Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Jakarta 2


Selepas menjalankan kewajiban sholat zuhur, kami kembali melanjutkan study tour ke tempat wisata kota tua.


"Padat sekali ya kak kota Jakarta". Ujar Hasna pada Anisa yang duduk disebelahnya.


"Beginilah Jakarta. Tenang saja, di Jombang tidak sepadat ini. Tapi kalian happy kan jalan-jalan di Jakarta?". Tanya Anisa.


"Happy dong kak. Apalagi kalau ditemani tutor-tutor luar biasa". Jawab Hasna disertai tawanya.


"Kak Anisa ada hubungan ya sama pak Farhan? Maaf kak kalau terkesan tidak sopan". Ujar Hasna tiba-tiba.


Anisa tersenyum. "Hubungan? Kami rekan kerja biasa". Jawab Anisa.


"Ada apa memangnya?". Tanya Anisa ramah.


"Emm, tidak apa-apa. Hanya saja setiap saya melihat Pak Farhan, beliau pasti tengah memperhatikan kakak". Jawab Hasna.


"Mungkin hanya perasaan kamu saja. Eh, kita sudah sampai". Ujar Anisa.


"Mari semuanya, kita nikmati tempat kedua ini". Ujar Pak Anam.


Yang lainnya pun mengikuti arahan Pak Anam.


"Kalian bebas mau ke spot yang mana saja. Asalkan tidak keluar dari area ini. Jika waktu di museum monas kami para tutor yang menjelaskan sejarahnya, sekarang kalian mencari informasi sendiri. Kalian bisa bertanya pada pengunjung disini mungkin". Sambung Pak Anam.


"Kami boleh memakai bahasa Inggris Pak?". Tanya Eiji.


"Kalian sudah belajar bahasa Indonesia 1 tahun di negara masing-masing. Coba deh kalian implementasikan. Tujuan kalian belajar langsung di Indonesia kan untuk memperdalam pengetahuannya. Kalau memang benar-benar tidak tahu kosa katanya, Kalian boleh menggunakan bahasa Inggris. Itupun jika lawan bicara kalian memahaminya. Bagaimana, bisa dipahami?". Jawab Pak Anam.


"Siap pak. Terima kasih". Jawab para mahasiswa.


"Okee, silahkan dinikmati jalan-jalan kali ini". Ujar Anisa.


Mereka mulai berjalan menyusuri taman. Para tutor diam-diam mengawasi mahasiswanya. Untungnya mereka hanya terpecah menjadi 2 kelompok. Terkadang juga bersama-sama. Sehingga tak sulit untuk mengawasi mereka.


Anisa yang semula bergabung dengan rekannya menjauh untuk mengangkat telepon dari Abi. Ia duduk di kursi bawah pohon yang cukup rindang.


"Assalamu'alaikum Abi". Sapa Anisa.


"Wa'alaikumussalam, bagaimana kabarnya neng?". Tanya Abi.


"Alhamdulillah baik bi, Anisa baru keluar dua hari, Abi sudah kangen saja". Canda Anisa.


"Iyaa, Abi kangeeeen banget sama anak gadis satu ini, hahahaha". Tawa Abi pecah.


"Kapan pulangnya?". Tanya Abi.


"Insyaallah besok bi, tenang saja. Anisa aman kok disini". Jawab Anisa.


"Iyaa, Abi percaya. Abi kan sudah menitipkan kamu sama Farhan". Ujar Abi.


"Emangnya barang, dititipin". Canda Anisa.


"Abi pengen ngomong serius sama kamu". Ujar Abi mode serius.


"Kenapa sih bi?". Tanya Anisa.


"Huufft. Abi bingung mau mulai yang mana. Mau ngasih tahu besok kalau kamu pulang, tapi Abi pengen cepet tahu dari kamu". Ujar Abi.


"Abi kenapa sih?". Tanya Anisa.


"Kamu mau gak kalau Abi jodohin sama seseorang?". To the point Abi.


Anisa terdiam mematung. Apa harus secepat ini? Pikirnya.


"Abi gak asik ah! Masak bahas kayak gini lewat telepon sih?". Ujar Anisa mencoba mencairkan suasana.


"Ya sudahlah. Kita sambung besok saja kalau kamu sudah pulang". Jawab Abi.


"Abi gak papa kan?". Tanya Anisa.


