
“Yuk ke masjid”. Ajak Wardah. Anisa dan Wardah berjalan beriringan dengan santtri-santri yang lain menuju masjid.
“Udah di cek semua asramanya?”. Tanya Wardah kepada salah satu santri.
“Udah mbak. Beres.”. jawab mereka.
*Di Masjid
“Mas, imamnya siapa? Cak Ibil lagi keluar sama Bapak”. Tanya salah seorang santriwan.
“Kamu suruh Mas Farhan ajah. Suara mas lagi bermasalah”. Jawab Faisal beralasan.
“Farhan! Disuruh jadi imam noh”. Kata Faisal.
“Kan sampean ada”. Jawab Farhan.
“Ayo laaah”. Jawab Faisal sambil mendorong Farhan tetempat imaman. Mau tidak mau akhirnya Farhan lah yang menjadi imam.
*Selesai jamaah
“Kak Anisa,”. Panggil salah seorang santriwati. Kepada Anisa ketika hendak kembali ke asrama.
“Iya?”. Jawab Anisa.
“Emm, kata ibuk tadi kami disuruh setoran ke kakak”. Ujar santri.
“Ha? Kakak?”. Tanya Anisa memastikan.
“Iya kak”. Jawab santri.
“Udah, gantiin ibuk aja... lagian aku juga mau ngajar”. Ucap Wardah.
“Ya udah deh, biasanya kalau ngaji dimana?”. Tanya Wardah.
“Di ruangan Tahfidz kelas 4 kak”.
“Emm, kakak kan gak tau ruangannya dimana, nanti kamu jemput kakak ya? Siapa nama kamu?”. Tanya Anisa.
“Husna kak”. Jawab Husna.
“Oke, nanti Husna jemput kakak ya?”. Ucap Anis.
“Siap, ya udah kak... kami siap-siap dulu ya”. Ucap Husna. Anisa dan Wardah pun bersiap untuk mengajar.
*Asrama Wardah
“Nis, makan dulu... Tadi umi mau ngajak kamu sama kakak kamu makan bareng tapi sama Abi kamu katanya gak usah. Yaudah, gak jadi aku panggil. Terus, yang makan bareng Cuma tamu-tamu Bapak aja”. Jelas Wardah.
“Ooh, pantesan lama... Ternyata melayani tamu. hahaha”. Jawab Anisa.
“Ayo makan”. Ajak Wardah. Ketika Anis hendak mengambil nasi,
“Assalamu’alaikum, kak Aniis?”. Panggil Husna.
“Wa’alaikumussalam, sudah datang ya? Sebentar ya, kakak ambil Al-Qur’an dulu”. Jawab Anisa.
“Kamu makan dulu..”. Ujar Wardah.
“Gak usah, nanti ajah, aku belum laper kok... lagian kasihan mereka kalau nunggu. Kamukan tau aku kalau makan lamanya masyaallah”. Jawab Anisa panjang lebar.
“Aku berangkat dulu Dah, Assalamu’alaikum,”. Ucap Anisa.
“Wa’alaikumussam, ni anak gak berubah deh, mesti kalau masalah makan siang susahnya minta ampun”. Ujar Wardah bermonolog.
Anisa dan Husna berangkat ke kelas bersama.
“Kamu kelas berapa dek?”. Tanya Anisa.
“Baru kelas 2 Aliyah kak”. Jawab Husna. Selama perjalanan mereka mengobrol. Hingga tak terasa sudah didepan kelas. Mereka juga nampak seperti teman sebaya sebab sejatinya wajah Anisa yang baby face. Walaupun sebenarnya mereka berjarak 5 tahun.
“Nanti pulang ngaji ikut kakak ya?”. Ucap Anisa.
“Kemana?”. Tanya Husna.
“Ada dehh, pokoknya ikut”. Jawab Anisa.
Mereka memasuki kelas.
Anisa mau gantiin Ibuk ngajar ngajar ngaji nih.
Husna Muncul nih
*Anisa Prov
Husna nunggu lama, akhirnya kuabaikan Wardah. hal pertama yang kulakukan ketika mengajar yaitu perkenalan. Sebab mereka belum mengenalku semua. Setelah sesi perkenalan, barulah sekarang waktunya mereka menyetorkan hafalan.
