
Acara masih terus berlanjut. Padahal kini telah menunjukkan pukul 7 malam. Tamu-tamu masih terus berdatangan. Mulai darikolega bisnis Ayah dan Abi, teman Umi dan Bunda bahkan teman-teman Farhan dan Anisa dari zaman sekolah sampai sekarang.
Kini Anisa dan Farhan tengah mengganti pakainnya menjadi pakaian harian sekalian. Capek terus-terusan pakai gaun kedodoran. Farhan tengah membantu Anisa melepaskan onderdil yang digunakan.
“Demi apa! Ni jarum setoko dipakai semua? Mana kecil-kecil banget. Mbaknya juga gak mau bantuin lepasin”. Ujar Farhan. Heran, dari tadi masih saja menemukan jarum dijilbab istrinya.
“Mas ini ternyata cerewet banget dah”. Jawab Anisa.
“Hahaha, tapi kamu sayang kaan”. Goda Farhan dengan mengecup sekilas pipi Anisa.
“Maas, kok bucin banget sih”. Ujar Anisa menahan malu.
“Bucin tu apaan?”. Tanya Farhan bingung.
“Dasar om om. Gitu aja gak tahu”. Ledek Anisa. Setelah beberapa saat mengambil jarum dijilbab Anisa, akhirnya selesai juga.
“Mas, bantuin buka ini”. Pinta Anisa menunjuk resleting dibelakang.
“Oke. Tapi Kamu harus tanggung jawab nanti”. Ujar Farhan dengan membuka resleting Anisa.
“Tanggung jawab apaan pula”. Jawab Anisa.
Tak sesuai ekspetasi Farhan. Ternyata Anisa memakai baju lapis didalamnya.
“Kenapa? Pasti mulai mesum nih. Gara-gara mas tadi pagi, aku diledekin Bunda tahu”. Ujar Anisa.
“Sini mas bantuin”. Ujar Farhan tak menghiraukan ucapan Anisa dan mencoba membantu Anisa membuka gaunnya. Anisa tak menolak sebab memang susah untuk membuka gaun kedodoran ini. Anisa menghanger gaunnya sebelum besok di bersihkan. Kini Anisa masih memakai dress putih untuk dalaman gaunnya tadi.
“Kenapa harus beli sih mas gaunnya? Kan nyewa juga bisa”. Ujar Anisa. Tiba-tiba Farhan memeluk Anisa dari belakang dan melepaskan ikatan rambutnya agar terurai.
“Kok ginisih maas, geli lho. Kita harus ketempat acara lagi”. Ujar Anisa.
“Mas pengen sayang”. Lirih Farhan dengan mengendus leher Anisa.
Anisa menahan kepala Farhan agar tak bersentuhan dengan kulit lehernya.
“Maas, kita ditunggu yang lain”. Lirih Anisa menahan kegelian.
“Syhuut. Diam. Seperti ini sebentar saja. Pliis”. Pinta Farhan. Anisa menurut dan diam mematung. Merasakan nafas Farhan diceruk lehernya.
Cklek!
“Astagfirullah. Eh! Maaf, gak bermaksud ganggu. Permisi”. Wardah tiba-tiba masuk. Jangan tanyakan bagaimana Farhan dan Anisa sekarang, mereka tak kalah kagetnya pula dengan Wardah.
“Wardaah!”. Anisa menyusul Wardah yang sudah keluar dari kamarnya.
“Pakai ini. Body kamu nampak”. Ujar Farhan memakaikan mantelnya pada Anisa.
“Ha! Trawang ya mas?”. Tanya Anisa panik.
“Enggak, Cuma nampak lekuk yang atasnya. Sana kejar Wardah”. Jawab Farhan.
“Wardah”. panggil Anisa. Wardah berhenti dan menghampiri Anisa.
“Astaghfirullaah, kamu gak pakai jilbab Anisa”. Ujar Wardah menarik Anisa kedalam kamar.
