
Ibas datang ke kantor Romi. Di jam makan siang, dia dengan mudah menemui papanya tersebut di dalam kantin kantor.
"Pa!", Ibas tanpa basa basi menghampiri Romi yang sedang makan siang bersama rekannya. Romi pun menghentikan makan siangnya lalu menoleh ke arah putra semata wayangnya.
"Bas? Kenapa? Tumben cari papa?", tanya Romi dengan tatapan curiga.
"Aku mau bicara sama papa, tapi tidak di sini!", kata Ibas. Romi pun berpamitan pada rekannya lalu mengikuti langkah Ibas.
"Mau bicara apa kamu?", tanya Romi saat keduanya berada di tempat yang sepi.
"Papa jawab yang jujur!"
"Apa yang harus papa jawab jujur?", Romi mulai meninggikan suaranya.
"Papa terlibat dalam kasus pembangunan Ilma?", tanya Ibas untuk memastikan apa yang Aini katakan bukanlah sebuah kebohongan.
"Apa maksud mu? Waktu itu kamu pernah tanya seperti itu, harusnya kamu tahu jawabannya apa. Jadi untuk apa kamu mengulang pertanyaan yang sama!", hardik Romi yang tersulut emosi.
"Tapi jika bukti itu ada, bagaimana? Papa masih mau mengelak lagi? iya?", tanya Ibas nyalang.
Plakkkk!
"Lancang mulut kamu Bas!", bentak Romi.
Ibas mengusap bekas tamparan papanya. Ujung bibirnya berdarah sedikit.
"Kalau memang papa tidak bersalah, harusnya papa tidak semarah ini!", Ibas tersenyum sinis.
"Kamu sudah menuduh papa, bagaimana papa tidak marah!"
Ibas menggeleng pelan dan tersenyum sinis pada papanya.
Sekarang justru Romi yang tersenyum miring.
"Oh ya? Kamu lupa, siapa yang sudah mengangkat kamu dari lingkungan kumuh saat bersama mama kamu yang miskin itu? Hah? Sadar Bas, apa yang kamu pakai yang kamu nikmati itu karena papa. Lantas, dengan hanya sebuah tuduhan tak berdasar kamu bilang apa? Tidak akan pernah memaafkan papa? Bulshit!!"
"Tapi papa sudah memisahkan aku dan Ilma!", dada Ibas naik turun.
"Sekali pun gadis itu belum mati, kalian tidak akan bisa bersama. Kalian berada dalam ikatan keluarga yang tidak mungkin bisa bersama. Lagi pula, ada Ikbal yang juga menentang hubungan kalian. Kenapa kamu malah menyalahkan papa?", tanya Romi dengan entengnya.
Di sudut yang agak jauh, ternyata ada seseorang yang mendengarkan obrolan bapak dan anak tersebut. Dia meremas kedua tangannya menahan emosi yang siap meledak kapan pun. Tapi dia masih berusaha menahan diri agar bisa mengumpulkan informasi. Sekuat apapun dirinya mencoba menahan diri, air matanya meleleh mendengar percakapan antara Ibas dan Romi. Semua terasa seperti mimpi buruk!
"Ikbal memang tidak menyetujui hubungan kami, tapi dia tidak pernah memisahkan aku dan Ilma, apalagi sampai membuat Ilma benar-benar meninggalkan dunia ini!"
"Sssssttt...masih banyak perempuan di luar sana yang menunggu mu Bas, biarkan gadis kecil tak tahu diri itu ma**!"
"Papa!", bentak Romi dengan suara tinggi dan bergetar.
"Ibas, bukan saatnya kamu marah-marah tidak penting seperti ini. Gadis itu memang sudah di takdirkan mati. Jadi... lebih baik kamu tidak usah membahasnya!", Romi menepuk bahu Ibas lalu meninggalkan Ibas begitu saja. Tapi dia menyempatkan berhenti beberapa saat.
"Bukankah gadis yang Ikbal bawa ke rumah adalah kekasih mu sebelumnya? Ambil kembali apa yang jadi milik mu!", kata Romi berlalu dengan senyuman jahat terukir di bibirnya.
"Arghhhh!", Ibas berteriak memukul udara di hadapannya. Sosok yang dari tadi menguping percakapan mereka pun hanya menatap Ibas. Hanya dia yang tahu apa yang ia rasakan. Kehilangan, kekecewaan, marah dan sedih datang bersamaan tapi menyesal pun sudah tidak ada gunanya.
****
Terimakasih 🙏
12.13