
"Eh! Air putihnya habis, aku ambil dulu ya?" Ujar Anisa.
Bukan Wardah jika tak tahu maksud akal terselubung Anisa. Tentu saja ia tak mengizinkan. Diambilnya gelas Anisa lalu berjalan keluar kamar. Anisa melongo dibuat Wardah. Gagal rencananya.
"Sabar ya anak-anak Bia, nanti kita cari akal lagi gimana kita ketemu Abi. Oke nak," Gumam Anisa dengan mengelus perutnya perlahan. Jangan lupakan muka sedih yang dibuat-buatnya itu.
Farhan yang mendengar suara pintu terbuka segera menoleh ke sumber suara. Eng ing eng! Zonk! Tak sesuai harapannya.
"Kok belum tidur Mas?" Tanya Wardah yang menuruni anak tangga.
"Belum ngantuk!" Jawab Farhan singkat. Wajahnya dipalingkan ke televisi kembali.
"Ouh.." Jawab Wardah ber-oh ria.
"Aku ke kamar dulu ya Mas, selamat malam," Pamit Wardah setelah mengambil air minum.
"Ya!" Super singkat, padat, tegas.
.
.
.
Malam semakin larut. Tapi mata Anisa belum juga terpejam. Ia ingin tidur dengan sang suami tercinta. Dilihatnya Wardah sudah tertidur dengan deru napas yang teratur. Perlahan-lahan Anisa turun dari tempat tidur dan mengenakan jilbab sorong bergonya.
Mengendap-endap menuju pintu dan membukanya dengan sangat hati-hati. Ia tahu betul Wardah sangat sensitif pendengarannya waktu di pesantren. Orang membuka pintu asrama saja ia bisa sadar. Semoga saja sekarang sudah sembuh. Tak seperti dulu.
Alhamdulillah, akhirnya manusia itu tak terbangun. Setelah menutup kembali pintu kamar, Anisa kembali mengendap-endap menuruni tangga.
Matanya tertuju pada sang suami yang tengah tertidur di sofa ruang keluarga dengan televisi yang masih menyala menontonnya tidur.
"Mas," Panggilnya lirih dengan mengisap rambut lembut Farhan.
"Mas," Panggilnya lagi.
"Hemm?" Gumamnya perlahan-lahan membuka mata.
"Yang? Sudah subuh? Mas ketiduran disini ya?" Tanya Farhan.
"Belum subuh, baru jam setengah sepuluh kok. Anak-anak kita mau bobok sama Abi-nya," Jawab Anisa dengan mengelus perutnya.
"Udah bobok. Adek tinggal deh," Bisik Anisa.
Tanpa aba-aba, Farhan bangun dan membopong tubuh Anisa menuju kamar tamu. Bahagia? Tentu saja dong.
"Adek makin kerasa dibopong, kalau kemarin-kemarin gak ada rasanya," Ledek Farhan sembari membaringkan ke tempat tidur.
"Ngledek aja terus! Adek mau tidur sama Wardah ajah!" Balas Anisa.
"Jangan gitu dong, ayuk tidur sayangku...." Farhan mengambil posisi di samping Anisa memeluknya seperti biasa.
.
.
.
Setelah sarapan pagi, Anisa dan Farhan bersiap untuk pulang. Sepertinya ada tugas negara yang harus dikerjakan sang empu. Ayah dari tadi sudah menelepon Farhan berulang kali.
"Mas Farhan mah gitu! Anisa masak diambil sih tadi malam. Kan aku nyariin," Sewot Wardah sebelum sahabatnya itu masuk ke mobil.
"Hehehe, maaf Wardah... Dedek bayinya pengen dipeluk Abinya, bukan aunty-nya." Jawab Farhan di balas tawaan Bunda dan Kak Ina.
.
.
Sampai di mansion, Farhan segera mengikuti Ayah ke ruang kerja. Sedangkan Anisa duduk di sofa ruang keluarga bersama Bunda dan Mbah Uti.
"Mbah Kakung dimana Bun?" Tanya Anisa.
"Lagi ke rumah Umi, kangen cicitnya, hahaha," Jawab Mbah Uti dengan gelak tawanya. Ia masih tak percaya jika kini telah menjadi buyut. Hahaha.
"Sayang, sepertinya Farhan harus keluar negeri deh! Kamu gimana? Di rumah atau ikut?" Tanya Bunda. Tadi Bunda sempat berbincang-bincang dengan Ayah mengenai kerjasama antar Universitas di luar negeri. Program BIPA sepertinya.
"Anisa terserah Mas Faridz aja Bunda, di rumah saja juga gak papa. Tapi Anisa takutnya Mas Faridz yang tiba-tiba dalam mood yang membingungkan," Jawab Anisa.
"Iyaa juga ya, nanti kita bicarakan ya," Ujar Bunda.
...Bersambung ...