Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Sekejap Garang Sekejap Tak


Farhan POV


"Assalamu'alaikum," Sapaku. Di luar prediksiku. Ternyata aku sampai rumah setelah maghrib. Bahkan aku tadi salat maghrib di masjid arah pulang.


"Wa'alaikumussalam," Jawab seseorang dari dalam.


Ternyata Anisa yang membukakan pintu. Senyuman handalku yang telah berlevel platinum sudah bertengger dengan otomatis di wajahku. Naas! Hanya senyuman sekilas sebagai balasannya. Setelah mencium tangan dan mengambil tas kerjaku ia langsung meninggalkanku.


Padahal siang tadi ia sudah berbicara manis di telepon. Kenapa sekarang masam lagi? Aku hanya mlongo dibuatnya. Mau tak mau aku hanya mengikutinya dari belakang. Ternyata semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga.


"Baru pulang Han?" Tanya Mbah Kakung.


"Iya Mbah, tadi ada mahasiswa minta bimbingan skripsi juga," Jawabku sembari menyalami mereka yang ada di sana.


"Neng? Kamu ambilkan makan malam buat suamimu yaa," Ujar Umi.


"Pasti udah tahulah Mi, yaa kecuali kalau lagi ngambekan." Sahut Ical.


Mancing-mancing aja tuh mulut. Minta di lakban dah.


"Siapa yang ngambek?" Tanya Abi spontan.


"Gak tahu dah Bi," Jawab Ical dengan melirikku. Kubalas ia dengan pelototan.


"Kak Ical mah ngawur!" Jawab Anisa. Kemudian naik ke lantai atas.


"Saya ke atas dulu," Pamitku.


"Iya Han," Jawab Abi. Dan yang lainnya dengan anggukan.


.


.


.


Baju ganti Farhan telah tertata rapi di atas ranjang. Anisa memilihkan baju hitam dengan celana kain moca.


"Makasih sayangku," Ujar Farhan.


Tak menjawabnya Anisa meninggalkan Farhan keluar kamar.


Huufft... Hanya hembusan napas frustasi yang dapat Farhan lekukan saat ini. Niatnya hendak mengajak makan malam di luar sekaligus menjelaskan duduk masalah, eh malah ia pulang kesorean. Tentu saja Anisa sudah makan malam.


.


.


.


Baru saja Farhan selesai mandi,


Cklek! Anisa kembali dengan nampan berisi makanan di atasnya. Di letakkannya pada meja sofa kamarnya. Sekali lagi Anisa hendak keluar,


"Yaang? Temenin Mas ya?" Pinta Farhan.


Anisa mengangguk dan duduk di sofa. Diikuti Farhan di sampingnya.


"Udah makan?" Tanya Farhan. Anggukan menjadi handalan Anisa saat ini. Apa memang lagi trand-nya?


Dentingan antara sendok dan piring kini menghiasi suasana kamar. Farhan tengah makan sambil memandangi istrinya yang sedang senyum-senyum sambil memandangi gawainya.


"Ngapain senyum-senyum gitu?" Tanya Farhan.


Tak ada sahutan dari lawan bicaranya. Rasa geram mulai menyelimuti relung hati Farhan. Disahutnya gawai Anisa.


Apa! Sang istri tengah menonton live IG laki-laki lain dihadapan suaminya sendiri.


"Apa ini?" Tanya Farhan setelah meletakkan piringnya.


"Hp," Jawab Anisa.


Pintar. Iya, benar. Yang ditunjuk Farhan adalah hp.


"Iyaa, Mas tahu ini hp. Tapi kamu nonton apa? Gini ya cara kamu balas Mas? Kamu diamkan Mas dengan pamer lagi lihatin cowok lain?" Tanya Farhan dengan menuntut penjelasan Anisa.


"Apa sih Mas?" Anisa mencoba meraih gawainya.


"Tunggu-tunggu! Kamu sama sekali gak mau dengarkan penjelasan Mas. Jadi rencana kamu mau balas Mas dengan nonton pria lain juga?" Tegas Farhan.


