
Anisa kini tengah berada di dapur ndalem. Bersama dengan Wardah dan dua santriwati lainnya.
"Kita masak apa nih Nis?". Tanya Wardah pada Anisa. Mereka memang sama-sama baru sampai di dapur.
"Kok tanya aku sih? Yang biasanya bantuin ndalemkan kamu. Macam mana pulak ko ini". Jawab Anisa.
"Biasanya Umi yang memutuskan memasak apa. Tapi kali ini gak ada nitip pesan atau apa gitu". Jawab Wardah.
"Umi ada pesan dengan mbak-mbak tidak mau masak apa?". Tanya Anisa pada Mbak santri.
"Ndak ada Mbak Anisa, kami belum pernah ditinggal Umi lama sebelumnya". Jawab salah satu dari mereka.
"Mbak aja yang milih menunya. Kami bantu-bantu ajah. Hehehe". Jawab mbak santri yang lainnya.
"Kamu Nis yang milih. Kamu kan jago masak". Ujar Wardah.
"Jangan gitulaah...". Lirih Anisa tak terima jika disebut jago masak, walaupun sebenarnya memang benar.
"Pokoknya aku mau kamu yang mimpin acara masak kali ini. Gak enak nanti kalau Abah sampai nunggu masakan matang". Tegas Wardah.
"Saya setuju mbak!". Ujar salah satu santri.
"Saya pun". Jawab yang lainnya. Anisa hanya memutar bola matanya jengah. Wardah biang kerok ini mah.
"Ya sudah iya, ayo mbak ikut saya ambil bahan masakan. Oh iya, saya belum tahu nama kalian". Ujar Anisa.
"Saya Meli, ini Lisa, dan ini Janah Mbak". Ujarnya.
"Okee, ayo salah satu dari kalian bantuin Mbak ya". Ujar Anisa dengan senyuman ramahnya.
Mereka berebut ingin membantu Anisa. Mereka sepertinya begitu penasaran dengan istri dari Ustadz Farhan idola para santriwati. Akhirnya Lisa yang berhasil lebih dulu mengikuti Anisa.
"Emm, kita masak apa ya Lis? Benarkan? Namanya Lisa?". Tanya Anisa lembut.
"Iya Mbak, benar. Hehehe... Masak terserah Mbak Anisa saja deh". Jawab Lisa.
Anisa mengambil beberapa bahan masakan dan diberikan separuhnya pada Lisa. Ternyata Lisa diam-diam memperhatikan Anisa terus.
"Mbak Anisa kalau bicara lembut banget, cantik juga. Pantesan Ustadz Farhan kepincut. Mereka cocok sih". Batin Lisa.
"Lisa? Ayo ke belakang lagi". Ujar Anisa menyadarkan lamunan Lisa.
"Eh! Emm, i-iya Mbak". Jawab Lisa.
Mereka kini tengah berkutik dengan bahan masakan dan disulap menjadi menu makanan.
Perpaduan antara bakso, dan beberapa sayuran lainnya telah siap.
"Gimana? Kurang apa?". Tanya Anisa pada Jihan yang bertugas menyicipi makanan.
"Enak banget Mbak, udah pas!". Jawabnya.
"Beneran? Kamu gak bohong karena sungkan kan?". Selidik Anisa.
"Nggak Mbak, beneran. Udah enak banget". Kekeh Jihan.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kalian siapkan di meja makan ya, saya mau ke asrama dulu". Ujar Anisa.
"Mbak, kami dapat baksonya gak?". Tanya Jihan ragu.
Anisa tersenyum simpul mendapatkan pertanyaan itu. "Dapat, tenang aja". Jawab Anisa. Terlihat kelegaan di wajah mereka bertiga.
"Nanti kita makan sama-sama di depan asrama Mbak Anisa. Oke! Ajak Husna ya". Ujar Wardah.
"Yes! Makasih Mbak!". Jawab mereka dengan gembira.
.
.
.
Anisa menuju kamarnya, dilihatnya Mas suami dan Gus Hasan tengah berbincang-bincang dan terkadang tertawa bersama. Anisa menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum". Sapa Anisa.
