Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Ujian Hidup 1


Mansion megah ini telah disulap sedemikian rupa untuk menyambut acara 7 bulanan Anisa. Tak lupa juga, bahwa acara ini akan disiarkan secara langsung melalui siaran tv milik Eza. Eza kemarin menawari Farhan untuk menyiarkan acara ini. Tentu saja Farhan menerimanya. Hitung-hitung ini sebagai dokumentasi du hari-hari mendatang.


Beberapa petugas sudah dikerahkan Eza. Kemarin ia langsung menghubungi asistennya untuk menyiapkan keperluan-keperluan. Dan segera berangkat ke Jombang. Hanya dengan waktu 3 hari, semuanya sudah beres! Semua terkendali dengan aman.


Pagi ini Eza sudah berada di kediaman Farhan bersama Wardah dan Bunda. Ya! Selama di Jombang, Bunda memaksanya agar menginap di rumah. Toh di rumah juga ada orang banyak, jadi tak perlu khawatir dengan fitnah nantinya. Maklumlah, pekerja di rumah semakin banyak semenjak Wardah berangkat ke Jakarta. Agar ramai kata Bunda.


Seperti biasa, Wardah kini sudah mengambil posisi di deretan para pengkhotmil Quran. Jangan lupakan Husna dan Faiz. Mereka berdua tentu saja pulang.


"Kak! Kakak yang itu siapa sih? Ganteng banget! Mirip artis," celetuk Husna yang duduk di samping Wardah. Ia dari tadi terfokus pada sosok tampan yang sedang berbincang dengan kakaknya, yakni Farhan. Sukses membuat Husna terkagum-kagum.


"Itu bosnya Kakak," jawab Wardah dengan mengalihkan pandangannya pada Al-Quran yang dipegangnya. Sebentar lagi ia akan disimak. Jangan sampai salah melafalkannya gara-gara tak fokus.


"Boleh nih minta ke Kak Farhan buat jodohin sama Husna," celetuknya lagi.


Uhuk! Uhuk-Uhuk!


Tiba-tiba Wardah tersedak napasnya sendiri.


Celotehan Husna sukses membuatnya kaget sekaget-kagetnya.


"Ini Wardah, diminum dulu. Kamu kenapa kok bisa batuk-batuk sampai merah begini mukanya?" demi apa! Eza mengambilkan air minum untuk Wardah. Jangan lewatkan Husna yang melongo melihat lelaki tampan itu kini berjongkok di dekatnya. Bukan! Tepatnya di hadapan Wardah.


Wardah mengambil air minum itu dan segera meneguknya untuk menutupi kegugupannya. Mana mungkin ia mengaku jika kaget dengan ucapan Husna barusan.


"Kak! Boleh kenalan?" tanya Husna pada Eza.


"Boleh dong!" ujar Eza ramah.


"Oalah, kamu adiknya Mas Farhan? Yang rajin sekolahnya yaa. Nama kakak, tanyain sama Ibu Negara ajah ya manis," ujar Eza mengusap lembut kepala Husna yang berbalut jilbab.


"Ibu Negara?" gumam Husna dan Wardah serempak bingung.


"Iyaa, ibu negara Wardah Asyifa Alifia," sambung Eza lagi kemudian berlalu.


"Kakak pacaran sama kakak itu?" tanya Husna dengan tatapan tajamnya penasaran.


"Nggak kok! Ngawur! Kan pacaran nggak boleh zeyeng," jawab Wardah.


Oke! Kini saatnya Wardah yang melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan suara merdunya. Tak henti-hentinya Eza memperhatikan wanita itu.


"Kamu yakin sama adik saya?" tanya Kak Yusuf yang tiba-tiba duduk di samping Eza.


"Insyaallah saya yakin Bang, mohon restunya Bang," ujar Eza.


"Kamu itu orang kota Za, saya nggak yakin kamu bisa mengimbangi kebiasaan hidup Wardaha. Kamu juga bukan anak pesantren, saya tak yakin Wardah akan mau dengan kamu," ujar Kak Yusuf lagi.


"Saya sebenarnya anak pesantren Bang dulu. Lulus dari SD saya langsung ke pesantren di Kediri." jawab Eza.


"Kamu siap saya uji? Saya masih belum yakin jika kamu anak pesantren," celetuk Kak Yusuf.


"Insyaallah saya siap," jawab Eza dengan mantab.


......Bersambung......