"Gak papa sayaang. Oh iya, kamu lagi ngapain sekarang?". Tanya Abi.


"Lagi studytour bi. Sebenarnya hari ini jadwal pulang. Tapi ada perubahan jadwal". Jawab Anisa.


"Sudah dulu yaa, Abi dipanggil sama Umi tuh". Ujar Abi.


"Siap kapten! Salam buat Ibu kapten yaa, Assalamu'alaikum ". Jawab Anisa.


"Siap anak kapten. Hahahaha. Wa'alaikumussalam". Jawab Abi. Mereka memutuskan telepon.


"Huufft, kak Ical saja belum resmi sama mbak Aisyah. Masak aku udah mau nyusul". Gumam Anisa.


"Nyusul kemana?". Sahut Farhan yang menghampiri Anisa dan duduk disebelahnya.


"Hiissh, Mas Faridz ini. Ngagetin aja deh". Ujar Anisa.


"Iya-iyaa, maaf... Kamu dari tadi dicariin Hasna tuh. Eh malah disini". Ujar Farhan.


"Habis nelpon Abi tadi". Jawab Anisa.


"Ikut saya yuk". Ajak Farhan.


"Katanya Hasna nyariin?". Tanya Anisa.


"Udah diatasi sama bu Reza. Ayuuk". Ajak Farhan lagi. Anisa mengikuti Farhan berjalan ke arah penyewaan sepeda.


"Bisa naik sepeda?". Tanya Farhan.


"Dulu sih bisa, tapi udah lama gak pernah naik lagi". Ujar Anisa.


Farhan menyewa satu sepeda dan menaikinya kearah Anisa.


"Mau dibonceng?". Tanya Farhan.


"Gak mau. Sewa yang sepeda tandem aja maas". Ujar Anisa.


"Oke-oke, tunggu dulu". Jawab Farhan.


"Saya sewa yang sepeda tandemnya aja pak". Ujar Farhan pada penyewa sepeda.


"Lebih sosweet pakai sepeda ontel mbak, hahaha". Uhar sang bapak pada Anisa.


"Pengen nyoba sepeda ini pak, lain kali saja pakai yang ontel hahaha". Canda Farhan.


"Siap mas. Sewanya ke saya lagi ya". Ujar sang bapak.


"Insyaallah". Jawab Farhan.


"Kak Anisa sama Pak Farhan manis banget deh. Coba lihat itu". Ujar Eiji pada temannya yang lain.


"Ouuh... Iyaa, mereka terlihat sangat cocok". Sambung Akira.


Mereka tak sengaja melihat Anisa dan Farhan menaiki sepeda bersama dan berfoto bersama di sebuah gedung tua. Tak jarang pula mereka tertawa bersama.



"Wooaaahh. Enak yaa, kami berdua mengawasi mahasiswa sedangkan kalian menikmati wisatanya". Canda Bu Reza.


"Semoga segera terselenggara ya Pak Rektor". Sambungnya pada Farhan.


"Apa yang terselenggara?". Tanya Anisa tak paham.


"Helleh! Sok sok an gak tau pula". Jawab Bu Reza dengan menyenggol pundak Anisa.


Anisa yang tak paham pun hanya memasang wajah bingungnya.


"Kak Anisa". Panggil Hasna.


"Iya?". Jawab Anisa spontan.


"Emm, sudah azan asar". Ujar Hasna. Hasna, Rukhin, Hasan, dan Ali merupakan seorang muslim.


"Oh iya, ayo kita ke masjid terdekat". Ujar Anisa.


"Akhirnya... Ada alasan buat kabur dari bualan Reza". Batin Farhan.


Mereka melaksanakan sholat asar. Setelah sholat asar, mereka pergi mencari tempat makan. Sebelum ke bus, Anisa dan Farhan mengembalikan sepeda yang telah mereka sewa.


Mereka makan ditempat yang direkomendasikan oleh Pak Anam. Jawab tempat yang cukup nyaman untuk melepas lelah dengan santapan-santapan yang menggiurkan.



Sembari menunggu makanan datang, tutor BIPA menyempatkan untuk membaca hasil rangkuman sejarah yang dibuat para mahasiswa.


Sudah bagus untuk ukuran pembelajar asing. Mungkin kembali dari Indonesia, mereka jauh lebih jago lagi.