"Wa'alaikumussalam". Jawab mereka. Anisa mencium tangan Farhan.
"Nanti ada 4 santri mau makan bareng disini Mas". Ujar Anisa pada Farhan.
"Kenapa?". Tanya Farhan heran.
"Wardah yang ngajak". Jawab Anisa.
"Adek ke dalam dulu Mas. Monggo Gus, di sekecaaken (dienakin)". Pamit Anisa dan berlalu ke dalam.
"Saya juga mau Nis, makan disini". Ujar Gus Hasan.
"Ngapunten (Maaf) Gus, nanti Abah sendiri makan di rumah". Ujar Anisa lirih.
"Abah pasti nungguin Umi. Tenang aja, biasanya gitu. Nanti siapkan untuk saya juga ya? Saya sekarang pamit dulu. Assalamu'alaikum". Pamit Gus Hasan dan berlalu.
"Gus mah bebas". Gumam Anisa dengan mandangi Gus Hasan memasuki ndalem.
"Huussh, gak boleh gitu. Harus ta'dzim". Ujar Farhan mengingatkan. Ia berdiri dan merangkul Anisa memasuki asrama pribadi mereka.
"Tadi Gus Hasan bilang kalau dulu adek sering bantuin beliau ya?". Tanya Farhan yang kini tengah duduk di sofa kamar dengan Anisa.
"Iyaa, cuma bantu-bantu sekedarnya Mas. Kalau ditimbali (dipanggil) Umi untuk membersihkan kamar beliau ya baru Adek bantuin juga". Jelas Anisa. Ternyata Gus Hasan suka ngota juga. Pikir Anisa.
"Beliau suka sama Adek lhoo, kenapa Umi dan Abah gak jodohin kalian aja ya?". Tanya Farhan sok-sokan berpikir. Mulai terlihat semburat kecemburuan di wajahnya.
"Mas pengennya Adek nikah sama Gus Hasan gitu?". Tanya Anisa sedikit emosi. Benar-benar lemes lidahnya Gus Hasan. Bisa-bisanya juga suaminya berfikiran seperti itu. Anisa tiba-tiba berdiri hendak meninggalkan Farhan.
Farhan mencekal tangan Anisa dan menariknya sehingga terduduk di pangkuannya.
"Bukan gitu, Mas bahagia banget bisa dapetin Adek. Seriuuzzzz!". Ujar Farhan dengan memeluk erat Anisa. Anisa sampai sesak dibuatnya.
Tok! Tok! Tok!
Anisa melepaskan rangkulan Farhan dan segera membuka pintu. Ternyata Wardah dan ketiga santri tadi sudah berada di sana dan sudah menyiapkan makanan dengan alas tikar.
"Kalian dari tadi disini?". Tanya Anisa kaget. Mereka kompak mengangguk, seperti telah dilatih saja.
"Kalian denger pembicaraan Aku sama Mas Faridz?". Tanyanya lagi.
"Mas Faridz siapa Mbak?". Tanya Lisa.
"Eh! Emm, ituu. Ustadz Farhan maksud saya". Ralat Anisa.
"Nggak Mbak, kami gak dengar apa-apa ". Jawab Lisa.
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, Gus Hasan mau ikut makan disini. Siapkan juga ya, Husna mana?". Tanya Anisa.
"Husna masih siap-siap Mbak, bentar lagi kemari". Jawab Meli.
"Tenang aja Nis, kamar kamu juga masih terhalang ruang tamu. Jadi aman, gak akan kedengeran. Yaaa, walaupun ruang tamunya kecil, tapi aman kok". Ujar Wardah.
Anisa melihat Farhan tengah tertidur di ranjang. Baru saja ditinggal, sudah tidur itu orang. Anisa menghampiri Farhan dan mencoba membangunkan. Farhan malah menarik tangan Anisa hingga terjatuh disisinya. Farhan langsung mengurung Anisa dalam pelukannya.
"Mas, kita ditunggu lhoo". Ujar Anisa mencoba melepaskan pelukan Farhan.
