
Sayup-sayup Farhan membuka matanya. Ia lantunkan doa bangun tidur, lalu Ia ambil jam di nakas sebelah Anisa. Baru jam 3 tepat ternyata. Ia pandangi istrinya yang kini telah menghadap kepadanya.
Cup!
Satu kecupan mendarat di kening Anisa.
Emmh, lenguh Anisa. Ia keratkan dirinya pada Farhan.
Gemas melihatnya Farhan keratkan pula pelukannya. Sayup-sayup Anisa membuka mata.
"Maas?". Lirih Anisa.
"Hemm?". Jawab Farhan.
"Tahajud yuk". Ajak Farhan. Anisa mengangguk dan hendak bangun dari baringnya.
"Eiits! Belum baca doa". Ujar Farhan menahan Anisa.
"Iyaa, aku duduk dulu". Jawab Anisa. Ia duduk dan berdoa.
"Aku dulu ya yang ke kamar mandi?". Tanya Anisa. Farhan mengangguk.
Sembari menunggu Anisa, ia menyiapkan perlengkapan sholat.
"Lho, sudah siap?". Ujar Anisa melihat sajadah sudah terpasang ditempatnya.
"Iyaa". Jawab Farhan mengambil handuk di tangan Anisa dan berlalu ke kamar mandi.
"Eh! Awas aja kalau megang aku lagi. Aku udah wudhu keles". Ujar Anisa kaget.
Setelah sholat, Farhan mengajak Anisa untuk lalaran Al-Qur'an sebentar. Melanjutkan lalaran yang sebelumnya. Mereka duduk berhadapan, dengan Farhan yang menyimak. Hingga,
TOK! TOK! TOK!
"Sebentar mas, Anisa buka pintunya". Ujar Anisa. Farhan mengangguk.
"Umi, ada apa?". Tanya Anisa.
Umi nyelonong masuk ke kamar.
"Kalian sudah sholat subuh?". Tanya Umi melihat Anisa dan Farhan menggunakan pakaian sholat.
"Belum Mi, Farhan cuma nyimak Anisa lalaran kok". Jawab Farhan.
"Oalaah, kalian langsung sholat subuh gih. Ini sudah masuk waktu kan Han?". Tanya Umi.
"Iya, sudah Mi". Jawab Farhan.
"Kalian mandi, lalu langsung sholat subuh. Bentar lagi periasnya Umi suruh ke kamar kalian". Ujar Umi. Lalu meninggalkan mereka.
"Buru-buru banget sih". Lirih Anisa.
"Mau sholat dulu atau mandi?". Tanya Farhan.
"Kita kan udah bersih-bersih tadi. Anisa juga belum batal kok. Sholat aja dulu". Ujar Anisa.
"Oke, ayo". Jawab Farhan. Mereka melaksanakan sholat subuh berdua.
Diciumnya tangan Farhan setelah melaksanakan sholat. Anisa membereskan peralatan sholat mereka.
"Siapa dulu yang mandi?". Tanya Anisa.
"Kamu saja, nanti periasnya datang kamu belum selesai. Saya mau mengecek email dulu". Jawab Farhan.
"Mas?". Panggil Anisa mendekati Farhan yang duduk dimeja kerja Anisa.
"Heem? Kenapa?". Jawab Farhan menghadap kepada Anisa.
"Kok panggilannya Saya sih". Lirih Anisa.
"Lalu?". Tanya Farhan lagi.
"Yaaa, kalau pakai saya tuh terkesan seperti, Anisa orang asing gitu". Lirih Anisa dengan menunduk.
Farhan berdiri dan memegang pipi Anisa. Menghadapkan pada wajahnya.
"Iyaa sayang, maaf deh. Gak lagi". Jawab Farhan. Seketika wajah Anisa memerah.
Cup! Dikecupnya bibir Anisa sekilas.
"Muka kamu gemesin. Mas jadi pengen cium kamu". Goda Farhan. Saking malunya Anisa memukul dada Farhan.
"Dasar!". Anisa meninggalkan Farhan.
Beberapa saat Anisa membersihkan diri, iapun keluar dengan menggunakan kimono dan dibalutnya rambut menggunakan handuk. Dengan santainya Anisa masuk keruang ganti, padahal dari tadi Farhan memperhatikannya.