“Monggo yang mau setoran duluan?”. Pintaku kepada mereka. Sepertinya gak ada yang mau pertama nih.
“Kira-kira mau maju duluan atau kakak tunjuk nih? Atau urut absen ajah?”. Tawarku.
“Saya kak!”. Ucap Husna.
“Silahkan.”. Ia mulai duduk dihadapan ku dan memuai bacaannya. Suara yang merdu, bacaannya pun pas. Oh tidak, aku terlena.
“Monggo yang lainnya? Disebelah kanan dan kiri saya”. Pintaku.
Merekapun berbondong-bondong maju kedepan. 1 jam berlalu. Akhirnya selesai juga.
“Baik, terimakasih kepada adik-adik sekalian. Maaf jika sistem mengajar kakak berbeda dengan Ibuk.”. Kataku.
“Nggak kok kak. Sama kok sistemnya sama Ibuk, kalau sama kakak jadi selib santai ajah. Kayak sama temen sendiri. hehehe”. Jawab salah satu santri, kalau tidak salah Zulfa namanya.
“Syukurlah kalau begitu. Baik, mungkin hanya itu saja. Saya akhiri Wassalamu’alaikum Wr.Wb.”. Tutupku.
“Jadi kak?”. Tanya Husna.
“Jadi dong. Yuk ke kantin”. Kataku.
“Kantin?”. Tanyanya heran.
“Iya, kakak laper hehehe”. Jawabku.
“Kakak sih, gak makan dulu tadi.” Ucapnya. Akupun hanya tersenyum. Kami berjalan beriringan menuju kantin.
“Alhamdulillah, gak ramai. Kan jadi leluasa”. Ucapku, sambil berjalan memilih tempat yang pas.
“Mau pesan apa?”. Tanya ku pada Husna.
“Aku udah makan kok”. Katanya.
“Hallaah, kakak tau kamu belum makan juga.” Kataku
“Kok bisa?”. Tanyanya.
“Kamu dari tadi hafalan dibawah pohon depan asrama kan? Kakak nampak.”. jawabku.
“Ayo, gak papa. Kakak yang traktir. Langka loh, kakak ngajak orang makan. hahaha”. Ujarku.
“Samain kakak aja deh”. Ucapnya.
“Yang paling populer apa dikantin ini?”. Tanyaku memancingnya untuk memesan.
“Emm, baksonya kak. Luar biasa. Dijamin deh kakak suka”. Katanya.
“Oke! Mbak, bakso beranaknya 2 porsi ya? Sama jus jeruknya 2 juga”. Pesanku.
*Autor pov
“Wah-wah! Makan gak ajak-ajak, sama adik ipar nih”. Sindir Faisal yang datang tiba-tiba.
“Uhuk-uhuk. Kakak ni, ngagetin ajah sih”. Jawab Anis jengkel sebab tersedak.
“Kak Farhan mau makan?”. Tanya Husna.
“Iya nih, diajak kak Ical”. Jawab Farhan. Faisalpun duduk dimeja yang sama dengan adiknya. Disusul dengan Farhan.
“Kenapa disini sih? Cari tempat lain sana! Aku gak mau yaa kalau disuruh nraktir kalian juga.”. Ucap Anis.
“Hillih! Ngomong aja mau pendekatan sama adik ipar”. Goda Faisal.
“Apaan sih? Gak jelas banget. Apa hubungannya adik ipar sama Husna coba”. Jawab Anis bingung.
“Emang kak Farhan sama kak Anis mau nikah?”. Tanya Husna polos.
“Uhuk-uhuk!”. Gantian Farhan yang tersedak.
“Apaan sih dek? Kok bawa-bawa mas Faridz sih?”. Tanya Anisa.
“Ciyeee... panggilnya udah mas”. Goda Faisal lagi.
“Kak Icaaal!!! Males deh aku”. Jawab Anis sebel.
“Kak Farhan kan kakak aku”. Jawab Husna. Anisa pun terbengong.
“Kamu gak tau dek?”. Tanya Faisal kepada Anis. Anispun hanya menggelengkan kepalanya.
“Hiish.. kalian bahas apa sih? Ayo makan. Baksonya udah datang tu”. Farhan angkat bicara.