Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Lelah


Tak sesuai prediksi. Ternyata siang ini tampak panas dengan menyisakan tetesan air dari dedaunan hijau. Sungguh pemandangan estetik yang luar biasa. Saat-saat seperti ini merupakan peluang bagi mereka para pekerja fotografer untuk mengambil angel suasana selepas hujan.


Ngapa jadi bahas kang-kang fotografer dah? Aneh kamu Lhu!


Jika kang-kang fotografer sibuk mengambil gambar, berbeda dengan Farhan. Ya iyalah beda. Farhan kan bukan fotografer. Farhan tengah sibuk bermain dengan spatula dan wajan penggorengan. Sendiri. Tentu saja sendiri, Anisa masih ngorok di kamar. Hahaha, canda ngorok!


Farhan harus tanggung jawab atas perbuatannya. Dengan senang hati ia meminta jatah pada Anisa hingga melupakan makan pagi/ sarapan. Jadi ia meminta pada Anisa untuk istirahat setelah membersihkan diri. Sejujurnya ia tak yakin makanan yang dibuatnya akan seenak masakan Anisa. Apa salahnya dicoba.


Kini saatnya sesi icip mengicip.


"Wleek! Asiiin! Udah lama gak masak, jadi gagukan," Gumamnya. Dilemparnya masakan yang baru jadi itu ke tong sampah. Ya ya ya, ia harus memasak ulang. Biarlah bahan masakan Umi habis jadi bahan percobaan Farhan.


"Lho! Kok dibuang makanannya?" Umi syok melihat Farhan yang membuang makanan dari wajannya.


"Mubazir Farhan," Sambung Umi.


"Hehehe, maaf Mi... Itu keasinan. Ditambah gula tapi malah gak karuan rasanya," Jawab Farhan dengan malunya.


"Anisa mana? Kenapa kok masak sendiri? Di meja-kan masih ada yang tadi pagi," Ujar Umi dengan panjang lebar.


"Pengen masak Mi, Farhan aslinya pinter masak kok Mi. Dulu pas mondok sama kuliah sering masak sendiri," Bela Farhan.


"Iya-iya, Umi percaya. Ayo sini Umi bantuin. Bakat kalau ditinggal lama ya gitu, sering ngilang," Ujar Umi.


"Hehehe, iya Mi," Farhan mengikuti intruksi Umi. Jadilah sang menantu masak bersama mertuanya.


.


.



Taraaaa!


Jadi juga akhirnya.


"Mantap Mi, kayaknya kalau ikut mastercheff bakalan menang Kira Mi," Celetuk Farhan memandang hasil masakan yang sangat menakjubkan.


"Iya, besok kita daftar berdua," Jawab Umi dengan gelak tawanya.


"Sana ke kamar. Tega banget anaknya Umi gak di kasih makan dari pagi," Ujar Umi dengan ekspresi marah yang dibuat-buatnya.


"Siap komandan!" Farhan berlari terbirit dengan nampan berisi makanan.


"Hati-hati Farhan!" Ujar Umi.


Cklek!


Sang empu yang dituju pun masih bergumul dengan selimut tebal. Senyuman terukir di wajah tampan laki-laki yang mendekat itu. Ribuan kali ia bersyukur rasanya tak cukup untuk membayar kenikmatan dan kebahagiaan yang ia peroleh selama ini.


Paras ayu nan manis itu telah menjadi pendamping hidupnya selama kurang lebih 4 / 5 bulan. Tak pernah sekalipun Farhan mengeluh selama ini. Meskipun belum ada malaikat kecil, Farhan sama sekali tak mempermasalahkannya. Biarlah itu menjadi urusan sang kuasa.


Terpenting ia dan sang istri telah berikhtiar. Selanjutnya biarlah menjadi urusan Allah. Toh kata dokter, mereka berdua sehat semuanya. Beberapa hari yang lalu Anisa dan Farhan sempat berkunjung ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan mereka.


.


.


Dielusnya perlahan rambut Anisa.


"Makan dulu," Ujar Farhan lembut setelah Anisa membuka matanya.


"Lemes Mas," Lirih Anisa.


"Senderan gih, Mas yang suapin," Ujar Farhan.


Uluh-Uluuuh. Siang ini Farhan begitu memanjakan Anisa.


"Kok masih panas? Tumben banget sarapan pagi kayak ini Umi," Tanya Anisa heran.


Jarang sekali, bahkan nyaris tak pernah Umi memasak menu seperti ini ketika sarapan.


"Ini baru masak yaang, gimana? Enak gak?" Tanya Farhan sesekali ia menyuapi dirinya sendiri.


"Enak siih,Umi kan memang jago masak," Jawab Umi


"Ini yang masak aku Yaang," Rengek Farhan dengan muka cemberutnya.


"Beneran?" Tanya Anisa seolah tak percaya.


"Iyaa, Mas yang masak,"


"Daebak!" Puji Anisa.


"Tapi dibantu Umi," Akhirnya ia mengaku.


Bersambung...