Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 81


Saat ini Aini dan Ikbal sudah sampai di unit apartemen Ikbal. Aini mendesah pelan saat sudah berada di dalam ruangan mewah tersebut.


Gadis itu menyadari perbedaan antara dirinya dan Ikbal yang terlampau jauh. Aini hanya orang kampung. Berbeda dengan Ikbal yang berasal dari keluarga berpendidikan.


"Kamu mau bersih-bersih dulu ngga apa-apa Ai. Itu kamar mandinya. Kalau mau kamar mandi di dalam kamar juga ngga apa-apa."


"Hah? Iya mas, kayanya aku bantu kamu masak aja!", kata aini.


"Ngga usah, kamu duduk aja kalo gitu. Aku yang masak. Oke?"


"Terus aku leha-leha gitu liatin kamu masak mas?"


"Hehehe ya udah ayok kalo mau masak bareng!", ajak Ikbal yang melipat lengan kemeja nya sampai siku.


Aini sempat terkesima melihat sosok tampan yang ada di hadapannya. Jika ia biasa melihat Ikbal tampan, kali ini ketampanannya berkali-kali lipat.


Aini tersadar dari lamunannya saat sebuah apron menempel di tubuhnya. Ikbal yang memasangkannya dengan pelan.


"Ngelamun apa sampe kaget kaya gitu?", bisik Ikbal di samping Aini. Wajah gadis itu bersemu merah karena malu.


Ikbal pun meninggalkan Aini yang terlihat masih salah tingkah. Kalau Ikbal ikut baper, yang ada mereka tak jadi makan.


"Ciye....yang salting!", suara gadis yang cukup Aini kenal berbisik di samping telinganya.


"Astaghfirullahaladzim, Ilma!", bentak Aini tapi dalam hati. Tapi wajahnya bergerak-gerak seperti orang yang berbicara.


"Ngaku aja Lo salting kan sama pesona kakak gue?"


"Apaan sih? Ngga ya?", tolak Aini.


"Ciye...yang udah mau di ajak pulang kampung. Mau di kawinin nih kayanya!", ledek Ilma lagi.


"Nikah Ilma, bukan kawin! Emang kucing!", sahut Aini ketus.


"Wkwkwkwk....gue dukung Lo! Jagain kakak gue! Awas kalo Lo CLBK sama Ibas. Gue bikin teror tiap hari buat Lo!"


"Ishhh...jahat amat! Teror aja noh om Romi yang jelas-jelas udah bikin nyawa Lo melayang."


"Bentar lagi! Kakak gue bisa di andalkan kok!"


"Sombong! Udah buruan sana, bantuin kakak gue. Jangan cuma jadi beban aja Lo! Tinggal makan doang, kagak mau masak!"


"Gue udah nawarin masak Ilma, kakak Lo yang nolak. Asal Lo tahu!"


Ilma memutar bola matanya dengan malas. Entah persahabatan macam apa antara dua gadis beda alam tersebut.


"Mau masak apa sih mas?",tanya Aini.


"Yang simpel aja Ai. Omlet sama cah buncis sapi."


Aini hanya mengangguk. Dia tak habis pikir kenapa dia bisa berada di situasi ini. Gadis itu mengambil alih sayuran yang sedang Ikbal pilih untuk di cuci.


"Ai!"


"Heumm?"


"Besok siang ikut ke kantor ya?"


"Aku kan kerja mas."


"Iya sih! Tapi ngga apa-apa deh! Bolos aja terus biar di pecat. Nanti kerja di kantor mas aja!", ledek Ikbal.


"Memangnya kalau aku kerja di perusahaan mas Ikbal, mas Ikbal bakal berhenti jadi dokter?", tanya Aini.


"Jadi dokter itu panggilan jiwa Ai, tapi jadi pengusaha itu amanah! Menurut kamu, baiknya gimana?", Ikbal balik bertanya sambil memotong cabai dan bawang untuk di tumis.


"Ngga usah muter-muter mas, langsung ke intinya aja."


"Selama aku bisa melakukan dua profesi bersamaan, kenapa tidak? Tapi aku akan selalu berusaha ada waktu, buat kamu??"


"Jadi bahas ke mana-mana deh!", Aini mencoba membuka diri pelan-pelan.


"Hehehe! Emang suka oleng kalo lapar!", sahut Ikbal.


"Ya udah tunggu nasinya mateng banget. Kasian udah lapar anak orang!"