
...Lama review-nya. Yang aslinya up Malam malah nggak tahu kapan ini nanti. Hmmm...
Wardah dan Anisa kini tengah berada di ruangan Farhan. Bercerita panjang lebar tak tahu arah lagi.
"Pokoknya harus di Jombang sampai aku selesai 7 bulanan," ujar Anisa.
"Ya nggak tahu nanti, kan aku numpang ke sininya," jawab Wardah dengan muka sok melas.
"Aman dah! Nanti bumil yang ngomong sama bos kamu," ujar Anisa mantab.
Sedangkan di belahan ruangan lain, tampak Farhan tengah duduk di samping Eza. Sembari menunggu acara di mulai, tampak Eza sesekali memberi senyum untuk Pak Rektor muda di sampingnya.
"Wardah amankan Pak sekarang?" pertanyaan konyol muncul dari Eza. Ia dari tadi menunggu wanitanya kemari tapi tak datang-datang.
"Jangan panggil Pak, saya belum tua Mas. Panggil saja Farhan. Terlalu formal juga kalau panggil Pak. Hahaha," jawab Farhan.
"Siap Mas. Sampean panggil saya Eza saja Mas. Saya yakin kalau njenengan itu sebenarnya umuran di atas saya, hehehe," ujar Eza.
"Kamu asli Jakarta? Tapi kok paham bahasa Jawa?" tanya Farhan heran. Sepertinya mereka semakin terbuka dan akrab kali ini.
"Saya aslinya Jogja Mas. Yaa, karena bisnisnya di Jakarta, jadinya menghabiskan waktu di Ibu Kota," jawab Eza. Farhan manggut-manggut menanggapi.
"Wardah bagaimana Mas?" tanya Eza lagi. Karena pertanyaannya memang belum dijawab.
"Kamu suka sama Wardah? Atau sudah pacaran?" bukannya menjawab, lagi-lagi Farhan bertanya.
"Saya hanya memastikan keadaannya Mas," jawab Eza gelagapan.
"Wardah aman bersama istri saya, mereka berdua sahabat sejati yang sulit untuk pecah, tenang saja." ujar Farhan.
Eza mengangguk mengiyakan hingga kini tibalah gikiran Farhan untuk memberikan kata sambutan. Dan dilanjutkan untuk acara inti yakni perbincangan narasumber yang ditunggu-tunggu.
Gedung seminar ini tampak ramai dengan mahasiswa-mahasiswa atau bahkan masyarakat umum. Karena memang seminar ini dibuka untuk umum. Siapa sih yang tak kenal dengan sosok Arzan Altezza Raditya Balindra? Hampir seluruh penjuru mengetahui sosok itu. Laki-laki muda yang sangat berbakat dalam mengelola kinerjanya. Bahkan sepertinya Farhan kalah saing. Hahahaha.
Riuhan tepuk tangan dan sorakan menggema dalam gedung nan megah ini. Untung saja pengunjung seminar dibatasi, jika tidak, dapat dipastikan Universitas ini akan menjadi lautan Mahasiswa atau ciwi-ciwi yang sebenarnya tak niat belajar hanya ingin menikmati ketampanan Eza. Hahahaha.
Bahkan kini sebelum Eza dan Farhan keluar, mereka harus dijaga oleh segerombol petugas keamanan. Mencegah para pengunjung untuk mengganggu narasumber yang sekedar hanya meminta foto atau memberikan hadiah. Sudah ngalahin artis dari agensinya saja ini orang.
"Saya butuh berbincang empat mata bersama anda sebelum kita menemui Wardah dan istri anda," ujar Eza tak menanggapi ujaran Farhan tadi.
"Mari, ikuti saya," jawab Farhan mengajak Eza ke ruangan meeting.
"Kenapa anda mengatakan hal itu pada saya?" pertanyaan apa itu? Justru sebenarnya Eza saat Farhan memberikan kepercayaan mengenai Wardah.
"Saya tahu betul mana tatapan cinta lelaki dengan tatapan untuk karyawannya, hahaha" jawab Farhan diselingi tawa renyahnya.
"Kenapa Wardah bisa cerai?" tanya Eza. Ini macam sesi tanya jawab dalam presentasi saja. Hahaha. Bukan-bukan! Ini seperti seorang polisi tengah mewawancarai tersangka.
"Mantan suaminya brengsek! Dulu ia ngemis-ngemis minta pada Bundanya Wardah untuk menikahi anaknya. Setelah Bunda mengizinkan, ternyata Wardah hanya sebagai lampiasan kekesalannya melihat Anisa menikah dengan saya," jelas Farhan.
Ntah mengapa Farhan bisa menceritakan hal ini pada Eza. Padahal mereka baru saja berbincang beberapa hari yang lalu. Itupun membahas mengenai konsep seminar. Farhan rasa Eza benar-benar sungguh dalam mencintai Wardah. Sedari tadi ketika mengisi seminar, ia tampak gelisan melihat ke arah pintu seolah memastikan bidadarinya muncul dengan baik-baik saja.
"Lalu kenapa anda tak mencegah pernikahan Wardah jika anda tahu tatapan orang yang benar-benar mencintai dan yang tidak?" tanya Ezo.
"Saya dan Anisa bertemu langsung dengan Wardah dan mantan suaminya saat prosesi akad nikah. Saya menyadari tatapannya yang menjurus kepada istri saya setelah ijab qabul itu selesai di lantunkan. Saya bisa apa saat itu?" jelas Farhan.
"Hingga saat itu saya dan istri saya menyusun rencana untuk mempersatukan mereka. Berharap cinta di antara mereka bisa tumbuh. Tapi sepertinya sia-sia. Hahaha," sambung Farhan.
Eza hanya menyimak setiap penuturan Farhan dengan seksama. Kini ia yakin akan hatinya. Ia harus menciptakan kebahagiaan untuk wanita pujaannya itu.
Selesai sudah perbincangan mereka berdua. Eza mengajak Farhan untuk menemui Wardah.
Cklek!
"Assalamu'alaikum," sapa Farhan dan Eza.
"Waalaikumussalam," jawab Anisa dan Wardah dari sisi ruangan ini.
Indra penciuman mereka bekerja saat ini. Bau sedap sangat menggugah selera. Farhan melangkahkan kakinya menuju dapur dan Eza mengikutinya. Eza sesekali mengamati interior ruang kerja Farhan. Tak buruk juga desainnya. Tampak dua wanita itu tengah disibukkan dengan bahan-bahan masakan. Satu hidangan tampak sudah tersaji di atas meja makan.
...Bersambung.......