
Bahagia. Satu kata yang muncul dalam benak Bunda. Bunda begitu senang ketika Farhan meresmikan pengkhitbahannya dengan Anisa.
Kini Bunda tengah bercengkrama dengan Anisa di ruang keluarga. Pagi-pagi sekali, Bunda menyuruh Farhan untuk menjemput Anisa.
"Gimana? Ada yang tertarik sayang?". Tanya Bunda.
Bunda tengah menunjukkan beberapa desain dekorasi WO serba-serbi pernikahan untuk Anisa dan Farhan.
"Kok glamour semua ya bun? Anisa pengen yang biasa aja". Jawab Anisa.
"Ah, kamu mah gitu. Bunda pengennya pernikahan kalian tak terlupakan". Ujar Bunda.
"Walaupun biasa, gak mungkin terlupakan Bunda". Jawab Anisa.
"Pokoknya Bunda gak mau yang biasa aja. Bunda aja yang pilihin, nanti Bunda nimbrung sama Umi". Ujar Bunda.
"Kalau akhirnya para orang tua yang milih, kenapa ngajak Aku milih sampe poseng. Hedeeeh, aku mah nerimaan orangnya hehehe". Batin Anisa.
"Kalau baju pengantinnya sudah Bunda sama Umi diskusikan, nanti kamu ke butik fiting gaun sama Farhan yaa". Ujar Bunda.
"Siap Bunda". Jawab Anisa.
"Bunda gak sabar kamu nikah sama Farhan. Pengen lihat kamu terus tiap hari satu rumah". Ujar Bunda.
"Ntat Bunda bosen, lihat Anisa mulu, hehehe". Canda Anisa.
"Ya enggak laah, sini". Jawab Bunda, dengan mengisyaratkan agar Anisa merebahkan kepalanya di paha.
Bunda mengelus kepala Anisa dengan sayang. Ntah kenapa sejak pertama bertemu, Bunda begitu sayang pada Anisa.
"Anisa sangat beruntung punya calon mertua seperti Bunda". Lirih Anisa.
"Bunda juga beruntung punya calon menantu seperti Anisa". Jawab Bunda.
"Anisa takut, Bunda kaget kalau tahu sifat Anisa yang sebenarnya. Bunda jangan berubah yaa". Lirih Anisa lagi.
"Berubah jadi iron man? Hahaha, semoga acaranya lancar ya sayang". Ujar Bunda.
"Aammiiiin ya Allaaah". Jawab Anisa.
Farhan Pov
Seneng banget lihat Bunda tersenyum merekah seperti itu. Semoga semua lancar ya Allaaah. Tak ada halangan suatu apapun.
"Kita kebutik sekarang Nis?". Tanyaku setelah duduk di sofa. Anisa langsung duduk. Kaget mungkin melihat saya yang tiba-tiba datang. Padahal dari tadi aku memperhatikan mereka dari tangga.
"Panggilnya kok Nas Nis Nas Nis sih Haaan? Yang soosweet gitu lhoo". Serka Bunda.
"Bundaaa, panggilan sayangnya kalau sudah halal. Ntar Farhan khilaf lagi. Hahha". Candaku.
"Kok Anisa jadi merinding kalau mau jalan berdua aja sama mas Faridz". Ujar Anisa.
"Hahaha, aman Nis. Sudah terkontrol ini". Jawabku nglantur.
"Kok tambah serem yaa. Ayuk dah mas, berangkat sekarang". Ajaknya.
"Jangan macam-macam kamu Farhan". Pesan Bunda.
"Tenang Bun. Farhan cuma bercanda tadi. Astaghfirullah, kayak gak kenal Farhan aja dah. Farhan sama Anisa pamit. Assalamu'alaikum". Pamitku dengan menyalami Bunda diikuti Anisa.
"Bundakan cuma was-was, Wa'alaikumussalam". Jawab Bunda.
"Nanti mampir kesini lagi sebelum antar Anisa yaa Han?". Teriak Bunda.
"Siap Bundaku sayang". Jawabku dengan berteriak juga. Hahahaha.
Butik
"Butik ini langganannya Bunda sama Umi yaa? Kemarin kesini, sekarang kesini lagi". Ujar Anisa ketika didepan butik.
"Butik disini kan bagus-bagus sayang. Eh! Kaan, malah keceplosan". Jawabku keceplosan. Bisa-bisanya mulut gak terkontrol.
"Kaaan, gak usah ngegoda deh". Jawabnya meninggalkan ku masuk.
Orang aku gak goda dia kok. Ini tadi murni keceplosan. Beneran dah. Suuwiir.
Ku susul deh Anisa ke dalam. Padahal semua gaunnya sudah dipilihin sama Umi dan Bunda. Kenapa dia masih milih-milih dah.
"Mau nambah gaun yang?". Candaku. Kalau ini murni ngegoda, hehehe.
"Mulutnya minta di plester yaa". Jawabnya sewot. Hahaha, lucu sekali muka merahnya itu.
