Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 60


Ponsel Ikbal terus berdering saat ia membersihkan diri di kamar mandi ruangannya. Usai menunaikan shalat isya, Ikbal bergegas menuju ke ruang piket.


Lelaki itu merogoh ponselnya lalu tersenyum melihat beberapa missed called dari Aini. Setelah ia duduk di bangkunya, ia menghubungi Aini balik.


[Assalamualaikum, mas?]


[Walaikumsalam, aku ngga apa-apa Ai. Ngga usah cemas!]


[Tapi tadi Ilma bilang...]


Jadi benar, aku benar-benar melihat Ilma tadi? Tapi... Baga bisa?


[Apa yang Ilma katakan Ai?]


[Eum...]


[Aku sudah bilang apa pun yang kamu bilang, aku percaya!]


[Ilma bilang, ada sosok yang menyerang mas Ikbal. Tapi dia sendiri tak bisa membantu mas Ikbal]


[Iya, itu benar. Tapi sekarang mas baik-baik saja, beruntung ada Ibas yang membawa ku ke rumah sakit. Aku hanya butuh oksigen saja tadi, jangan cemas!]


[Ya Allah mas!]


Aini terdengar lesu.


[Hei, mas bilang jangan terlalu cemas seperti itu. Insya Allah mas baik-baik saja, pasrahkan sama yang kuasa]


[Iya mas]


[Ya sudah kamu istirahat, jangan bergadang!]


[Bentar lagi mas. Belum ngantuk. Lagian Nita belum pulang. Ibu sama bapak sudah ada di kamar mereka]


[Jadi, minta di temani sama calon suami mu?]


[Mas Ikbal jangan ngomong gitu ah!]


[Kenapa?]


[Ngga apa-apa. Ya udah mas Ikbal lanjut lagi aja piketnya takut aku mengganggu]


[Iya, tapi besok kalo aku ada waktu... kita ngobrol. Oke?]


[Iya mas]


Di lain sisi, Ahmad dan Kholil sedang mengurus jenazah seorang laki-laki muda. Keduanya tinggal menyolati sang jenazah.


Tapi saat keduanya selesai solat, tiba-tiba saja ada kejutan dari sudut lain. Kholil langsung lari tunggang-langgang meninggalkan Ahmad yang justru terpaku.


Apakah Ahmad takut? Tentu saja dia takut!


Sosok menyeramkan itu seolah ingin menunjukkan taringnya bahwa dia kuat. Tapi kenyataannya, kalimat-kalimat suci di dalam hati Ahmad yang melantun sempurna cukup menggetarkan makhluk tersebut.


Akhirnya, Ahmad sendirian di sana. No, ralat! Dengan para almarhum dan almarhumah.


Lelaki itu pun sudah mengerjakan sesuai prosedur yang berlaku. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


Tapi karena tidak tuntutan pekerjaan, ia harus melakukannya. (maaf jika kondisi di lapangan tidak demikian!!!)


Selesai berberes, Ahmad mempersilahkan anggota keluarga almarhum untuk di bawa pulang.


Ahmad kembali keruangannya. Di depan pintu, Kholil masih berdiri.


"Kenapa di sini?", tanya Ahmad pada Kholil.


"Takut gue, Mad!", jawab Kholil.


"Bukankah seharusnya kita sudah terbiasa melihat seperti itu?"


"Iya sih, Mad! Tapi sumpah, ini pertama kalinya gue liat begituan. Astaghfirullah, gue kira orang-orang tuh boong. Tapi ternyata....!"


"Udah lah, ngga usah bahas. Ganti baju, terus pulang! yuk!", ajak Ahmad pada Kholil.


Tapi ternyata, meski makhluk menyeramkan tadi sudah pergi, masih ada makhluk lain. Apa lagi????


Kholil dan Ahmad berjalan menuju ke parkiran khusus pegawai. Mereka menaiki motor masing-masing.


Saat motor Kholil keluar dari gerbang rumah sakit, justru Ahmad terjingkat kaget. Bagaimana tidak?


Ada sosok berbaju putih, berambut panjang yang tak beraturan duduk di belakang Kholil. Makhluk itu menoleh ke arah Ahmad yang spontan mengelus dadanya.


"Astaghfirullah! Begini sekali ya Allah. bukan aku tak mau menerima kelebihan di Mu. Tapi, aku merasa ini jadi beban untuk ku, ya Allah!", monolog Ahmad.


****


23.08


Terimakasih, Mon maaf kalo banyak typo atau kurang menarik! 🙏🙏🙏🙏