
Bagaimana rasanya jika keputusan yang diambil tak sesuai harapan? Itulah yang dirasakan Farhan. Kehendak hati ingin selalu bersama sang istri, tapi tak sesuai harapan. Umi, Abi, Mbah Kakung dan Ayah tak mengizinkan. Ya! Umi, Abi, dan Mbah Kakung sudah kembali ke rumah ini beberapa waktu yang lalu.
Padahal aku bisa tetap profesional jika ada Anisa sekalipun. Kenapa harus dilarang? Sepanjang hari aku hanya diam membisu tak ingin berbicara dengan siapa pun. Hanya dengan Anisa aku berbicara. Kini aku tengah membaringkan kepalaku di pangkuan Anisa. Sebelum besok berangkat, harus ku puas-puaskan bermanja dengan wanita ini. Kuelus lembut perut membuncit yang tepat berada di depan wajahku ini.
Lucu sekali, ingin rasanya melihat mereka segera keluar. Tak sabar ingin menggendong dan mengurusi mereka berdua bersama Anisa.
"Seperti itu profesional? Cih! Dasar bocah! Ayah tak ingin kamu manja di sana Han! Nanti Anisa yang sibuk ngurusin kamu, bisa jadi juga nanti dia yang ngurusin kerjasama antar Universitas ini." Ujar Ayah yang menghampiri kami di pendopo taman belakang.
.
.
"Terserah persepsi Ayah saja," Jawab Farhan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Anisa.
Anisa tersenyum lucu melihat perdebatan Ayah dan anak itu. Ayah membawa segelas kopi dan duduk bersama anak-anaknya. Esok hari Farhan harus berangkat ke Thailand untuk menjalankan misinya.
"Pengen kopinya Ayah, kayaknya enak," Celetuk Farhan berbalik menghadap ke arah Ayahnya.
"Kamu gak bisa basa-basi ya Han? To the poin banget. Nih!" Jawab Ayah memberikan kopinya.
Dengan berbinar, Farhan duduk dan meminum kopi Ayahnya. Dimana rasa takutnya pada Ayah? Padahal biasanya ia akan tunduk sendiko dawuh dengan Ayah. Jika mood baby-nya muncul ternyata memutar balikkan sifat Farhan. Hahaha.
Saat-saat seperti ini yang ditakuti Anisa. Bagaimana jika baby mood Farhan muncul ketika berada di luar negeri. Bukankah akan mempermalukan pihak mereka?
.
.
Anisa bertugas melipat pakaian, sedangkan Farhan yang bertugas menyusun di koper. Penerbangan Farhan tepat sebelum subuh. Sengaja mengambil penerbangan itu. Sehingga nanti bisa langsung melakukan pertemuan dan tinjauan lokasi dan bisa kembali ke tanah air dengan lebih cepat.
Selain mahasiswa asing yang belajar ke Indonesia, pihak Universitas Farhan juga harus mengirimkan mahasiswa ke Thailand. Kerjasama ini dapat dikategorikan sebagai pertukaran pelajar.
"Makan siang di luar yuk yang," Ajak Farhan.
"Si Mbok udah masak banyak tadi Mas," Jawab Anisa.
"Ayolah yaang, besok pagi udah berangkat lhoo, tega banget kamu," Rengek Farhan.
"Ya udah, ayo... Siap-siap gih!" Jawab Anisa mengalah.
.
.
.
Sampailah kini mereka di sebuah restoran pilihan Farhan. Bahkan untuk sampai di restoran ini mereka berdua perlu meyakinkan para sesepuh mansion. Dan itu bukanlah hal yang mudah.
Ternyata alasan jika Farhan nyidam tak meluluhkan hati semua sesepuh itu. Hanya Umi yang merasa kasihan, tidak dengan yang lain. Jadilah Anisa yang berakting ria akhirnya. Syukurlah akhirnya diizinkan. Sepertinya ia perlu mendaftarkan diri sebagai aktor nantinya.
...Bersambung... ...