Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
.


Pulang dari jalan-jalan sore, Farhan sudah menenteng bubur ayam. Tentu saja itu permintaan Anisa. Tak tanggung-tanggung. Anisa memesan dua porsi.


Setelah menjalankan salat maghrib berjamaah, keluarga besar sudah berkumpul di meja makan. Bagaimana tidak besar? Keluarga dari Anisa + keluarga dari Farhan + Kak Ical dan Kak Aisy yang kembali kemari. Esok Mbah Kakung dan Mbah Uti akan kemari juga. Dapat dibayangkan bagaimana ramainya mansion ini esok hari.


"Sayang, kamu beneran gak mau makan yang lain? Padahal Bunda sama Umi sudah masak kesukaan kamu lho," Lirih Bunda.


Anisa tersenyum canggung. Ia tak ingin mengecewakan Bunda, tapi ia benar-benar tak selera dengan makanan lainnya kecuali bubur buatan bude simpang. Kenapa bude simpang? Karena beliau berjualan di persimpangan jalan taman. Hehehe.


"Bun, masih mending Anisanya mau makan. Kalau mual-mual terus gimana? Kasihan...." Ujar Ayah.


"Maafkan Anisa Bunda,",Lirihnya.


"Iyaa, gak papa, yang makan-kan ada banyak disini," Jawab Bunda mendekati Anisa dan memeluknya.


Bunda juga yang menyiapkan makanan yang dibeli Farhan tadi. Anisa memang harus ekstra istirahat. Tak boleh mengerjakan apapun sendiri. Bahkan Bunda juga akan menyuapi Anisa tadinya. Untung saja masih bisa di bujuk oleh Farhan.


.


.


.


Farhan meraba tempat tidur yang kosong di sebelahnya. Spontan! Matanya terbuka lebar. Dimana Anisa?


Tiba-tiba terdengar suara di kamar mandi. Farhan segera turun dan berlari ke kamar mandi. Anisa mengeluarkan semua isi perutnya. Farhan memijit lembut tengkuk Anisa.


Ia pun tak tahu apa maksud dari pijatannya itu. Ia hanya mengikuti instingnya. Meniru hal yang biasa dilakukan Bunda ketika ia atau Husna muntah.


"Sudah?" Tanya Farhan setelah Anisa membasuh mulutnya dengan air.


Anisa mengangguk lemah. Di senderkannya kepalanya di bahu Farhan. Farhan menggendong Anisa agar berbaring kembali di tempat tidur.


"Adek belum sholat Mas," Lirih Anisa kembali bangkit dan menuju kamar mandi. Farhan Melihat tak tega. Anisa begitu lemas. Di ikutinya Anisa, takut jika tiba-tiba tumbang.


.


.


"Di kamar aja Yaang," Ujar Farhan.


"Adek pengen makan di bawah Mas," Jawab Anisa bersikeras.


Percuma Farhan menasehatinya. Tak akan di terima sama sekali oleh Anisa. Jalan aman kali ini hanya menurut. Farhan mengambilkan air mineral untuk Anisa. Setelah mual sedari tadi, pasti ia kehilangan cairan.


"Di minum dulu, Mas ambilkan makanan," Ujar Farhan memberikan segelas air.


Anisa mengangguk dan mulai meneguknya. Farhan membuka tudung saji yang ada di tengah meja makan itu. Bau hidangan yang sangat lezat menyeruak pada indra penciuman Farhan. Tapi itu tak bertahan lama. Farhan dikejutkan dengan Anisa yang kembali mual-mual di kamar mandi tepat di sebelah dapur. Tak lupa ditutupnya kembali tudung saji itu.


"Sayang? Kok mual lagi?" Farhan kembali mengurut tengkuk istrinya.


"Gak mau makan itu, baunya nyegrak banget," Lirih Anisa.


"Kita duduk di ruang tv dulu ya," Ujar Farhan sembari menuntun Anisa.


"Adek belum makan dari tadi. Kek mana? Kasihan dedeknya," Ujar Farhan lembut sembari mengelus perut Anisa.


"Gak nafsu Mas," Jawab Anisa dengan lemah. Anisa memejamkan matanya menahan pusing.


"Mau masakannya Bude Pojok Mas," Lirih Anisa.


"Yang kemarin itu? Oke! Mas carikan dulu ya... Adek gak papa sendiri dulu?" Tanya Farhan.


Anisa mengangguk dan tersenyum.


Bersambung....