
Kak Ical akhirnya mau untuk menjemput Faiz dan Husna. Meskipun Anisa dan Kak Aisy harus bersusah payah terlebih dahulu merayunya. Kini kedua anak itu sudah berada di mansion.
Husna tengah mengelus perut Anisa. Sudah satu jam lamanya Anisa duduk bersender pada kepala ranjang dengan Husna di samping.
Padahal esok hari rombongan pesantren juga akan ke sini untuk khataman bersama. Tapi tetap saja Husna mau pulang hari ini juga. Jadilah Kak Ical berangkat setelah subuh agar jalanan tak macet.
"Jadi gini ya kak kalau hamil kembar itu," Celetuk Husna. Anisa tersenyum sembari menoel hidung Husna.
"Ya mau kek mana? Hahaha, aneh-aneh aja kamu ini," Jawab Anisa dengan membenarkan posisi duduknya agar nyaman.
"Berat nggak Kak?" Pertanyaan nglanturnya mulai muncul.
"Pertanyaan kamu kok gitu sih dek? Kita lalaran Al-Quran yuk! Udah lama kita berdua gak lalaran bareng," Anisa mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dengan antusias Husna menyetujui. Ia segera mengambil Al-Quran yang ada di rak kamar kakak iparnya. Diberikannya kepada Anisa kemudian Husna memulai lalaran. Kemudian bergantian dengan Anisa.
Lebih dari satu jam mereka berdua menyimak tiap bacaan satu sama lain secara bergantian.
"Ngantuk Kak," Ujar Husna.
"Wudu dulu yuk! Kita salat zuhur, habis itu tidur siang," Ajak Anisa.
Mungkin jika ada Farhan, Husna akan di usir sekarang juga. Beruntungnya Husna, sang kakak tengah berada di kampus. Jadi ia bisa leluasa masuk ke kamar Farhan dan Anisa.
Tanpa meminta persetujuan Anisa, Husna sudah berbaring di tempat tidur super nyaman itu. Anisa sama sekali tak terusik. Justru ia senang, jika bisa akrab dengan keluarga suaminya.
Husna memeluk Anisa dan sesekali mengelus perut buncitnya. Rasa gemas itu tak dapat dihindari! Bahkan saat pertama kali mendengar kabar soal hamil kembar Anisa, ia sudah memohon-mohon pada pada Bu Nyai agar diizinkan untuk pulang.
Tak berselang lama, akhirnya Husna tertidur. Perjalanan tiga jam dari pesantren tentu saja sangat melelahkan. Anisa menyalakan televisi untuk mengusir rasa bosannya. Ia ingin tidur siang juga, tapi rasa kantuknya tak juga datang.
.
.
.
"Iya, sama adek kamu tadi," Jawab Bunda tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
"Faiz udah pulang?" Tanya Farhan lagi.
"Belum, Uminya kesini barusan tadi. Lagi di kamar tamu. Temu kangen kayaknya." Jawab Bunda lagi.
"Abi-mu juga kesini, main catur kayaknya sama Ayah kamu dan Mbah Kakung," Sambung Mbah Uti.
"Ya udah Bunda, Mbah Uti, Farhan ke atas dulu," Pamit Farhan. Tak lupa ia mencium pipi kedua wanita itu.
Farhan membawakan martabak telur untuk istrinya. Ia tak tahu istrinya suka atau tidak. Ini berawal dari rasa kasihan melihat kakek tua yang menjual martabak. Sepertinya masih sepi, jadilah Farhan berhenti dan membelinya. Ia ke dapur terlebih dahulu untuk menyalin ke piring, barulah ia bawa ke kamar.
Cklek!
"Assalamu'alaikum," Sapa Farhan.
"Wa'alaikumussalam, udah pulang Mas?" Jawab Anisa dan berusaha memindahkan tangan Husna hendak beranjak.
"Syuut, hati-hati sayang," Ujar Farhan membantu Anisa menyingkirkan tangan adiknya dan duduk.
Anisa mencium tangan Farhan dan tersenyum sangat manis.
"Ya Allah, senyuman kamu Yang... Klepek-klepek abang," Canda Farhan.
"Haiissh! Gombal," Rona merah mulai terpancar di pipi cuby Anisa. Semenjak hamil, Anisa tampak lebih berisi. Tapi tentu saja tak menghilangkan aura pancaran kecantikannya.
...Bersambung... ...