"Apa sih! Terserah Mas ajalah!" Anisa meninggalkan Farhan sendiri.


"Gara-gara elu! Gua tambah marahan sama bini gua!" Farhan memaki-maki seorang cowok yang tengah menjawab komentar di live IG-nya. Dimatikan dan segera ia mencari Anisa keluar.


"Cal? Anisa mana?" Tanya Farhan pada Kak Ical yang kebetulan keluar kamar.


"Meneketehek?" Jawab Kak Ical.


Faisal beralih ke ruang keluarga tapi tak ditemukannya Anisa di sana. Tunggu! Mbak Aiys juga gak ada. Itu berarti Anisa ada dikamarnya.


"You smart Farhan," Gumam Farhan.


Tok! Tok! Tok!


Dengan perlahan Farhan mengetok pintu kamar kakak iparnya itu.


Cklek!


Mbak Aiys menarik tangan Farhan menuju ruang kucing.


"Kok disini sih Mbak?"Tanya Farhan.


"Syuuutt, pelan-pelan," Bisik Mbak Aiys.


"Eh! Mbak mau perkosa aku!" Teriak Farhan.


"Babo! Kamu kok bisa di angkat jadi rektor sih? Gak ada yang lebih pintar apa?" Mbak Aiys menoyor kepala Farhan.


"Apa yang mau kamu tanyain?" Sambung Kak Aisy.


"Ini siapa?" To the poin Farhan menanyakan screenshot yang ia ambil di hp Anisa.


"Kamu gak kenal?" Mbak Aisy kembali bertanya.


"Kalau Saya kenal, gak mungkin tanya ke sampean," Jawab Farhan.


"Iya ya, ya udah! Ini tuh putra Kyai," Ujar Mbak Aisy.


"Ngapain Anisa live IG sama dia?"


"Gini ya Farhan. Itu namanya Gus Makhrus. Beliau dari lirboyo. Dari dulu Anisa ngefans banget sama beliau. Udah gitu aja. Gak ada yang lain. Hanya sebatas ngefans. Mungkin kalau disuruh milih antara kamu dan Gus Mahrus, Anisa bakal milih Gus Mahrus," Ujar Mbak Aisy.


"Jangan sembarangan Mbak, gantengan aku kaliii. Ya udah, aku mau ketemu Anisa," Jawab Farhan.


"Jangan dulu. Anisa masih pengen sama aku. Nanti aja habis isya' kamu bujuk lagi,” Ujar Mbak Aisy.


.


.


Rencana awal hendak berbicara empat mata dengan sang istri, malah diajak Mbak Kakung dan Abi main catur. Akhirnya Farhan menuruti permintaan Mbak Kakung terlebih dahulu.


"Udah jam 10 ege! Katanya mau bujuk Adek gua?" Bisik Kak Ical yang juga ikut main.


"Farhan ke kamar dulu ya Kek, Abi?" Pamit Farhan.


Betapa kagetnya ia ketika sudah malam sekali untuk membicarakan permasalahannya.


Cklek! Perlahan Farhan masuk. Wajah ayu itu telah terlelap dengan anggunnya di tempat tidur. Setelah bersih-bersih Farhan segera mengikuti sang istri. Dipeluknya dengan erat mumpung sang pemilik tubuh tengah terlelap.


.


.


.


"Emmhh, ssshhh," di tengah keheningan malam seseorang tengah merintih dengan melilit perutnya.


Farhan yang sadar dengan pergerakan dipelukannya segera bangun.


"Sakit lagi?" Lirih Farhan. Anggukan lemah sebagai isyarat sang lawan bicara.


Dipeluknya lagi sembari menjauhkan tangan Anisa yang menekan perutnya. Perlahan Farhan memasukkan tangannya menyentuh kulit halus itu dan mengelusnya. Rutinitas saat sang istri datang bulan.


Bersambung....


Merapat ke novel baru Lhu-Lhu gaeessss