Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Husna Pinisirin


Awalnya Farhan akan mengambil hari yang sama untuk keberangkatannya bersama Eza. Tapi Wardah dan Eza masih ada kerjaan yang harus diselesaikan di kantor mereka. Jadilah kini Farhan berangkat terlebih dahulu.


Anisa dan Farhan berada di lantai yang sama dengan Eza dan Wardah. Farhan sudah memboking untuk dua sejoli itu. Sengaja disetting memesan 2 kamar yang bersebelahan. Sedangkan Anisa dan Farhan di kamar sisi Wardah.


Farhan harus mampu membantu Eza untuk meluncurkan aksinya. Kalau sampai gagal, ia tak tahu lagi harus membantu dengan cara apa. Untuk keluarga yang lain dipesankan pada hotel yang sama. Hanya saja bangunannya bersebelahan. Jadi tak jadi satu.


View kamar yang menghadap langsung pada pantai dan bukit nan hijau menjadi nilai plus bagi hotel ini. Mengingatkan dengan masa-masa mereka berbulan madu dulu. Anisa kini tengah menikmati pemandangan itu melalui balkon kamar mereka. Tak terasa lelah sama sekali selama perjalanan. Farhan yang telah selesai membereskan barang bawaan mereka, segera menyusul sang istri. Memeluknya dari belakang sembari mengelus lembut perut buncitnya.


"Nggak terasa ya Yank, sebulan lagi kita bakalan ketemu si kembar," ujar Farhan sembari menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri. Anisa memang tak memakai jilbab kali ini. Tenang netizen, di sisi pemandangan ini tak ada orang lain kok. Jadi aman jika Anisa membuka jilbabnya.


Kok bisa?


Ya bisalah! Kan yang buat cerita Lhu-Lhu 😂😂


.


.


Setelah membereskan baju-bajunya, Husma memilih untuk berjalan-jalan di pantai. Meninggalkan Bunda sendiri di kamar. Karena memang ia satu kamar dengan Bundanya. Husna duduk dengan menekuk kakinya menghadap pada lautan lepas nan indah itu.


Lusa ia akan bertemu dengan laki-laki pujaannya. Apa yang harus ia lakukan ketika berhadapan dengannya? Ia terkikik sendiri membayangkannya. Tujuannya ikut adalah untuk melihat dia. Ntahlah, bisa-bisanya ia terlalu mengagumi orang itu.


Kali ini Husna membuka sisoal media Eza kembali. Memandangi tiap foto itu. Hingga scroll-annya terhenti kepada postingan orang-orang yang mengetag Kak Eza dan Kak Wardah. Ada banya sekali.


"Ternyata Kak Wardah sekarang jadi presenter?" gumamnya.


Beberapa postingan Wardah yang tengah berjan berdua, di mobil berdua, hingga sosok wanita dan laki-laki abg yang berbelanja bersama. Husna tahu itu ibu dan adik Eza. Karena ia sempat melihat foto keluarga Eza.


Captions-nya itu, yang membuat dada Husna seolah bergemuruh. Rata-rata mereka menyorotkan kedekatan antara keduanya.


"Kenapa aku jadi ingin kembali ke rumah saja,"lirihnya lagi.


...****************...


Sore hari di pantai memang sangat menyenangkan. Apalagi dengan adanya pancaran sunset di ujung laut lepas itu. Anisa kini tengah berjalan-jalan bersama Farhan di sekitar bibir pantai. Kata Bunda, Anisa harus sering olah raga berjalan. Agar persalinannya nanti lancar. Jadilah kini Anisa berjalan-jalan, dengan kaki telanjang menapak pasir-pasir halus dan sesekali terkena sapuan air.


"Husna!" panggil Farhan.


"Ooyy!" jawab Husna yang memang jaraknya lumayan jauh.


"Sini dulu!"


Husna berbondong-bondong berlari mendekati kakaknya.


"Fotoin Kakak," dengan muka tanpa dosanya Farhan menyuruh Husna untuk mengambil gambarnya bersama Anisa. Jangan ditanya bagaimana wajah Husna kali ini. Ia sudah memasang wajah masam sedari tadi.


Anisa yang tak tahu apa-apa hanya terkikik melihat tingkah kakak dan adik itu. Mulailah Farhan mengambil pose di belakang Anisa, memeluknya dari belakang. Sabar ya Husna, jomblo mah ngalah...


.


.


.


"Waalaikumsalam, maaf dengan siapa ya?" jawab orang itu dan bertanya kembali.


"Kak Eza? Ini Husna," ujar Husna lirih. Husna ternyata sempat mengirimkan nomor Eza ketika tadi memegang gawai kakaknya.


"Oh, iya dek? Ada apa? Ada yang bisa dibantu?" tanya Eza.


"Ndak kak, cuma mau tanya, Kakak jadi ikut Kak Farhan liburan?" tanya Husna lirih.


"Insyaallah jadi dek, besok insyaallah berangkat," jawab Eza.


Bingung! Itulah yang dirasakan Husna. Ia bingung hendak membicarakan topik apa lagi. Tapi ia masih ingin berbincang dengannya.


"Udah siap semua? Yang itu kita cari aja nanti di supermaket! Oh ini, Husna, nanyain kita berangkat kapan," seru Eza diseberang telepon. Bukan untuk Husna tentunya.


"Husna?" panggil Eza.


"Eh! Iy-iyya Kak, itu tadi Kak Wardah ya?" tanya Husna.


"Iya, itu tadi Kak Wardah, mau ngomong dengan Kak Wardah-kah?" tanya Eza balik.


"Emm, nd..." ujaran Husna terpotong.


"Assalamu'alaikum Husna?" sapa Wardah dari seberang telepon.


"Emm, wwaa'alaikumussalam Kak," jawab Husna gugup.


"Gimana dek?" tanya Wardah.


"Eh, nggak gimana-gimana Kak, hehehe" jawab Husna bingung.


"Kak, kakak satu rumah sama Kak Eza?" lirih Husna.


"Hahaha, ya nggaklah dek, aneh-aneh aja kamu ini." sontak Wardah terpingkal mendengarkan tuturan Husna.


"Kakak cuma nyiapin barang-barangnya aja, biar besok sekalian berangkat," jawab Wardah.


"hehehe, ya udah kak, Husna dipanggil Bunda," alasan Husna.


"Oke, titip salam buat Bunda dan yang lain ya," jawab Wardah.


"Iya kak, assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam,"


......................


......Bersambung ......