“Mas Farhan kok gak ngasih jilbab Anisa sih? Untung gak ada orang diluar. Untung juga aku belum jauh tadi”. Wardah ngedumel dihadapan Farhan.
“Sudah-sudah, khilaf aku tadi. Sini duduk”. Ujar Anisa mengajak Wardah duduk di sofa kamar hotetl.
“Aku mandi dulu”. Ujar Farhan, mengecup kening istrinya.
“Tunggu mas, aku ambilin baju ganti dulu”. Anisa mengambil baju di lemari.
“Kita pakai baju biasa kan mas?”. Tanya Anisa memastikan.
“Ya iya dong sayang, emangnya kamu mau pakai gaun lagi?”. jawab Farhan dengan memeluk Anisa dari belakang yang tengah mengambil baju.
“Kamu jadi gendut aku peluk kalau pakai mantel ini”. Ujar Farhan.
“Ya iya lah, mantel sebesar ini aku pakek”. Jawab Anisa dengan menyerahkan baju Farhan.
“Jangan lupa sama sahabat kamu dibelakang”. Bisik Farhan meninggalkan Anisa yang malu pada sahabatnya. Anisa menghampiri Wardah yang tengah sebal memandang Anisa.
“Emm.,”.
“Apa? Mau ngomong kalau lupa ada aku disini? Liatin kalian mesra-mesraan, peluk-pelukan”. Potong Wardah.
“Sudahlah. Lupakan, sini, aku mau ngomong sama kamu”. Sambung Wardah.
“Ha? Serius sekali”. Jawab Anisa duduk disamping Wardah.
“Kamu sudah lakuin ***-*** ya?”. Tanya Wardah dengan blak blakan.
“Apa sih! Pembahasannya lho. Coba yang lain”. Jawab Anisa.
“Hallah. Ngomong aja kalau udah, gimana rasanya?”. Tanya Wrdah lagi.
“Udah deh! Mau ngapain sih kesini?”. Tanya mulai geram.
“Ngusir nih? Mau lanjutin ***-*** ya?”. Ledek Wardah.
Cklek!
Farhan selesai mandi.
“Aku turun dulu, kalian cepetan. Udah ditunggu ama yang lain tuh”. Ujar Wardah meninggalkan kamar Anisa.
“Mandi gih”. Ujar Farhan. Anisa mengangguk dan masuk ke kamar mandi. Tak lupa membawa baju gantinya.
“Belum selesai juga bedakannya?”. Tanya Farhan menunggu Anisa memakai jilbab.
“Bentar lagi, perasaan aku gak lama-lama banget deh dandannya”. Gerutu Anisa.
“Mandinya yang lama”. Sambung Farhan.
“Dah, ayo”. Ajak Anisa.
"Istriku cantik sekali". Puji Farhan.
"Iya lah. Udah dari bayi". Jawab Anisa.
Cup! Satu kecupan mendarat di bibir Anisa.
Mereka segera ketempat acara. Abi mengenalkan menantunya kepada rekan kerjanya. Terlihat sekali wajah Abi yang sumringah mendapat menantu baru. Sedangkan Anisa tengah diajak Bunda dan Umi untuk berkenalan dengan ibu-ibu sosialita dan teman-temannya yang lain.
"Maas, capek". Rengek Anisa menghampiri Farhan.
"Ya sudah, ayo istirahat sekarang. Kita pamit dulu. Wajah kamu pucat banget". Jawab Farhan. Anisa mengangguk.
"Kamu kenapa sayang?". Tanya Mbah putri khawatir melihat Anisa yang pucat.
"Gak papa mbah, cuma capek aja". Lirih Anisa.
"Ya sudah, kalian istirahat dulu saja". Ujar Bunda.
Akhirnya Anisa dan Farhan kembali ke hotel. Ayah sengaja memesankan hotel untuk mereka agar mereka istirahat di hotel. Tentunya supaya mereka bisa mempunyai waktu berdua yang banyak. Farhan menggendong Anisa ketika sudah tidak ada orang.