Mereka juga membicarakan hal-hal yang belum dipahami dan para tutor menjelaskannya. Saat berkomunikasi mereka sudah menggunakan bahasa Indonesia full. Kecuali jika ada kosakata tertentu yang belum dimengerti.


Hidangan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Hidangan ini lebih baik dari pada tadi pagi". Ujar Arata.


"Oh ya? Berarti rekomendasi dari saya berhasil lah yaa". Ujar Pak Anam.


"Saya beri nilai 80 pak". Jawab Arata.


"Syukurlah, saya tidak remidi". Ujar Pak Anam. Disertai gelak tawa dari yang lainnya.


Ternyata untuk berdiskusi masalah pelajaran dan makan membutuhkan waktu yang lumayan lama juga. Maklumlah, mereka juga berbincang-bincang sebelum benar-benar meninggalkan cafe.


Mereka menunggu sholat maghrib di masjid istiqlal. Sebelum ke masjid tak lupa perwakilan para tutor meminta izin kepada mahasiswa non muslim. Apakah mereka keberatan atau tidak.


Syukurlah mereka memahami keadaan kami. Mereka dengan senang hati berkunjung ke masjid istiqlal. Mereka tak ikut masuk ke dalam. Melainkan hanya di halamannya saja. Mereka juga memakai pakaian yang tertutup. Yaaa meskipun tak menggunakan hijab bagi wanita.


Selepas sholat maghrib, mereka berencana untuk kembali ke hotel.


"Pak, kami pengen ke ancol". Ujar Jasyi dan Eiji.


"Tapi ini sudah malam". Ujar Pak Anam.


"Besok kita sudah harus berangkat ke Jombang. Memangnya kalian tidak capek?". Tanya Anisa.


"Besokkan kita berangkat jam 10 pagi. Jadi masih bisa istirahat, lagian kami tidak capek saat ini". Ujar Arata dan diangguki pasukannya. Hahaha


"Kita bisa ke ancol. Tapi mungkin hanya di pantainya saja. Bagaimana?". Ujar Farhan.


"Tidak apa-apa pak". Jawab Jasyi semangat.


Akhirnya mereka berangkat ke pantai ancol. Tak tega melihat mereka yang begitu menginginkannya. Memang, jika hanya sehari tak cukup untuk mengelilingi wisata disetiap daerah Indonesia yang memang luar biasa.



Mereka menikmati pantai ancol. Kali ini tak ada tugas untuk mahasiswa-mahasiswa itu. Karena memang tempat ini request dari mereka. Mereka berfoto bersama Dan saling bercanda tawa.


Farhan memperhatikan Anisa yang tengah menikmati pemandangan malam dan kerlip lampu Jakarta.


"Kalau suka cuss, di tembung ke orang tuanya Han". Ujar Pak Anam yang tiba-tiba mendekatinya.


"Astaghfirullah! Bapak ini, mengagetkan saya saja. Saya lagi menikmati pemandangan malam kok". Ujar Farhan.


"Iya, menikmati pemandangan malam + bonus dihadapanmu". Jawab Pak Anam.


"Bapak ini bisa saja". Ujar Farhan.


Hari semakin malam, mereka kembali ke hotel. Sebelum ke hotel mereka menyempatkan sholat berjamaah maghrib disalah satu masjid dekat hotel.


Sesampainya di hotel mereka wajib istirahat. Sebab besok akan berangkat ke Jombang.


Bersambung....


Hari ini Lhu-Lhu up lebih awal yaa.... Nanti, tengah malam kalau Lhu-Lhu gak males, insyaallah up lagi deh 😂😂


*Untuk yang penasaran kenapa Anisa dan Farhan belum disatuin, sabar yaaa.... Semua itu butuh proses....


Eh! Atau malah gak bersatu? 💤💤💤


***OH IYA!


Bantuin lhu-lhu vote buat ningkating rating karya ini dooong :"(


Komen, like, dan Bintang limanya juga jangan lupaa!


Semangat Semuanyaaa! Semoga hari-hari para pembaca sekalian selalu barokah***.


REK! Pliisss!


Lhu-lhu minta maaf perihal cover... Saya juga gak tahu kenapa bisa berubah sendiri. Saya juga kecewaaa 😭😭😭


Jangan hujat akuuuu....


Saya masih menanyakan perihal ini kepada yang bersangkutan, jadi mohon bersabar.