Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 98


"Kasih minum dulu Ain, nak Ikbal!", pinta bapak. Ikbal pun reflek mengambil gelas di samping tempat tidur Aini. Mulut Aini yang sudah lama sekali tak difungsikan untuk makan pun masih kesusahan untuk membukanya.


Dengan telaten Ikbal menyuapi Aini meski banyak yang tercecer di dagu Aini. Aini hanya mengandalkan infus sebagai pengganti cairan selama ia belum sadar kemarin.


Ikbal mengusap bekas air di dagu Aini dengan tisu. Lelaki itu masih haru melihat pujaan hatinya kini sudah membuka matanya meski pandangannya masih sayu.


"Nak Ikbal, sepertinya bapak dan Ibu menemui para jamaah pengajian. Bapak ingin membubarkan acara pengajian ini, Alhamdulillah sudah selesai juga kan? Dan....Aini juga sudah sadar", kata bapak.


"Iya pak. Ikbal juga ikut bapak. Lebih baik, ibu yang menemani Aini dulu. Ngga apa-apa kan Bu?", tanya Ikbal pada ibu mertuanya.


"Iya, ibu yang jaga Aini. Titip salam pada mereka. Jangan lupa ucapkan terima kasih karena lewat perantara mereka juga, Allah kembali menyadarkan Aini!", kata Ibu.


Ikbal dan bapak pun mengiyakan. Lalu keduanya pun mendekat ke ustadz yang tadi memimpin doa. Setelah semua bubar, tinggallah mereka berempat di apartemen Ikbal.


"Tadi sore, ibu udah lap badan kamu Aini."


Ibu mengusap surai indah Aini. Mata tua itu terlihat mengembun.


"Ibu...!", panggil Aini begitu lirih.


"Iya nak, mau apa?", tanya Ibu penuh perhatian.


"Maaf!", kata Aini yang terlihat dari gerakan bibirnya.


"Sssst....jangan memikirkan apapun. Yang penting semua sekarang baik-baik saja Aini. Kamu jangan seperti kemarin lagi, ya?", ibu mengusap air mata yang meleleh di pipi Aini.


"Nita, Ruby?",tanya Aini lagi.


"Ruby sedang menjemput Nita. Insyaallah mereka akan ke sini nanti. Nak Ikbal mengijinkan Nita menginap di sini."


Aini tersenyum. Dalam hatinya, ia benar-benar ingin meminta maaf pada sahabatnya tersebut. Beruntung, dia masih di beri kesempatan untuk meminta maaf pada Nita.


"Ini, di mana Bu?", tanya Nita pelan bahkan sangat pelan.


"Kamar kalian, kamu dan Ikbal!", jawab Ibu. Aini terdiam. Badannya terasa pegal setelah berhari-hari bahkan sebulan lebih tak bangun dari posisi telentang seperti saat ini. Tak perlu di bayangkan, seperti apa rasanya persendiannya.


"Kami...."


"Kalian sudah menikah nak. Mungkin ini salah satu cara agar kamu bisa keluar dari sana!", ujar sang ibu. Aini terdiam beberapa detik.


"Mas Ikbal menikahi Ain Bu? Nita?"


"Nita juga sudah menikah nak, sama seperti kamu. Sederhana dulu, nanti rencananya kalian akan melakukan walimahan sama-sama."


Aini menarik bibirnya hingga menyunggingkan senyumnya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Muncul sosok Nita yang berlari menghambur ke Aini yang tengah berbaring.


Nita tak mengucapkan apapun. Hanya terdengar isakan dari bibirnya dan ia mendekap Aini begitu erat.


"Cengeng!", omel Aini sangat lirih.


"Lo yang bikin gue cengeng! Udah gue bilang, jangan kaya begini lagi. Ini yang bikin gue ngga tega ninggalin Lo Ain, hiks-hiks-hiks...!"


Aini menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Maaf!", kata Aini lirih. Terlihat Ruby di temani Ikbal masuk ke dalam kamar Aini.


Semoga setelah ini kamu akan selalu baik-baik saja Ain. Aku bahagia untuk mu, Aini!


Suara hati Ruby terdengar jelas ditelinga Aini. Aini hanya berharap, semuanya benar-benar akan berakhir dengan baik.


Hampir jam sebelas malam, mereka semua membubarkan diri. Tersisa Ikbal dan Aini di kamar mereka.


Ikbal membaringkan tubuhnya menghadap Aini.


"Terimakasih sudah berjuang ya sayang!", kata Ikbal di depan wajah Aini. Gadis itu cukup terkesima melihat dari dekat sosok lelaki yang sudah menikahinya di saat dirinya tidak sadar. Tapi setelahnya, Aini hanya mengangguk.


Tangan Ikbal terulur mengusap puncak kepala Aini sedang sikunya menahan bobot tubuhnya dengan kepala yang bersandar di headboard ranjangnya.


Tak ada obrolan apapun selain gerakan tangan Ikbal yang mengusap lembut surai indah Aini. Aini sendiri masih belum terlalu bisa banyak bergerak. Mungkin esok pagi, Ikbal akan melakukan treatment untuknya agar tubuhnya tidak kaku setelah tidur panjangnya.


Di tempat lain, sang raja murka karena tawanan nya sudah kembali ke dunia asalnya. Apalagi campur tangan sang ibu, membuatnya tak bisa lagi menarik Aini kembali ke alam ghaib itu.


Aini belum bisa memejamkan matanya kembali. Mungkin bosan atau takut jika akan mengalami hal buruk seperti sebelumnya.


Hampir tengah malam, Aini kembali di pertemukan dengan Ilma yang dia pikir sudah tenang di alam baru nya. Tapi ternyata tidak.


"Gue pamit Ain! Seperti kata gue sebelumnya, setelah Lo sama kakak gue. Gue baru bisa tenang pergi ninggalin dia."


"Lo yakin mau ninggalin gue?", tanya Aini dalam hati yang tentu saja Ilma tahu.


"Iya. Gue tahu Lo sama kakak gue akan saling jaga. Gue pergi!", kata Ilma melambaikan tangannya pelan dengan air mata yang meleleh di pipinya. Aini ingin sekali menggapai Ilma. Sayangnya dia tak mampu.


Sosok Ilma perlahan menghilang seolah tenggelam tertelan oleh dinding yang ada di hadapan Aini.


"Ilma!", panggil Aini sendu.


*****


12.53


Terimakasih 🙏