"Eh! Mass, kok gini? Ada orang ituuu". Ujar Anisa kaget dan langsung mengalungkan tangannya dileher Farhan. Tak lupa menyembunyikan wajahnya didada Farhan menahan malu. Sebab dilobi hotel ada banyak orang.
Farhan mendudukkan Anisa disisi ranjang.
"Mas bantu". Ujarnya membuka jilbab Anisa dan meletakkan di gantungan.
Sedikit berjongkok mensejajarkan dirinya pada Anisa. Diselipkannya rambut Anisa dibelakang telinga. Anisa dan Farhan saling bertatapan.
"Yakin mau langsung tidur?". Tanya Farhan ambigu. Dengan mengelus pipi Anisa. Anisa hanya diam mematung mendapatkan perlakuan itu.
Gemas melihat ekspresi istrinya, Farhan membuka resleting baju yang ada didepan dada Anisa.
"Maas!". Anisa menggenggam tangan Farhan yang sudah setengah jalan membuka resleting bajunya.
"Kamu belum siap?". Tanya Farhan terukir kekecewaan diwajahnya.
"Kita wudhu, sholat, dan baca Al-Qur'an sebentar yaa". Lirih Anisa. Farhan tersenyum dan mengangguk. Itu berarti istrinya sudah siap. YES!
Setelah sholat dan mengaji, Anisa meminta izin untuk ke kamar mandi dulu.
"Apa iyaa aku harus pakai pakaian ini?". Gumamnya dengan melihat baju kurang bahan ditangannya.
"Istri itu harus menyenangkan hati suami. Tidak boleh menolak jika itu benar. Ini Umi kasih sesuatu, nanti malam habis acara dipakai ya, kalau mau tidur". Pesan Umi mulai terngiang-ngiang di pikiran Anisa.
Huufft! Helaan nafas berat mulai terdengar.
"Sayang? Kamu kenapa? Kok lama banget?". Tanya Farhan dari balik pintu.
"Sebentar mas". Jawab Anisa.
Cklek!
Farhan tercengang melihat istrinya.
Farhan Pov
Bisa-bisanya istriku mempunyai baju laknat ini? Tapi aku suka.
"Kamu ngapain?". Tanyaku. Kulihat dia tengah berusaha mengambil sweter untuk menutupi tubuhnya.
Kucegah tangannya. Dan ku gendong ala bridal style. Kubaringkan dia ditengah ranjang.
"Kamu mau menggodaku sayang?". Tanyaku berbisik dan menindihnya dengan bertumpu pada lenganku.
"Aaak.akk. akkuu cu.cccuma iikuuutin kaattaa Ummi". Jawabnya gemetar.
"Umi baik yaa, aku makin sayang deh". Jawabku.
Ku dudukkan Anisa. Mulai ku bacakan doa dan mulai Kulumat bibir ranumnya.
Selanjutnya......
Tuuuut... Tuuut... Tuuut.... Naik kereta api....
Tuuut.... tuuut..... tuuuut
Sensor ya gaesss.... Aku gak berani nulisnya. Takut dosa 🙈🙈....
Kita lanjutin yaaa....
Sayup-sayup aku membuka mata ketika terdengar lantunan azan subuh.
Lagi-lagi aku duluan yang bangun. Demi apa! Aku cuma tidur 2 jam. Masih kupeluk istriku dengan erat. Untung ia sudah mengenakan kaos oblong ku yang tampak kedodoran. Tapi? Tetap saja aku harus menahan hasratku lagi. Kasihan. Kulihat wajah lelahnya.
Cup! Kukecup keningnya sekilas. Gemasnyaaa melihat istriku ini. Kami belum sholat subuh. Tak tega aku membangunkannya.
Cup! Kukecup lagi ia. Kali ini bibirnya.
"Eemmmhh, maas". Lirihnya mengeratkan pelukannya.
"Kita belum sholat subuh lho". Ujarku.