"KAK ANISA! AKU AJJ". Teriakan Husna terhenti melihat tingkah kakaknya dan kakak iparnya itu. Sialnya Husna tak sendiri. Ia masuk dengan Meli di sana.
Anisa segera melepaskan pelukan Farhan dan berdiri. Diikuti Farhan yang berjalan menghampiri adiknya.
"Kebiasaan, ketuk pintu dulu Adeeekkk!". Geram Farhan dengan menjewer telinga Husna.
"Addudududuh, sakit Kak, auuhh!". Teriak Husna.
"Apaan sih Mas! Jangan gitu ah!". Sanggah Anisa dengan melepaskan jeweran Farhan pada Husna.
"Kejam banget sih jadi kakak!". Ujar Anisa dengan mengelus telinga Husna yang terhalang jilbab.
"Gak papa kan dek? Sakit?". Tanya Anisa dan langsung memelototi Farhan. Tapi terlihat lucu bukannya seram.
Farhan melongo dibuatnya. Padahal ia tak sungguh-sungguh menjewer adiknya. Akal-akalan Husna saja ini mah. Sedangkan Meli? Ia hanya terbengong melihat adegan keluarga ini. Anisa yang menyadari adanya Meli pun segera menormalkan ekspresinya.
"Meli? Maaf ya, sudah berkumpul di teras semuakah?". Tanya Anisa pada Meli.
"Ssu-sudah kak". Jawab Meli.
"Ayo kita ke depan". Ajak Anisa dengan menggandeng Husna. Farhan? Ia ditinggalkan di dalam kamar sendiri.
"Husnaaa, kamu mengajak kakak membuat api yaa". Batin Farhan. Gara-gara Husna ia jadi ditinggalkan Anisa.
Farhan mengikuti Anisa dan dari belakang dan duduk disamping kirinya. Jangan ditanya siapa samping kanannya. So pasti Husna.
"Maaf lama, tadi ada urusan bentar". Ujar Anisa setelah duduk.
Di teras ini telah berkumpul Anisa, Farhan, Husna, Faiz, Wardah, Gus Hasan, dan ketiga santri tadi. Oh, satu lagi. Cak Ibil sudah pulang bersama Umi ternyata. Jadi Cak Ibil ikut bergabung disini.
"Lho, baksonya kuraang, ketambahan Cak Ibil". Ujar Wardah.
"Cak Ibil makan ini saja. Aku biar sama Husna". Ujar Anisa.
"Nggak-nggak, Kamu sama Mas ajah". Sanggah Farhan hendak menyuapi istrinya.
"Eh! Tunggu dulu Mass, sama-sama dong. Nanti Mas gak kenyang, kalau adek sama Husna kan sama-sama dikit makannya". Ujar Anisa menolak suapan Farhan. Mereka malah debat berdua. Sepertinya lupa jika di sana ada banyak orang. Hahaha.
"Husna tu makannya banyak Yaang, kamu sama Mas ajah... Yaa?". Bujuk Farhan.
"Ehem!". Gus Hasan berdeham mencoba menyadarkan mereka. Anisa dan Farhan diam seketika.
"Ya udah iyaa". Akhirnya Anisa mengalah.
Faiz dan Husna geleng-geleng kepala melihat kakak mereka. Sedangkan Meli dan kawannya terkikik melihat fenomena langka ini. Ustadz Farhan ternyata bucin istrinya. Hahaha.
Wardah dan Gus Hasan hanya menunjukkan ekspresi datar mereka saja. Cak Ibil, ia hanya memaksakan senyumannya. Hahaha.
.
.
.
.
Malam ini Anisa dan Farhan tengah bersiap untuk acara di ndalem. Mereka tadi sempat bertemu Umi dan minta untuk berdandan. Ntah apa maksudnya Umi. Yang terpenting kini Anisa dan Farhan mengikuti perintah.
Mereka berdua sudah siap dengan outfit handalan mereka. Mereka segera menuju ke ndalem.
