
Anisa dan Farhan sudah sampai di rumah tujuan mereka. Sudah ada dua koper dan dua tas ransel di teras rumah itu. Sepertinya Wardah mau pindahan. Barang bawaannya terlampau banyak. Pintu rumah tak tertutup, Anisa dan Farhan memutuskan untuk masuk.
"Assalamu'alaikum," Sapa Anisa dan Farhan.
Bunda Wardah sudah duduk di ruang tamu dengan kedua kakak Wardah. Tak lupa anak kecil yang begitu sumringah melihat ke arah Anisa.
"Wa'alaikumussalam, Nis? Sini sayang," Bunda menghampiri Anisa dan mengajak mereka duduk.
Inayah yang semula berada di pangkuan Kak Yusuf, berpindah mendekati Anisa dan Farhan.
"Sini Om pangku," Ujar Farhan. Dengan senang hati Inayah menuruti.
"Inayah pengen dedek bayinya cepet keluar," Celetuk Inayah.
"Dedek bayinya pengen di elus sama kakak Inayah deh!" Ujar Anisa menirukan suara anak kecil.
Inayah berjongkok di depan Anisa dan mengelus lembut perut Anisa. Anisa terkikik kegelian.
"Kamu ngapain dek?" Tanya Wardah ntah kapan turunnya.
"Dedek bayinya kangen sama kakak Inayah," Jawab Inayah dengan bangganya.
"Hahaha! Kakak katanya!" Ledek Wardah.
"Kakak Wardah pengen ngelus juga aunty!" Ujar Inayah pada Anisa.
"Sini kakak Wardah, ikutan kak Inayah," Jawab Anisa.
"Ogah!"
.
.
.
Kini Anisa dan Wardah tengah berada di taman depan. Sengaja Anisa ingin meminta waktu berdua sebelum perpisahan yang ntah sampai kapan. Anisa merangkul lengan Wardah dan menyender padanya.
"Kamu harus sering pulang Dah, nanti kalau aku kangen gimana?" Lirih Anisa.
"Hahaha, dikira aku ladang uang apa ya? Pulang sesaring mungkin," Jawab Wardah.
"Jangan nangis zeyeng, kita bisa videocall... Hey! Aku nggak mau kamu nangis," Wardah mulai panik.
Tiba-tiba Anisa teringat dengan perjanjiannya. Bisa diledekin habis-habisan nanti. Dengan segera ia mengelap air matanya.
"Kan aku udah janji mau pulang kalau dedek bayinya mau keluar nemuin aunty cantiknya ini," Ujar Wardah dengan mengelus perut Anisa.
"Udah ya Bia, jangan nangis," Ujar Wardah lagi.
Satu jam lebih mereka menghabiskan waktu berdua. Hingga datanglah Farhan dan keluarga Wardah. Untung Anisa sudah tak menangis, bisa ketahuan nanti. Kak Yusuf menaikkan barang-barang Wardah dibantu Farhan.
"Mau pindahan apa mau jualan barang loak kamu Dah?" Tanya Farhan.
"Mau bagi-bagi ke rakyat Jakarta Mas," Celetuk Wardah.
"Nggak nangis Nis?" Ledek Kak Ina.
"Nggak lah kak, udah ditegar-tegarin ini." Jawab Anisa.
"Hallah! Gayamu!" Ledek Wardah.
Setelah barang tersusun rapi di bagasi, berangkatlah mereka ke bandara. Anisa tampak cemberut, pasalnya Wardah tak mau satu mobil dengannya. Bunda juga ingin bersama anaknya.
"Jangan gitu sayang, gak enak sama Bunda," Ujar Farhan.
"Boleh nggak aku nangis sekarang Mas?" Rengek Anisa.
"Kan tadi udah janji," Jawab Farhan.
Huuft! Harus menahan sepertinya. Jiwa Anisa sepertinya berubah menjadi sosok anak kecil semenjak hamil. Tapi terkadang juga normal. Aneh.
Karena jarak keberangkatan yang mepet, Wardah tak bisa pamitan terlalu lama. Ia harus segera ke ruang tunggu. Bagaimana Anisa? Jangan ditanya, ia memeluk erat seakan tak mau ditinggal sahabatnya.
Farhan berkali-kali membujuk Anisa, tapi yang berhasil petugas keamanan bandara. Farhan meminta tolong pada petugas bandara untuk membujuk Anisa. Akhirnya mau juga melepaskan Wardah. Sungguh sangat dramatis pagi ini. Hahaha.
Anisa menangis juga akhirnya.
"Yaahhh! Tantangannya nggak terpenuhi deh." Celetuk Farhan sembari memeluk Anisa. Satu pukulan mendarat pada lengan Farhan.
...Bersambung..... ...