.
****
23.28
Terimakasih 🙏🙏