Tunggu! Kenapa ramai sekali di halaman rumah pimpinan? Seluruh santri seolah-olah tengah berkumpul di sana. Antara santriwan dan santriwati hanya dipisahkan oleh papan sekat atau satir. Anisa dan Farhan berdiri mematung di depan pintu asrama mereka. Mereka kini menjadi pusat perhatian! Apa akan ada acara? Seperti nobar (nonton bareng) mungkin?
"Monggo Mbak Anisa dan Ustadz Farhan sudah ditunggu Abah dan Umi di dalam". Ujar salah satu santri menghampiri Anisa dan Farhan. Ia tidak hanya sendiri, melainkan ada 7 orang temannya dengan mengenakan baju seragam. Jika melihat pawakannya seperti santri senior.
Anisa dan Farhan mulai melangkah menuju ndalem. Para santri tiba-tiba menyenandungkan sholawat "Thola'al Badru" untuk mereka.
"Ini ada apa Mas?". Tanya Anisa lirih dengan terus berjalan beriringan.
"Mas gak tahu". Jawab Farhan tak kalah gugupnya.
Sesampainya di teras ndalem, terlihat dari kaca jendela yang terbentang, sebuah dekorasi sederhana di dalam.
Umi dan Abah keluar untuk menjemput pengantin itu. Anisa mendekati Umi dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Umi menyambut pelukan Anisa.
"Sudah sejak lama Umi ingin merayakan pernikahan anak Umi yang satu ini. Umi baru mewujudkannya sekarang Nak. Maaf jika hanya sederhana". Ujar Umi.
Anisa menggeleng tak setuju dengan ungkapan perminta maafan Umi.
"Anisa sangat bersyukur memiliki sosok panutan seperti Abah dan Umi. Anisa sangat bersyukur saat Umi dan Abah menyayangi Anisa seperti anak sendiri". Lirih Anisa tak lepas dari isakannya.
Para santri pun terenyuh melihat pemandangan super langka ini. Gus Hasan mendekati Farhan, dan,
"Gua dulu memang sempet suka sama Anisa, setelah gua tahu Umi sangat sayang dan menganggap Anisa sebagai anaknya, rasa suka gua berubah menjadi rasa sayang terhadap adik sendiri". Gaya bicara Gus Hasan berubah 90° dari awal bertemu tadi. Farhan tersenyum kemudian memeluk Gus Hasan. Tak ada rasa canggung antara keduanya.
"Abah percaya sama kamu Farhan. Bahkan Abah lebih percaya jika kamu bisa membimbing Anisa dari pada anak Abah sendiri". Ujar Abah juga menghampiri Farhan.
"Matursuwun Abah, pangestunipun. Insyaallah Farhan akan selalu menjaga dan membimbing Anisa dengan baik". Jawab Farhan dengan mencium tangan Abah. Gus Hasan hanya cemberut mendengar penuturan Abahnya sendiri. Bisa-bisanya Abah lebih percaya Farhan.tapi ia tak benar-benar tersinggung kok. Hahaha.
Anisa dan Farhan digiring menuju pelaminan sederhana karya mbak-mbak santri. Mulailah rangkaian acara dimulai. Perayaan ini dihadiri oleh seluruh penghuni pesantren mulai dari pekerja biasa hingga para Asatidz.
Acara perayaan ini pun tak luput dari kebucinan Farhan terhadap Anisa. Ia gencar memamerkan kemesraannya pada para santri. Tapi masih ditahap yang wajar yaa! Gak neko-neko. Para santri dibuat meleleh dengan perhatian Farhan terhadap Anisa.
Bersambung....
Gaessss, lhu-lhu udah up buuuaaanyaaaak bangeeeettttt....
Ini termasuk crazy up yaaaa!!!!
Selamat membacaA 😘😘😘
Lhu-lhu punya cerpen Rek, kalian baca yaa!
Pliiissss!
Lhu-lhu minta hadiah + Vote + like +Komen + share yaa...
Aku nulis carpen itu dengan penghayatan yang luar biasa gaeeesssss!
Baca ya! Baca ya! Baca ya!
Pliiiisssss.....
Sayang kalian Reeekkkk!
Muuaaahhhh! 😘😘😘😘