Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 105


Aini melafalkan doa-doa dalam hatinya. Sungguh, meski bukan hal baru melihat penampilan makhluk ghaib, dia tetap lah manusia yang memiliki rasa takut.


Di pejamkannya kedua mata lentik itu hingga sebuah usapan lembut di bahunya membuat ia terkejut.


"Astaghfirullah!", pekik Aini.


"Hei, kenapa Ai? Ada apa?", tanya Ikbal. Ikbal yang ternyata menepuk bahu Aini.


"Nggak apa-apa mas. Kaget aja!", jawab Aini gugup. Ikbal menelisik ke sekeliling dapur. Ia heran, kenapa dapur bisa seberantakkan itu. Tapi, Ikbal tentu tidak akan menyalahkan Aini begitu saja.


"Udah gini aja, malam ini mending kita makan diluar. Kita kencan, gimana?", tawar Ikbal yang tak mau mengecewakan istrinya.


"Tapi aku mau masak mas ..."


"Besok lagi bisa Ai. Ayok! Mau makan di mana? Kafe? Resto?"


Aini menggeleng.


"Warung pinggir jalan aja mas!", kata Aini yang segan berganti pakaian formal. Karena saat ini ia sudah memakai piyama. Jadi, dia hanya tinggal memasang hijab dan jaketnya.


Tak butuh waktu lama, keduanya keluar dari unit apartemen Ikbal dan memasuki lift.


Suasana sudah cukup sepi mengingat saat itu sudah lebih dari jam delapan malam. Ikbal mengirimkan pesan pada seseorang untuk membersihkan dapur yang tadi sempat berantakan.


Ikbal tak mengijinkan Aini untuk membereskannya dengan alasan dirinya lapar ingin cepat-cepat membeli makanan.


Padahal yang sebenarnya, ia meminta Sean mengirimkan orang untuk membersihkan apartemennya malam itu juga.


Sepasang suami istri itu memasuki lift. Hanya ada mereka berdua di kotak besi tersebut.


"Udah di pikirkan mau beli makan apa?",tanya Ikbal.


"Apa aja lah mas. Yang dekat dari sini, tinggal jalan kaki."


"Badan kamu belum fit bener lho Ai!", tolak Ikbal pelan tapi Aini bersikukuh untuk berjalan. Alhasil, Ikbal mau menuruti istrinya.


Di lantai sebelas, lift berhenti. Tapi saat lift terbuka, tidak ada siapapun di sana. Bahkan Ikbal sempat menahan pintu nya, takut jika ada seseorang yang menunggu lift sejak tadi.


Bagaimana tidak? Saat pintu lift terbuka, makhluk-makhluk aneh pun ikut bergabung dengan Aini di kotak itu.


Mereka ngga punya ilmu teleportasi apa ya? Masa ikut naik lift juga pas turun? Batin Aini tanpa menoleh ke arah makhluk-makhluk ghaib itu.


Gadis itu mengeratkan tangannya agar di genggam oleh suaminya. Ikbal sendiri sebenarnya merasa bingung, tapi melihat ketakutan Aini, Ikbal yakin jika ada sesuatu yang Aini lihat.


"Berdoa saja Ai!", pinta Ikbal. Aini mengangguk pelan. Untung di lantai bawah berikutnya banyak yang naik lift hingga akhirnya para makhluk ghaib itu tersisih dengan sendirinya.


Aini merasa lega setelah keluar, dia tak menjumpai mereka lagi. Tapi kelegaan itu hanya bersifat sementara.


Arwah dari orang yang kemarin bunuh diri itu pun menampakkan wujudnya yang gagah. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Aini. Gadis itu tidak menanggapinya.


"Huffft!",desah Aini.


"Kenapa Ai? Capek?", tanya Ikbal.


"Ngga lah mas. Cuma jalan sini doang mah kecil."


"Oh, mas pikir kamu kecapekan!", kata Ikbal. Aini mencoba kembali menoleh pada sosok yang bundir kemarin.


Dia masih berada di sana, dan dalam posisi yang sama seolah dirinya belum mati. Aini mengerjap pelan.


Sosok itu menggerakkan tangannya seolah dirinya sedang berbicara pada Aini. Aini menghela nafas beberapa saat.


"Aku cuma orang biasa, jangan ganggu aku!!", kata Aini dalam hati sekaligus melewati makhluk itu begitu saja.


****


Terimakasih


🙏


21.43