"Yang ini bagus deh yang". Sepertinya aku mulai menjadi. Hahahaha.
"Maaas, aku tinggal lho. Gak usah manggil gitu deh. Risih". Jawabnya.
"Saya kan latihan, sebelum nikah sama kamuu. Biar kebiasaan". Jawabku terkekeh.
"Hiiish". Hahahha, benar-benar lucu.
"Mbak Nana, gaun yang dipilih Bunda mana ya? Mau saya coba sekarang. Males lama-lama bareng sama orang sarap". Ujar Anisa dengan melirikku.
"Tapi sayangkan sama orang sarap". Bisikku.
"Adudududuud, ampuuun!iyaa, gak lagi deh". Ujarku pura-pura kesakitan.
"Dasar ngeselin!". Umpatnya.
"Ini mbak, mari saya bantu". Ujar Mbak Nana.
Anisa mencoba gaunnya dan aku mencoba jas ku. Perfect. Pilihan Bunda memang yang terbaik.
Kok Anisa lama banget yaa.
"Terima kasih ya Mbak. Sudah pas semua". Ujar Anisa pada Mbak Nana.
"Sama-sama mbak, semoga lancar semuanya mbak". Jawab Mbak Nana.
"Aammiiiin".
"Kok gak ditunjukin ke saya?". Tanyaku.
"Kan biar jadi kejutan sayang akooh". Jawab Anisa. Oh! Oh! Oh! Mau ikutan ngegoda ternyata. Hahahah.
"Emmmm, sudah mulai sayang nih yeee". Jawabku mendekatinya. Hahahha, wajahnya langsung menciut. Aduuuuuh, gak kuat aku nahan tawa.
"Maaas, malu ah! Jangan ketawa teruuuus". Ujarnya
"Kan kamu yang mancing". Jawabku.
"Hiiish. Udah ah! Saya pamit dulu mbak Nana, assalamu'alaikum". Ujar Anisa dan langsung meninggalkanku yang masih menstabilkan tawaku. Hahaha.
"Bahagia banget masnya punya Mbak Anisa, hahaha. Semoga langgeng mas". Ujar Mbak Nana.
"Alhamdulillah mbak, aammiiiin, Terima kasih mbak". Jawabku.
"Saya susul calon istri saya dulu. Kasihan dari tadi nahan malu. Hahaha, assalamu'alaikum". Pamitku.
"Wa'alaikumussalam". Jawabnya.
Kususul Anisa ke mobil. Kulihat dia tak mau menghadap ke arahku. Hahhaa, masih marah ternyata.
"Udah lah, kan lagi belajar buat mesra". Ujarku dengan menahan tawa.
"Gak lucu". Jawabnya.
"Iya iya, maaf... Mau langsung pulang kerumah Bunda atau mau makan es krem dulu?". Untung aku tahu cara balikin moodnya. Hahaha.
"Es krem dong". Jawabnya semangat.
"Siap Ibu Negara". Jawabku.
Kami meluncur ke tempat langganan yang biasa kami datangi.
"Aku nyolong fotonya mas". Ujar Anisa.
"Gak papa, curi aja sebanyak-banyaknya. Kalau kamu kangen kan bisa lihat tu foto". Jawabku.
"Hiiish! Kepedean. Mas lagi liatin apa sih? Kok senyum-senyum gitu lihat hp?". Tanyanya.
"Hiyaaa, yang mulai posesiv". Godaku.
"Mana lah. Kan aku cuma tanya". Elaknya.
"Nih. Lihat dah". Ku berikan gawaiku padanya.
"Buat apa?". Tanyanya.
"Dicek dong. Biar makin yakin milih sayanya". Jawabku. Dengan ragu ia mengambil gawai ditanganku.
"Gak papa, ambil ajah". Ujarku.
Anisa mulai membuka gawaiku. Aku memang tak pernah mengunci gawaiku. Sebab memang tak ada privasi. Hahaha. Tak tahu kalau sudah menikah nanti. Hahaha.
"Bapaknya Spongebob?". Tanyanya heran.
"Itu Kak Ical". Jawabku.
"Dari tadi kalian chatingan berdua?". Tanyanya.
"Bertiga, sama Kak Aisy". Jawabku.
"Huufft! Pantas saja Mbak Aiys selalu tahu kegiatanku diluar rumah. Ternyata Mas Faridz pelakunya". Ujarnya.
"Hehehe, kita pulang sekarang yuk". Ajakku.
"Ayuk dah. Ini hpnya". Jawabnya.
Sesuai perintah Bunda. Kami kembali ke mansion sebelum ku antarkan Anisa pulang. Bunda memang terlanjur sayang dah sama istriku. Eh! Istri. Calon maksudnya.
Sampai-sampai lupa mana anaknya yang sebenarnya. Hahaha. Tapi aku bahagia melihat Bunda bahagian dengan Anisa. Ayah dan aku juga tentunya.
Bersambung....