Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
LDR


"Ingat Mas, jaga mood selama di negeri orang. Jangan menyusahkan Pak Toni. Mas harus bisa profesional," Ujar Anisa sebelum benar-benar tidur. Yang mendampingi Farhan di Thailand ada dua orang, yaitu Pak Toni sebagai Ketua Dekan FKIP di Universitas dan Bapan wakil rektor dua. Jangan sampai seorang Farhan merepotkan bapak-bapak itu. Kan kasihan...


"Iyaa sayang, tenang saja. Mas bisa yakin bisa kok!" Jawab Farhan semakin mengeratkan pelukannya. Setelah makan malam, Farhan mengajak Anisa ke kamar. Tak rela rasanya jika malam ini berlalu begitu cepat.


Tak sekalipun Farhan melepaskan pelukannya. Anisa hanya bisa pasrah. Elusan di perutnya membuat Anisa begitu nyaman. Satu minggu lagi mereka akan mengadakan pengajian 4 bulanan. Rencananya mereka akan mengundang santri dari pesantren Miftahul Huda untuk dilakukan khataman Al-Qur'an.


Husna yang tadi sore dikabari pun tampak antusias. Ia menuntut agar diizinkan pulang. Ia ingin mengelus perut kakaknya itu katanya. Ia belum pernah melihat bumil kembar, tentu saja ia begitu penasaran kali ini. Mau tak mau, Farhan dan Kak Ical harus menjemput Husna minggu depan. Sekaligus para santri yang diutus Umi untuk ikut khataman. Bukan hanya Husna, tentu saja Faiz akan iri dan uring-uringan jika tak dijemput juga. Moto dua orang itu yaitu\= jika satu pulang, yang satu juga harus pulang. Begitu kira-kira.


.


.


.


"Jangan lupa dimakan bekalnya ya? Adek udah masak lho..." Ujar Anisa ketika mereka sampai di bandara.


Ya, Anisa ikut mengantarkan sang suami ke bandara. Di dampingi Bunda juga.


"Iyaa sayangku..." Jawab Farhan.


Cup!


"Mas cek in ya..." Satu kecupan mendarat di kening Anisa. Tak dapat dipungkiri, dada Farhan rasanya sesak hendak meninggalkan sang istri. Tapi ia tak boleh memperlihatkannya. Kalau tidak, Ayah akan meledek habis-habisan. Karena Ayah juga ikut disini.


"Iyaa, hati-hati ya, jaga diri, jaga hati dan jaga perasannya," Lirih Anisa.


"Siap bos!" Tegas Farhan. Bagaimana mungkin ia bisa berpaling dari sosok yang sangat luar biasa dihadapannya ini. Farhan memeluk Anisa erat, sangat erat. Seolah tak ingin melepaskannya.


"Ayo Han!" Ajak Pak Toni.


Dengan berat hati, Farhan melepaskan pelukannya. Dipeluknya Bunda kemudian sang Ayah.


"Yang perlu penjagaan itu kamu. Jangan sampai memalukan Ayah di sana. Awas saja kalau ngalem. Ayah coret dari KK," Jawab Ayah.


"Tega!"


Setelah berpamitan barulah Farhan check-in dan menuju ke lantai dua ruang tunggu. Sesekali ia melirik ke jendela yang mengarah ke tempat ia berpamitan tadi. Naas! Ternyata sang istri tercinta telah pergi dengan Bunda yang menuntunnya.


"Sabar Han, hanya tiga hari," Ujar Pak Wakil Rektor yang menyadari kegelisahan laki-laki di sampingnya.


"Hehehe, iya Pak," Jawab Farhan.


.


.


Anisa ternyata memberikan dua bekal untuk Farhan. Betapa bahagia hatinya. Ia tadi sudah berfikir tak akan makan siang setelah rapat. Membayangkan makanan di negara ini seolah menghapus seleranya. Tidak untuk sekarang.


Sesampainya di hotel, Farhan memakan bekal yang dibawakan sang istri dan menyimpan bekal satu lagi di ranselnya. Anisa sengaja membawakan dua bekal makanan untuk Farhan. Ia takut jika sang suami tak selera makan. Dan ketakutannya ternyata benar terjadi.


Jangan berfikiran aneh-aneh Anisa! Kan jadi doa! Hedehhhh.


Bahkan saat ini Farhan sarapan ditemani Anisa yang juga tengah memakan mangga. Tentu saja melalui video call.


"Adek bawain lauk rendang tadi. Kan kalau rendang awet... Mas tinggal minta tolong petugasnya manasin." Ujar Anisa.


"Iya? Serius! Alhamdulillah... Makasih sayaang, nanti aku kasih tahu petugasnya deh." Jawab Farhan antusias. Ia tak menyangka sang istri perhatian setengah mati.


...Bersambung... ...