"Astaghfirullaah, iya mas. Udah siang ya?". Buru-buru ia berdoa,. Mungkin doa bangun tidur. Dan hendak ke kamar mandi.
"Astaghfirullaah". Rintihnya.
"Masih sakit ya?". Tanyaku. Pertanyaan apa itu. Ya jelas lah.
"Aku. Belum mandi junub mas". Lirihnya.
"Tunggu. Sudah sayang, jelas habis kita menuntaskan hajat kita langsung mandi. Mandi bareng malahan". Jelasku. Aku masih ingat sekali kok. Kami mandi bersama sebelum tidur.
"Rambut kamu aja masih basah". Sambungku.
"Eh! Iyaa ya. Hehehe, lupa mas. Ya udah aku wudhu dulu". Ujarnya. Kugendong ia menuju kamar mandi.
"Maas, gak perlu.... Gak begitu sakit kok". Ujar Anisa. Aku tahu dia berbohong. Jelas-jelas dari tadi nahan sakit. Setelah wudhu kubiarkan ia berjalan sendiri. Ya iya lah! Nanti kalau aku bantu, bisa-bisa batal wudhuku dan Anisa.
Jika biasanya setelah sholat kami lalaran, kini kubiarkan istriku istirahat. Bisa-bisanya sebelum tidur ia sempatkan mengganti seprainya. Padahal katanya ngantuk berat. Ouh, mungkin gara-gara ada bekas itunya, hahaha. Setelah menggantinya, barulah ia tidur.
Aku? Aku mengecek email yang masuk dari pihak kampus yang kuberi tanggung jawab selama cuti.
Ku mainkan jemari kananku di keyboard dan tangan kiriku mengelus rambut Anisa.
Tak terasa, kini sudah jam 7 pagi. Sebaiknya aku memesan makanan untuk sarapan sebelum istri tercintaku bangun.
"Assalamualaikum, bisa saya minta untuk breakfastnya diantar ke kamar?". Tanyaku dalam sambungan telepon.
"Iyaa, nanti saya infokan menunya. Untuk 2 orang ya... Iya... Terima kasih... Wa'alaikumussalam". Ku akhiri panggilan telepon.
Setelah beberapa saat, makanan akhirnya diantarkan.
"Terima kasih". Ucapku dengan memberikan uang tip.
Sebaiknya aku tunggu sampai jam 8 nanti.Kuhampiri Anisa dan mulai ku ciumi wajahnya.
"Emmmh!" Lenguhnya sedikit terusik oleh ulahku.
"Sayaangkuu". Ujarku lembut dengan memainkan rambutnya.
"Bentar lagi maas". Jawabannya parau.
"Ini sudah jam 8 lhoo, kita sarapan dulu". Sambungku.
Sayup-sayup matanya terbuka, terlihat mulutnya berkomat-kamit. Ahhaha, macam mbah dukun baee. Itu maksudnya baca doa.
"Hemm!". Diulurkannya kedua Tangan Anisa ke arahku. Isyarat untuk menariknya agar terduduk. Benar-benar istriku ini. Lucu kali tingkahnya. Kadang dewasa, kadang macam mahasiswa ingusan. Hahaha.
"Mau kemana?". Tanyaku ketika ia berdiri.
"Mandi dulu maas". Jawab Anisa.
Bersambung...
Sebelumnya Lhu-lhu gak pernah minta tolong untuk vote ke akun Lhu-lhu kan yaa?
Atau Lhu-lhu lupa? Hehehehe
Lhu-lhu mau minta tolong dong, kalau sudah membaca sempatkan vote yaa:")
Like, komen, subscribe jugaa.
Wkwkwkwk
Macam Youtuber baeee....
*Oh iya. Satu lagi. Kalau seumpama Lhu-lhu buat cerita baru lagi gimana yaa?
Setuju gak?
Pembaca:
"Satu novel ajah upnya lama banget, apalagi dua atau lebih. Bisa-bisa seminggu sekali nih. Hahahah".