Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Rutinitas Mulai Padat


Hari ini Anisa dan Farhan sudah rapi dengan setelan dosennya. Anisa sudah seminggu tidak hadir di universitas. Selama itu pula mengajarnya digantikan oleh dosen lain.


"Kamu istirahat dulu saja sayang, Bunda masih khawatir dengan kondisi kamu," Ujar lembut Bunda saat Anisa beranjak mengikuti Farhan.


"Bunda tidak usah khawatir dengan Anisa, Anisa sudah baik-baik saja. Anisa tidak akan depresi, Bunda harus percaya dengan Anisa," Jawab Anisa dengan senyuman lembutnya.


"Bunda tenang saja, nanti Farhan juga akan mengantarkan Anisa periksa," Sambung Farhan. Ia tak ingin Bundanya khawatir yang berlebihan. Takut jika membuat Anisa tak nyaman.


"Ya sudah, Han jaga Anisa baik-baik," Akhirnya Bunda melepaskannya.


.


.


.


Kali ini mereka harus melalui perjalanan yang cukup lama. Sebab jalanan cukup ramai. Jika biasanya hanya membutuhkan waktu 15 menit, kali ini mereka menghabiskan waktu hingga 40 menit.


"Alhamdulillah sampai juga," Ujar Anisa.


"Kalau ada apa-apa langsung telepon Mas ya," Farhan menahan tangan Anisa sebelum turun.


"Iyaa Mas," Jawab Anisa tak lupa dengan senyumannya.


Anisa sangat bahagia sebab seluruh orang terdekatnya begitu menyayanginya. Sangat peduli. Anisa dan Farhan segera melakukan finger print untuk absen mereka. Barulah mereka bergegas menuju kelas. Mereka pasti akan telat jika harus menuju kantor terlebih dahulu. Mengingat perjalanan mereka telah menghabiskan banyak waktu.


Seperti biasa, Farhan akan memastikan Anisa masuk kelas terlebih dahulu sebelum menuju kelasnya.


"Bagaimana pembelajaran kalian selama saya tidak ada?" tanya Anisa setelah membuka pembelajaran.


"Biasa saja Bu, tak bisa santai tapi pasti seperti Ibu," Jawab mahasiswanya.


"Kalian bicara seperti itu saat di depan saya saja kan?" Selidik Anisa.


"TidakBu, sungguh!" Bela mereka.


"Oke-oke, ibu mencoba percaya. Hahaha. Hari ini saya tidak akan menambah materi baru, saya akan mempersilahkan kepada kalian untuk berdiskusi mengenai topik masalah minggu lalu. Jika waktunya masih banyak, saya akan menjelaskan kepada kalian mengenai tugas akhir. Kita tidak ada ujian tulis kali ini, ujiannya diganti dengan penelitian," Jelas Anisa panjang lebar.


Dua jam perkuliahan akhirnya selesai juga.


Kini Anisa harus pindah ke kelas selanjutnya. Hari ini Anisa dan Farhan cukup padat jadwalnya. Kini Anisa mengajar di perpustakaan. Tentu saja bukan permintaannya, melainkan permintaan mahasiswanya. Untuk menciptakan suasana baru katanya.


Mereka kali ini memilih sebuah space yang nyaman menurut mereka. Tentunya memilih sisi Perpustakaan yang jarang digunakan orang. Tujuannya adalah agar tak mengganggu kenyamanan yang lain juga.


Tugas Anisa kali ini tidak berat. Ia hanya perlu mengawasi mahasiswanya yang menyelesaikan progres penelitian. Anisa lebih senang memberikan penugasan karya ilmiah. Tentu saja untuk mengasah kemampuan materi yang dipelajari selama perkuliahan. Para mahasiswa harus mampu mengimplementasikan materi-materi yang telah mereka tempuh.


Tak jarang pula mahasiswa akan mengeluh mengenai topik yang telah ia ambil. Dengan sabar Anisa akan mengarahkan, membimbing, dan memotivasi mahasiswanya agar tidak tertekan tetapi tetap fokus. Apalagi saat ini, mahasiswa yang diajarnya adalah mahasiswa semester awal, ia harus lebih sabar dalam mengarahkan mereka. Tentu saja Anisa tak ingin mahasiswanya alergi dengan dirinya.


"Bu, referensi menggunakan buku ini bisa?" Tanya seorang mahasiswa kepada Anisa setelah mengambil beberapa buku untuk referensinya.


