Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Hmm


"Lalu sekarang Bunda gimana setelah mengetahui fakta itu?" Tanya Anisa.


Ia dari awal pembicaraan berusaha menahan untuk tak menyinggung ke arah rumah tangga Wardah. Baru setelah Wardah menyinggung sedikit, rasa penasaran Anisa bertambah.


"Huufft, kelihatannya Bunda menyetujui rencanaku." Jawab Wardah menggantung.


"Rencana apa?" Tanya Anisa.


"Rencana untuk memberikan kesempatan kepada Cak Ibil agar berusaha membuka hatinya untuk-ku." Jawab Wardah dan di balas anggukan oleh Anisa.


"Tapi aku tak yakin Bunda akan diam saja. Bunda pasti akan bergerak dengan cara Bunda, dan tanpa sepengetahuanku," Sambung Wardah.


"Sabar zeyeng... Bunda selalu ingin anaknya bahagia, dengan kamu berpura-pura bahagia justru semakin membuat Bunda sakit," Ujar Anisa.


Wardah memeluk erat sahabatnya itu. Anisa selalu siap menerima keluh kesahnya.


Setelah beberapa jam mereka bercerita, Hilya berlari dengan imutnya ke arah dua aunty-nya. Dengan sigap Wardah memangku. Tentu saja ia tak membiarkan bumil itu menggendong atau membawa yang berat-berat.


"Wardah? Sudah disini? Udah baikan nih ceritanya?" Celetuk Farhan yang sepertinya baru pulang dari tempat kerjanya. Wardah yang menjadi lawan bicaranya hanya tersenyum ramah.


Diciumnya dahi Anisa kemudian Anisa mencium punggung tangan suaminya. Di ambilnya tas kerja Farhan dan sisihkan.


"Gimana kabarnya?" Tanya Farhan yang kini duduk di samping Anisa.


"Alhamdulillah baik Mas... Wardah minta maaf karena sudah salah paham dengan Anisa," Ujar Wardah.


"Hallah! Wajar itu... Kalian gak baru kali inikan marahannya?" Selidik Wardah.


"Ya nggak lah Mas... Udah sering dulu, tapi ini yang paling membuat Anisa paling nyesek," Jawab Anisa.


"Itu karena pengaruh debay juga sayang, jadi lebih mendrama kamunya. Hahaha," Rangkul Farhan dengan mengelus perut Anisa.


.


.


.


Mau tak mau, dua wanita itu mengizinkan Wardah untuk pulang. Bahkan baby girl yang ia ajak main tadi juga tak henti-hentinya meraung. Padahal ini kali pertama mereka bertemu. Wardah pulang di antar oleh Mang Udin salah satu supir di mansion ini.


Kini Anisa sudah berbaring di tempat tidur sembari membaca sebuah buku. Tentu saja ia menunggu Farhan yang masih berkutat dengan laporan dari Universitas-nya.


Merasa semakin bosan, Anisa mendekati Farhan yang duduk di sofa kamar mereka. Anisa duduk di samping Farhan dan menyenderkan kepalanya di pundak Farhan.


"Kenapa Yaang?" Tanya Farhan. Jika biasanya ia akan bekerja di ruang kerjanya, belakangan ini Anisa tak mengizinkannya. Jadilah Farhan bekerja di kamar. Sambil menemani Anisa.


"Bosen, Mas belum selesai ya?" Tanya balik Anisa.


"Belum, insyaallah bentar lagi ini. Sini bobok di sini," Farhan membimbing Anisa agar berbaring di pangkuannya.


Harus ekstra sabar menghadapi ibu hamil itu. Farhan melanjutkan pekerjaannya dengan sesekali mengelus kepala Anisa. Anisa menonton layar laptop Farhan dan terkadang memainkan perut, hidung, bahkan bibir Farhan. Ini benar-benar kebosanan yang hakiki. Setengah mati Farhan menahan sensasi yang disebabkan istrinya sendiri.


Esok ia harus menyetorkan berkas ini, jika belum selesai, Ayah sang tuan negara pasti akan marah besar. Anisa menenggelamkan wajahnya di perut Farhan dan memeluk dengan eratnya.


"Udah Yaang, geli... Kamu membangunkannya..." Rengek Farhan. Akhirnya pekerjaannya selesai kali ini.


Farhan membimbing Anisa untuk berjalan ke kamar mandi terlebih dahulu. Bersih-bersih tentunya. Barulah mereka berbaring ke tempat tidur.


Anisa menceritakan semua yang ia bicarakan pada Wardah tadi siang. Farhan sebenarnya sudah mengantuk, tak apalah menemani sang istri yang tengah bercerita itu.


"Kita main ke rumah Wardah yuk Mas," Ajak Anisa.


"Iyaa boleh, tapi nggak besok yaa... Kalau mas udah senggang," Jawab Farhan.


Anisa tersenyum dan mengangguk patuh. Di peluknya wanita di sampingnya kini. Dan mereka tertidur dengan pulasnya.


...Bersambung.... ...