
...Maafkan Lhu-Lhu yang lama tidak update novel Farhan dan Anisa. Berikut ini merupakan detik-detik ketamatan cerita mereka.... Selamat membaca......
Sudah seminggu ini Farhan tak ke Universitas. Ia hanya memantau dari rumah. Sebagai gantinya, Ayahlah yang memantau secara langsung. Anisa sama sekali tak mengizinkan Farhan pergi. Ia ingin selalu bersamanya. Setiap saat, every day, every time, every night.
Detik-detik lahiran si kembar, membuat Bianya semakin manja. Ya! Saat ini Anisa sudah memasuki bulan ke sembilan. Menurut perkiraan dokter, satu minggu hingga dua minggu ini Anisa akan melahirkan si kembar.
Seperti biasa, di sepanjang harinya, Anisa atau Farhan akan mendengarkan murotal atau sholawat nabi untuk asupan si kembar. Pagi harinya atau setelah menyelesaikan murajaah Al-Quran, Farhan akan mengajak Anisa berjalan-jalan di sekitar perumahan. Untuk melancarkan persalinannya nanti kata sang dokter.
Mulai pagi tadi perut Anisa tampak mules-mules. Terkadang mules itu datang, dan terkadang hilang. Ia juga sudah kesekian kalinya bolak-balik ke kamar mandi.
Farhan sudah menyiapkan perlengkapan persalinan Anisa. Seluruh keluarga besar juga sudah berkumpul di mansion. Bahkan Mbah Uti dan Mbah Kakung yang berada di Jogja juga sudah hadir di sini.
Anisa berkali-kali menelepon Wardah agar ikut hadir di sini pula. Sontak Wardah segera pulang ke Jombang bersama Bunda. Tak lupa Eza tentunya. Tapi sepertinya sore nanti sahabatnya itu sampai.
Farhan segera mengantarkan Anisa didampingi Bunda dan Umi. Sampai di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa itu hanya kontraksi sementara. Akhirnya mereka kembali lagi ke mansion. Karena prediksi dokter esok hari mungkin baru pembukaan.
Farhan tampak bingung menghadapi situasi seperti ini. Aura-aura bingung ditambah panik mulai menyelimuti wajahnya. Maklumlah, ini perdana baginya menghadapi detik-detik lahiran.
"Tidak apa, bismillah... Semua akan baik-baik saja," ujar Ayah menenangkan sang anak.
Saat ini Anisa tampak sehat-sehat seperti biasanya. Tak ada rasa mules lagi. Bahkan kini ia tampak santai mengemil makanan sembari menonton tv. Dikelilingi keluarga yang lain.
...****************...
Kini Wardah tampak menemani Anisa di kamarnya setelah melaksanakan sholat maghrib. Sembari Wardah melantunkan bacaan Al-Quran kepada si kembar yang sebentar lagi insyaallah akan bertemu mereka.
Sedangkan Farhan tampak berbincang santai bersama Ayah, Abi, Mbah Kakung dan Eza yang tengah menjadi narasumber. Ya! Mereka tampak kepo dengan Eza setelah mendengarkan kabar jika ia dan Wardah akan segera melakukan lamaran resmi.
"Besok aku diamanahi Mama Sarah untuk ikut nganterin Alif ke pesantren, jadi ke rumah sakitnya aku nyusul ya?" tanya Wardah lirih setelah menyelesaikan murajaah.
"Iya nggak papa. Lihat kamu di sini aja aku udah seneng banget. Caca katanya kan juga mau ke sini," jawab Anisa.
"Iya, dia ngeyel mau ngurusin perintilan lamaran," jawab Wardah.
"Aku lega ada Caca sebagai perantara antara kamu dengan Eza," ujar Anisa. Wardah tersenyum dan mengangguk antusiasnya.
...****************...
Pagi-pagi buta Eza dan Wardah sudah kembali ke rumah. Ya! Semalam mereka menginap di mansion Farhan. Mereka harus kembali untuk mengantarkan Alif ke pesantren. Eza sempat menghubungi karyawannya yang bekerja di kantor cabang Jombang untuk mengantarkan mobil. Karena Eza memang tidak membawa mobil dari Jakarta.
Di beberapa daerah memang ada kantor cabang Eza. Meski tidak semuanya besar, tapi hampir menyeluruh di Indonesia bahkan ada beberapa di luar negeri. Pusatnya tentu saja di Jakarta.
Kembali pada Anisa dan Farhan! Jadilah mereka akan ke rumah sakit tanpa Wardah dan Eza. Mereka akan menyusul nanti selepas mengantarkan Alif. Sebagai gantinya, Bunda Wardah yang akan datang. Jangan salah, mereka sudah seperti keluarga inti, sangat akur antara keduanya.
...Bersambung ...