Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 93


Nita memilih keluar dari kamar rawat Aini. Ia mendapati calon suaminya yang masih duduk di bangku yang tak jauh dari depan kamar Aini.


"Kirain mas Ruby udah pulang!", kata Nita.


"Belum ada perkembangan apapun?", tanya Ruby. Nita menggeleng lemah.


"Kalau seperti ini, mas merasa sangat bersalah sudah memberikan ide konyol buat kamu sayang!"


"Sttt... jangan bicara begitu mas. Kita tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya!", tukas Nita. Tadi dia pun di perlakukan seperti itu oleh ibunya Aini. Tidak di salahkan!


"Tadi Ibas di sini."


"Oh ya? Ngapain lagi dia? Ngga ada niat buat ganggu Aini kan?"


Ruby menggeleng.


"Dia sangat berbeda dari biasanya. Pas di tanya dia sakit apa, dia ngga jawab."


"Dokter Ikbal, tahu?"


Ruby mengedikan bahunya.


"Sayang, kalau Minggu ini Aini belum sadar juga apakah acara lamaran kita juga di undur?", tanya Ruby pada Nita.


Nita tak langsung menjawab. Justru suara seseorang mewakili Nita.


"Jangan menunda-nunda niat baik Nak!"


Seorang laki-laki dewasa keluar dari kamar Aini yang tak lain adalah bapaknya Aini.


"Bapak!", Ruby langsung bangkit. Lelaki dewasa itu menepuk pelan bahu Ruby.


"Jangan menunda-nunda lagi. Aini pasti bahagia kalo kalian akan menikah."


"Tapi kondisi Aini....", ucapan Ruby menggantung.


"Insyaallah dia akan segera sadar. Tadi, bapak sudah menghubungi salah satu teman bapak di kampung yang mengajar di pondok pesantren. Dia bilang ada temannya yang insyaallah mau mencoba membantu Aini."


"Alhamdulillah!", gumam Nita dan Ruby bersamaan.


"Tadi, Ibas juga sempat memberikan ide seperti itu Pak!", kata Ruby.


"Nak Ibas? Dia di mana?"


"Sudah pergi pak, sepertinya dia memang sedang sakit."


"Ya sudah, bapak mau ke mushola dulu!", kata bapak Aini.


"Kami juga deh pak!", kata Nita. Yang juga di angguki oleh Ruby. Jadilah mereka bertiga menuju ke mushola rumah sakit.


.


.


.


Di dunia yang berbeda.....


Aini tengah duduk bersila melafalkan dzikirnya. Anak buah raja itu sudah berhasil menyeretnya kembali ke istana megah itu.


"Sampai aku keluar dari tempat ini!", jawab Aini dengan penuh keberanian.


"Dia menginginkan mu?!", kata sosok itu. Aini menoleh pada sosok yang jika di lihat seperti seumuran dengan Aini.


"Tapi aku nggak!", kata Aini tegas.


"Dulu aku pun sama seperti kamu, begini!", katanya. Aini mengerut kan alisnya.


"Sampai akhirnya, aku di sini tak bisa ke mana-mana lagi. Aku sudah menjadi budaknya."


"Kamu manusia seperti ku?"


Tak ada respon dari sosok itu.


"Jika kamu ingin benar-benar keluar dari dunia ini, seharusnya ada seseorang yang akan menolong mu. Dia harus memiliki mu seutuhnya, hingga raja tak lagi menginginkan mu karena sudah di miliki orang lain."


Aini mencerna ucapan sosok itu.


"Maksud kamu?"


"Atau....jika terlambat, kamu akan di jadikan selir ratu seperti yang sudah-sudah!", kata sosok itu lalu menyingkirkan diri dari hadapan Aini.


Banyak makhluk berpenampilan aneh berseliweran di hadapan Aini. Tapi mungkin karena sudah sangat kebal, Aini tak lagi merasa kaget dan takut.


"Apa maksudnya?", gumam Aini.


.


.


.


Seorang laki-laki yang terlihat sangat berwibawa mendekati tubuh Aini yang masih terpejam. Beberapa orang ada di dalam ruangan Aini.


Kedua orang tua Aini memutuskan untuk membawa Aini pulang ke kost mereka dan secepatnya akan membawa Aini ke kampung halaman.


Sosok laki-laki yang di panggil Ilyas pun mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan Aini yang tiba-tiba seperti ini.


Sebagai orang awam, mereka semua turut berdoa dalam hatinya masing-masing. Mendoakan kebaikan untuk Aini tentunya.


"Apa gadis ini punya kekasih?", tanya Ilyas. Semua mata tertuju pada Ikbal.


"Kenapa mas Ilyas?", tanya bapak.


"Insyaallah, kalau ada seseorang yang menikahi Aini, gadis itu akan bisa di bebaskan dari kondisi ini. Memang sepertinya tak masuk akal, akan tetapi...semoga cara ini yang tepat dan terbaik sebelum semuanya terlambat."


Semua tertegun mendengar ucapan Ilyas.


"Saya memang berniat menikahi Aini mas Ilyas!", kata Ikbal penuh keyakinan. Kini, semua mata tertuju pada sosok dokter tampan itu.


****


04.54


Terimakasih 🙏