Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Pokok Masalah


Malam ketika Anisa dinyatakan hilang, Farhan, Faisal, Ayah dan Abi segera memperbaiki rencana yang pernah mereka susun. Ke-esokan harinya segera berangkat menuju tempat tujuan GPS itu terlacak. Farhan bersikeras berangkat malam itu juga. Ayah berkali-kali memperingatkan agar tetap waspada pada orang itu. Tak bisa sembrono untuk melakukan hal berbahaya itu.


"Dia tidak akan melukai Anisa, tenang saja. Abi kenal Surya! Sejahat-jahatnya dia pasti mempunyai sisi baik. Dia melakukan hal seperti ini juga karena kesalah pahaman antara kita," ujar Abi.


Mereka ber-empat berusaha menutupi kejadian ini dari para perempuan di rumah mereka. Tentunya tak ingin jika mereka khawatir. Bahkan saat ini Aisyah tengah hamil tua. Tak tega jika membiarkannya kepikiran hal ini.


Berkali-kali Ayah dan Abi menghubungi Pak Surya. Bukan mulai malam ini. Sudah sejak 10 tahun yang lalu setiap kali dihubungi selalu tak direspon. Bukan hanya melalui nomor telepon, bahkan melalui email sudah tak terhitung lagi berapa kali.


Flash Back


“Apa-apaan ini! Saya tidak salah disini! Apa alasan kalian menangkap saya!” teriak Pak Surya pada petugas kepolisian ketika menyeretnya ke kantor polisi.


“Ali! Afif! Ada apa ini?” tanyanya ketika melihat kedua sahabatnya menghampirinya sebelum masuk kedalam mobil polisi.


“Sebenarnya kami tak tega melaporkanmu. Kami tak percaya atas semua yang telah kamu lakukan. Kami berdua telah mengetahui bahwa kamu merupakan dalang dari penggelapan uang di perusahaan ini,” ujar Pak Afif.


“Apa maksud kamu! Aku ttidak pernah melakukan hal itu! Kita bangun bersama-sama perusahaan ini. Mana mungkin aku tega melakukannya?” Jawab Pak Surya.


“Sebaiknya kamu jelaskan kepada hakim esok pagi. Lumpuhkan bukti-bukti yang telah terkumpul itu,” Ujar Pak Ali.


“Sial! Bagaimana mungkin kedua orang ini tahu jika aku dalangnya,”batin Pak Surya.


“Ada seseorang yang sengaja kami curigai dan terus kami intai diam-diam. Setelah orang tersebut terpojok, barulah kami eksekusi dia. Kami tak menyangka. Sudah 3 tahun kamu memperalat dia! Kamu bilang kita ini sahabat, tapi kenapa kamu tega Sur?” Ujar Pak Afif seolah tahu isi hati sahabatnya.


Di acara persidangan, Pak Surya begitu marah atas pengakuan sekretarisnya. Ternyata ia bersedia menjadi saksi atas semua perbuatan yang dilakukannya. Semenjak dipenjara, ia tak pernah mau menerima kunjungan dari keluarga sahabatnya.


Setelah lima tahun dipenjara, Pak Surya kembali dijebloskan atas tindakan pembunuhan dan penculikan Anak. Beliau membunuh sekretarisnya dan menculik anak sahabatnya.


“Asal kamu tahu sayang! Om menjadi seperti ini akibat ulah Abimu sendiri! Oh! Tunggu! Bukan Abimu, tapi teman Abimu. Om tak pernah rela Siti ku diambil. Om berusaha ikhlas! Tapi kenapa benci yang malah tumbuh! Bahkan Om menjadi tambah benci disaat Om mulai menyukai seorang perempuan, Abimu kembali mengambilnya. Munafik! Kedoknya saja yang sok alim. Nyatanya Abimu seorang perebut pula.Bahkan Om menikahi istri Om sendiri tanpa cinta! Dari situ Om bertekat akan menghancurkan keluarga kalian,” Ujar Pak Surya kepada seorang bocah yang tengah sesenggukan didepannya.


“Abi orang baik Om,” lirih bocah itu.


“Persetan mendengarmu!!!! Dasar bocah!” teriaknya dan mulai melancarkan niatannya.


“Kenapa Om jadi seperti monster?” tanya gadis kecil polos itu.


“Asal kau tahu, kebaikanku padamu hanyalah pemanis belaka, HAHAHAHA!!!” tawanya menggelegar.


“Kau lihat ini sayang? Kucingmu sungguh manis bukan?” ujar Pak Surya pada bocah itu.


Di pegangnya kepala kucing itu dan dibiarkan bergantung dengan berusaha memberontak. Sebilah pisau mulai mengarah ke leher kucing manis itu.


