Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 76


Ikbal memejamkan matanya sambil berdzikir dan berdoa dalam hatinya agar selalu di lindungi oleh yang maha kuasa. Dia menyadari imannya setipis tisu, tapi dia pun tetap meyakini jika Yang Berkuasa akan selalu melindungi hamba-Nya.


Sean yang menyadari jika bos nya sedang berdoa dalam hati, ia pun melakukannya. Di genggamnya kedua tangannya di depan dada sambil memejamkan mata.


Dia meminta perlindungan pada Tuhan agar di jauhkan dengan segala keburukan.


Perlahan, aroma itu pun seolah tertepis udara AC yang sengaja Ikbal turunkan temperaturnya.


Ikbal bersyukur setelah aroma itu benar-benar lenyap dari ruangan tersebut. Dari situ, Ikbal menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres.


Apakah ada yang ingin mengganggu ku lewat makhluk-makhluk seperti itu...?Batin Ikbal. Tapi ia tak menemukan jawaban apa pun dari otaknya.


.


.


.


"Ada jenazah perempuan Ain!", kata Kholil.


"Iya mas!", sahut Aini. Dia pun memakai sarung tangannya sebelum mengeksekusi almarhumah yang pasti Aini tak kenal.


"Di temenin Ahmad aja ya Ain!", lanjut Bambang.


"Siap pak!", jawab Aini dengan sikap hormat dan patuh pada seniornya. Ahmad dan Aini pun keluar menuju ke kamar jenazah untuk memandikan almarhumah.


"Ain!"


"Heum!"


"Lo masih di ganggu sama 'dia' ?"


"Alhamdulillah semalam di mimpi gue mah engga, tapi realnya....!"


"Apa?"


"Para istrinya nyamperin gue. Bilang gue di suruh terima pinangan suaminya itu."


"Mereka sama seperti kita? Menikah?", tanya Ahmad sambil berjalan ke arah kamar tersebut.


Sayangnya saat Ahmad berkata demikian, ada beberapa pekerja rumah sakit mendengarnya yang terdengar sangat ambigu.


Tapi namanya juga netijen ya kan??? Hal yang belum jelas saja sudah mudah merebak dengan mudah.


Aini dan Ahmad mengurus jenazah tanpa drama apapun. Alhamdulillah... mereka tak perlu melihat penampakan atau hal berbau mistis seperti yang sudah-sudah.


"Lo ikut sholati almarhumah?", tanya Ahmad pada Aini setelah mereka selesai melakukan segala prosedur.


"Eum, gue ambil wudhu dulu!", kata Aini. Ahmad pun mengiyakan. Dia memanggil dua seniornya untuk ikut sholat jenazah.


Ternyata ada pihak keluarganya juga yang turut hadir saat akan melangsungkan sholat jenazah tersebut.


Aini terkesima dengan barisan beberapa laki-laki yang ada belakang Ahmad. Tidak hanya ada Bambang dan Kholil. Melainkan beberapa lelaki yang Aini tebak adalah kerabat almarhumah.


Akan tetapi ada sesuatu yang membuat Aini terkesima. Bukan kerabat almarhumah yang jadi perhatiannya. Melainkan ada beberapa laki-laki juga perempuan dengan wajah bercahaya yang membuat Aini tak tahan menatap wajah mereka lama-lama.


Mereka siapa????


Aini bingung akan masuk shaf di mana. Jika di belakang keluarga almarhumah, di sana hanya ada kaum Adam.


Ya Allah, bukankah ini fardhu kifayah? Jadi tidak apa-apa kan kalau hamba tidak jadi ikut sholat jenazah? Batin Aini.


Jika dia ikut shaf belakang yang perempuan, tapi....orang lain hanya melihat dirinya yang jauh dari pintu ruangan itu. Apa kata mereka???


Setelah menimbang-nimbang keputusannya berakhir, Aini tidak ikut dalam sholat tersebut.


Ia langsung kembali ke ruangannya. Dalam hatinya ia terus bertanya-tanya. Kenapa bisa banyak sekali orang yang turut menyolatkan almarhumah?


Kebaikan apa yang almarhumah lakukan semasa beliau hidup...?


Tapi Aini yakin ,jika almarhumah adalah orang yang sangat baik. Terbukti jika 'dia' tak menampakkan wujudnya pada Aini tidak seperti yang sudah-sudah. Tapi bukan berarti 'mereka' yang sebelumnya bukan orang baik lho.


Aini mendapatkan pengalaman baru. Tak selamanya menjadi pengurus jenazah adalah hal yang menakutkan. Akan tetapi banyak pelajaran yang bisa ia ambil hikmahnya.


****


08.30


Terimakasih 🙏