Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Puwang


Didepan mansion sudah ada Abi, Umi, Mbah Kakung dan Mbah Uti. Tampak sekali mereka tengah menatikan kedatangan anaknya.


"Jangan biarin Anisa jalan sendiri Han," ujar Ayah sebelum keluar dari mobil.


"Iya Yah," jawab Farhan.


Ia membukakan pintu samping Anisa dan menggendong ala-ala itulaaah. Kalian pasti tahu. Anisa sama sekali tak menolak. Jika itu terjadi, Ayah akan terus memaksa.


Bagai raja dan ratu, mereka berdua diikuti dari belakang. Padahal Farhan hanya akan membawa Anisa ke ruang keluarga. Tapi segera dicegah oleh Mbah Kakung. Akhirnya ia membawa Anisa ke kamarnya.


Umi dan Bunda langsung menbersihkan pakaian yang kotor. Tak mau jika nanti Anisa yang malah mengerjakannya. Mbah Uti tampak memijit lembut lengan Anisa. Mbah Uti ingin ikut ke rumah sakit kemarin, tapi dicegah oleh Abi. Kasihan jika harus capai-capaian di sana.


Kamar Farhan dan Anisa mendadak ramai. Dapat dipastikan nanti malam Bunda, Ayah, ataupun Umi akan ke kamar mengecek kondisi putri tercintanya. Tenang gaess! Itu baru pemikiran Farhan saja. Terserah author yang membuat alurnya nanti. Hehehe.


Jika biasanya ketika di mansion, Farhan sholat berjamaah di mushala, kali ini ia hanya sholat berdua di kamar bersama Anisa. Anisa sama sekali belum boleh naik turun tangga, jadilah ia terisolasi di kamarnya bersama Farhan. Makan malam pun Bunda mengantarkan ke kamar.


"Nonton korea Mas," ajak Anisa setelah sholat isya'.


"Tumben, request judul Yank?" tanya Farhan. Tumben sekali sang istri mengajak nonton film oppa-oppa.


"Whats Wrong with secretaries kim, Barusan Wardah bilang kalau drama itu bagus Mas,"jawab Anisa.


Farhan segera mencarinya. Dan betapa terkejoednya! Ada 18 episode, mau nonton sampai kapan ini! Alamat diajak begadang ini Mah!


"Yakin mau nonton yang episode-nya banyak gini?" tanya Farhan lagi.


"Ya nggak tahu," jawab Anisa dengan santuynya.


Farhan memutar bola matanya jengah. Setelah film terpilih, Farhan segera berbaring di samping istrinya. Mendusel pada ceruk ketiaknya yang nyaman menurutnya. Hedeehhh, kenapa Farhan begitu menyukai tempat favorit barunya itu.


Ia ingin melanjutkan bobok nyamannya tadi di rumah sakit. Anisa mengelus lembut rambut Farhan yang sudah seharusnya dipotong. Tapi bumil satu ini sangat menyukai gaya Farhan saat ini.


Tak akan ia izinkan jika sang suami akan memotong rambutnya. Anisa terkikik melihat film itu. Belum habis dua episode, ia sudah menguap. Tapi tak rela untuk meninggalkan film ini. Jam menunjukkan pukul 20:30 malam, tak apalah lanjut nonton menghabiskan episode ini.


Cklek!


Ruang kamar masih menyala dengan terangnya. Suara tv masih menggema dengan merdunya. Bunda, Umi beserta suami mereka mulai masuk. Dugaan Farhan ternyata benar. Kelompok pengintai itu benar-benar melakukan aksinya.


"Tontonan apa ini," celetuk Abi.


"Udah tidur kok sembarang kalir e nggak dimatikan," sambung Ayah.


Anisa ternyata juga tertidur.Ayah mengganti penerangan menjadi lampu tidur. Umi membenarkan selimut kedua anaknya yang belum sempat dipakai. Abi mematikan televisi. Benar-benar seperti pembagian tugas malam sebelum tidur.


"Kenapa kita seperti pengawas anak sih?" celetuk Bunda.


"Semenjak Farhan dan Anisa menikah, rasanya bahagia melihat keluarga anak-anak kita, " lirih Umi.


"Farhan sudah dewasa dan terdidik baik itu formal maupun agama. Dia pasti bisa membimbing Anisa," jawab Abi.


"Alhamdulillah, dengan begini, berarti rencana perjodohan kita lancar," ujar Ayah diangguki Abi.


.


.


.


Deringan gawai Anisa benar-benar mengusik tidur Farhan. Berbeda dengan Anisa yang masih nyenyak tak dapat diganggu. Sekali dibiarkan, dua kali, tiga kali masih terus berdering. Sangat Farhan mencoba meraih gawai Anisa yang ada di nakas sampingnya.


Nomor baru ternyata. Kenapa semalam ini? Ternyata masih pukul setengah sepuluh.


"Assalamu'alaikum Ninis?" sapa si dia dari sebrang sambungan telepon.


...Bersambung... ...