“Jangan! Jangan bunuh Moli! Anisa mohooo,” Teriak Anisa. Ia berusaha melepaskan ikatan ditangannya tapi malah melukainya.


“Jangan Om! Anisa mohooon, Moli tidak pernah nakal,” tangis Anisa pecah dengan dasyatnya.


Shreek! Sayatan menembus leher kucing malang itu. Darah dimana-mana. Yang mulanya memberontak kini kucing itu tampak tak berdaya. Diusapkannya darah itu di lengan Anisa dan di pipinya. Tangisnya menjadi-jadi hingga.


Bruak! Bantuan mulai datang. Flash Back off.


.


.


.


Bruak! Pintu kamar yang ditempati Anisa didobrak seseorang. Anisa yang tengah melamun terkaget seketika.


“Pa-k Ha-rris,” batin Anisa.


Wajahnya yang tampak lebam dengan pakaian yang tidak pantas disebut rapi. Haris menghampiri Anisa. Dilepaskannya plaster yang menutupi mulutnya.


“Kamu tidak apa-apa kan Anisa? Kamu tidak terluka-kan?” tanyanya panik.


Dilepaskannya seluruh ikatan yang menyekiti Anisa.


“Kamu ikut saya ya?” ujarnya.


“Saya mau pulang,” lirih Anisa.


“Iya, sekarang kamu ikut saya terlebih dahulu. Nanti saya antar pulang,” Ujarnya berusaha meyakinkan Anisa.


Akhirnya Anisa mencoba untuk percaya pada orang ini. Haris hendak membantu Anisa tapi ditepisnya tangan Haris. Haris mengikuti kemauan Anisa, meskipun ia tak tega melihat Anisa berjalan deng terpincang-pincang. Di luar kamar terlihat dua orang tengah tergeletak di atas lantai. Tak ada bekas tonjokan atau memar sedikitpun. Mereka hanya tampak tertidur di sana. Tiba-tiba jam tangan Anisa di lepas paksa oleh Haris dan dilempar ke tembok.


“Pak! Kenapa dilempar!” teriak Anisa.


“Tenang Anisa, ini sebagai bukti nantinya jika ada polisi menyelidiki tempat ini,” ujarnya.


“Agar aku bisa membawamu pergi dari Farhan Anisa,” ungkapnya dalam hati.


Anisa hanya diam selama di mobil. Bahkan ketika Haris mengajak berbicara, ia hanya menjawabnya dengan singkat.


.


.


.


.


“Sial! Kurang ajar! Kemana cecunguk itu membawa kabur!” teriak Pak Tua itu pada penjaga disebuah rumah tua.


“Maaf bos, kami diberi obat tidur oleh tuan Haris,” jawab penjaga itu.


"Kami tidak tahu jika penjaga diluar telah dilumpuhkan nya," sambungnya.


“Dasar! Tak berguna! Sia-sia saja aku membayar kalian! Habisi kedua orang ini!” perintahnya. Tak perduli orang itu memohon permaafan. Bahkan tak ada rasa kasihan mendengar rintahan kedua orang itu.


“Segera siapkan orang kalian! Buka segel senjata yang telah dikirim kemarin! Kita berangkat malam ini juga! Berani sekali dia bermain-main denganku,” tegasnya.


“Sayang, kamu tunggu di vila ya?” ujar pak Tua itu pada seorang perempuan disampingnya.


“Gak Pa, aku ingin ikut. Pokoknya aku ikut. Aku ingin memberi pelajaran pada wanita itu,” Jawabnya tak ingin dibantah.


“Oke-Oke! Papa tidak akan pernah bisa menolak permintaanmu, ayo kita bersiap,” jawab Pak Tua itu.


“Jam tangan ini bagus sekali, sepertinya mahal. Limited edition,” batinnya ketika mengambil sebuah jam tangan di bawah kursi kayu sebelum benar-benar pergi dari rumah kumuh itu.


Bersambung...


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Barakatuh,


Selamat malam, pagi, siang, sore untuk para pembaca. :”)


Maaf yee, kemarin Lhu-lhu tidak up. Sepertinya kalau malam ahad Lhu-Lhu memang susah diharapkan untuk up, hehehe.


Tiap malam ahad Lhu-Lhu ada kegiatan alumni pesantren gaeess, kadang selesainya malam banget. Jadi suka capek kalau mau ngetik. Hehehe.


Maapken yee...


Lhu-Lhu minta kepada kalian untuk memberikan komentar yang sopan yang berakhlak ya. Lhu-lhu gak mau nemuin komentar-komentar dengan kata-kata kasar :”(


Jika Lhu-lhu masih menemukan, mohon maaf jika kami mengambil jalan untuk mengeblock...


Besok insyaallah Lhu-Lhu akan up double. Jadi pantenginterus yaaa... :”)


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.