"Coba kamu baca dulu, jika memang cocok dengan pembahasan kamu silahkan digunakan," Jawab Anisa.


"Jangan biasakan mengambil referensi dari blok-blok yang kurang terpercaya. Jika memang tidak menemukan sumber pada buku, kalian bisa mencari dari artikel atau jurnal yang terpercaya. Bagaimana caranya? Kalian bisa memanfaatkan web G**gle C*nd*k*a. Jika waktu UTS saya memaklumi adanya sumber rujukan blok, untuk UAS saya berharap tidak ada," Jelas Anisa.


"Oke, saya cukupkan dalam penggarapan tugas akhir UAS. Jika masih ingin melanjutkan monggo, jika sudah selesai nggeh monggo. Saya tutup, Assalamu'alaikum Wr. Wb." Anisa menutup perkuliahan.


"Bu, bolehkah jika menanyakan melalui WA mengenai tugas ini bu?" Tanya salah satu mahasiswa sebelum Anisa pergi.


"Kalau ada yang ingin ke rumah juga monggo, saya persilahkan," Sambungnya.


"Rumahnya ibu yang dulu atau rumahnya Pak Rektor?" Tanya mereka hati-hati menahan malu.


"Rumah orang tuanya Pak Rektor," Jawab Anisa. Ia bergegas kembali ke kantor.


.


.


Jika biasanya Farhan yang menunggu, kini Anisa yang menunggu Farhan di depan kelasnya. Tidak sendiri tentunya. Ia bersama dua orang mahasiswi yang tengah menanyakan perihal skripsi. Mereka sudah ke kantor mencari Anisa, ternyata ketemu di sini. Akhirnya Anisa mengajak mahasiswi itu diskusi ringan disini. Sambil menunggu Farhan tentunya.


"Masih banyak yang ditanyakan?" Tanya Farhan tiba-tiba. Ia sudah menyelesaikan pembelajaran.


"Eh! Sudah selesai Mas? Emm, kita lanjutkan di kantor ya? Supaya bisa saya tunjukan contoh referensinya," Ajak Anisa.


"Iya bu, tidak apa-apa. Tapi kami mau izin sebentar bu, nanti kami menyusul ke kantor," Izin mereka.


"Iya, nanti ke ruangan saya ya," Jawab Farhan.


"Baik Pak," Jawab mereka.


Farhan dan Anisa kembali ke ruangannya. Selama perjalanan Anisa tak henti-hentinya tersenyum. Awalnya ia sedikit takut jika ia akan menjadi pusat perhatian di kampus perkara penculikan tempo hari. Ternyata Farhan menutup rapat-rapat perkara itu dari media maupun sumber lainnya. Farhan tak ingin istrinya menjadi tidak nyaman.


"Kenapa harus di ruangan Mas sih?" Tanya Anisa.


"Biar bisa santai. Adek bisa siapin cemilan buat mereka supaya gak puyeng," Jawab Farhan. Anisa tersenyum mendengar penjelasan Farhan.


Cup!


Satu kecupan mendarat mulus di pipi Anisa. Mumpung dua mahasiswa itu belum datang.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum," Sepertinya itu mahasiswa Anisa.


"Wa'alaikumussalam, silahkan masuk" Jawab Anisa.


"Ini Bu, saya bawakan cemilan dan minuman untuk dan Bapak," Ujar dua mahasiswi itu.


"Kenapa repot-repot? Di sini juga sudah disediakan cemilan," Jawab Farhan. Berhasil membuat kedua mahasiswi itu ciut.


"Maas!" Anisa menegur Farhan. Menurutnya Farhan tak sopan.


"Tidak apa Ningsih, Wanda, terima kasih ya, ayo kita mulai buka dokumen kalian," Anisa mengajak mereka duduk di sofa yang disediakan. Bukan duduk di sofa, mereka lebih memilih lesehan.


"Sayang, Mas rapat dulu ya?" Ujar Farhan menghampiri Anisa.


"He'em, lama gak?" Tanya Anisa sambil mencium tangan Farhan. Di balas dengan kecupan di keningnya. Hal itu sukses membuat kedua mahasiswi itu terpelongo melihat kemesraan dosennya.


"Insyaallah nggak, Emmm, kalian tolong temani istri saya dulu ya? Nanti kalau cemilannya kurang, ambil saja di kulkas itu," Ujar Farhan pada kedua mahasiswi Anisa. Mereka terperanjat dengan teguran Farhan.


"Siap Pak!" Tegas mereka.


Bersambung....