Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Refreshing 2


Di sinilah Anisa dan Farhan sekarang. Di depan hamparan kebun teh yang amat luas. Farhan tahu betul sang istri sangat menyukai pandangan hehijauan seperti ini. Farhan baru saja menemukan kebun teh yang tak jauh dari kota.


"Gimana?" Tanya Farhan sembari memeluk Anisa dari belakang.


"Bagus banget Mas... Makasih ya," Jawab Anisa dengan membalas pelukan Farhan.


Di tempat ini memang tak ramai. Hanya beberapa petani yang kebetulan tengah memanen daun teh. Mungkin karena ini memang bukan tempat wisata, makanya tak ramai orang berkunjung. Farhan mendapatkan tempat ini dari teman sekolahnya dulu yang kebetulan tinggal di sekitar kebun ini.


Farhan mengajak Anisa untuk ke hulu sungai kecil. Ya! Alirannya memang tak besar, tapi kejernihan air serta ikan-ikan kecil dan tempatnya yang berada di tengah-tengah kebun teh mampu menyihir siapa pun yang melihatnya.


Dengan hati-hati Farhan membantu Anisa untuk duduk di pinggir sungai. Kakinya ia ayunkan menikmati segarnya aliran air itu. Hanya mereka berdua, dan ini sangat menenangkan.


Farhan merebahkan dirinya pada kursi. Bukan kursi, ini lebih tepat jika disebut dipan. Karena memang lebar. Anisa ikut merebahkan kepalanya pada dada bidang Farhan menikmati dedaunan yang diselipi cahaya matahari dari sela-sela daunnya. Canda tawa serta sahutan cerita terlontar dari keduanya. Menambah bumbu-bumbu keharmonisan kala ini.


"Farhan?" Panggil seseorang dari arah lain.


Anisa kembali duduk dibantu oleh Farhan. Farhan tampak menyipitkan pandangannya melihat ke arah dua orang yang memanggilnya.


"Indah, Dika?" ujar Farhan sembari memastikan.


"Iya, ini kami," jawab perempuan itu. Sembari mendekati Anisa dan Farhan ikut duduk bersama mereka.


Anisa tersenyum ramah menyambut teman suaminya itu. Farhan memang belum bertemu teman Farhan, karena masih ada urusan katanya. Tak tahunya mereka menyusul ke sini.


"Perkenalkan, ini istriku Anisa namanya," Ujar Farhan memperkenalkan Anisa.


"Apa sih bro? Udah lama itu! Lagian kita juga udah sama-sama bahagia, iyakan Ndah?" jawab Farhan kemudian menggenggam tangan Anisa erat. Jangan sampai Anisa berfikiran macam-macam. Anisa mengelus tangan Farhan lembut, menyalurkan ketenangan sekaligus memberitahunya bahwa ia baik-baik saja.


Sedangkan Indah yang mendapat pertanyaan Farhan tersenyum kaku dan salah tingkah. Anisa memang tak mengerti apa yang dimaksud perbincangan itu, tapi ia yakin jika itu bukan perkara yang penting saat ini.


Ternyata mereka bertiga adalah teman semasa MTS dulu di pesantren. Terlihat dari cerita mereka yang tampak membahas alur kehidupan tempo dulu. Anisa yang tak tahu apapun hanya bisa diam sembari mendengarkan cerita yang menurutnya tak menarik.


"Sabar ya yank, mas nggak enak kalau mau ngusir mereka. Sebenarnya Mas juga tahu kamu nggak nyaman," tulis Farhan melalui pesan chat whatsApp.


"Iya Mas, nggak papa... Ngobrol aja dulu, nanti baru jelasin ke aku hubungan kamu dulu sama wanita itu!" Jawab Anisa.


Farhan susah payah menelan ludahnya. Dapat dipastikan, di balik senyuman manis mempesona itu, sang istri pasti marah.


"Kita cari makan yuk Han! Biar istriku sama istrimu di sini. Nanti kita bawa kemari," Ujar Dika.


Anisa mengangguk dan tersenyum meyakinkan Farhan agar bersedia.


"Sayang, kamu mau makan apa? Biar Abi carikan," Ujar Farhan dengan mengelus lembut perut Anisa. Setelah itu beralih menatap istrinya. Ia bahkan tak peduli dengan keberadaan pasangan satunya itu.


"Mau baby cumi Mas," rengek Anisa.


"Siap bos laksanakan! Abi pergi sebentar ya anak-anak Abi," jawab Farhan.


...Bersambung... ...