Tak tahan melihat tingkah istrinya, Farhan mengikuti Anisa kedalam ruang ganti kemudian menguncinya.
Dipeluknya Anisa dari belakang ketika ia tengah sibuk memilih baju.
"Astaghfirullah!". Jerit Anisa.
"Kamu sengaja yaa mau goda aku?". Lirih Farhan.
Anisa yang merasakan hembusan nafas Farhan di ceruk lehernya kaku seketika. Dikecupnya ceruk leher Anisa dan lebih dieratkannya lagi pelukannya.
"Maas, kita mau acara lho. Mas belum mandi juga". Lirih Anisa dengan sedikit menahan nafasnya. Farhan tak mengindahkan ucapan Anisa ia tetap gencar menyusuri leher Anisa dan telinganya.
"Anisa? Farhan? Anisa? Kalian dimana?". Suara Bunda dari dalam kamar memanggil kedua anaknya.
Seketika Farhan menghentikan aksinya, diamatinya wajah Anisa dari cermin didepannya. Sebuah tanda merah sudah bertengger dengan nyamannya dir Anisa.
"Mas, mandi dulu". Ditinggalkannya Anisa didalam ruangan.
"Alhamdulillah ya Allaah. Terima kasih Bunda". Gumam Anisa mengelus dadanya.
"Bunda, Farhan mandi dulu ya". Ujar Farhan dengan mencium pipi Bundanya.
"Istri kamu mana?". Tanya Bunda.
"Anisa disini Bunda. Mas, ini bajunya". Jawab Anisa keluar daru ruang ganti dengan memberikan pakaian Farhan.
Farhan berlalu ke kamar mandi sebelum Bunda meledeknya. Farhan sadar jika tanda merah ciptaannya terlihat saat ini. Anisa mungkin tak sadar jika ada kiss mark di lehernya. Bunda yang sadar tersenyum sumringah.
"Kamu pasti capek banget ya?". Ujar Bunda. Lalu menuntun Anisa untuk duduk di meja rias dan memijit pundak menantunya itu.
"Ha! Nggak kok Bun, Anisa habis mandi. Anisa gak ngapa-ngapain kok". Jawab Anisa bingung atas perlakuan Bunda.
"Kamu tidak usah sungkan sama Bunda". Ujar Bunda.
Anisa semakin bingung dibuatnya. Tak sengaja ia melihat pantulan dirinya di cermin, dan langsung tertuju pada tanda.....
"Astaghfirullaah!". Kaget Anisa. Ia langsung menutupi tanda itu. Ia berdiri tiba-tiba.
"Bunda, in.inni. tidak seperti yang Bunda bayangkan". Sambungnya.
"Sudah, tidak apa-apa. Apakah Farhan terlalu frontal sayang? Masih sakit?". Tanya Bunda dengan meneliti tubuh Anisa.
"Bundaaa, Anisa belum...". Ucapan Anisa terpotong oleh ketokan pintu.
"ah! Itu pasti periasnya". Ujar Bunda membukakan pintu.
"Silahkan mbak, pengantinnya sudah siap". Ujar Bunda.
"Untung bekas cupangan Mas Faridz udah kututup. Kalau gak tambah malu masa mbak periasnya". Batin Anisa.
Anisa mulai dirias dan Bunda menunggui di sisi ranjang. Bunda sudah siap dari tadi, karena ingin melihat proses periasannya.
Cklek!
Farhan keluar dari kamar mandi.
"Wuuiih! Ada nyi roro kidul". Ujar Farhan meledek Anisa yang sedang dirias.
"Dasar!". Umpat Anisa dengan melempar boneka kecil yang ada dihadapannya pada Farhan.
"Aduh! Bunda masih disini". Ujar Farhan sambil duduk di samping Bundanya.
"Iya dong. Bunda pengen lihat menantunya Bunda dirias". Jawab Bunda.
"Kamu habis gigitin menantu Bunda ya". Bisik Bunda pada Farhan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Bunda apaan sih. Gak jelas banget. Mana mungkin Farhan seperti itu". Jawab Farhan sampai tersedak dibuat Bunda.
"Kenapa sih mas? Itu ada air di nakas". Ujar Anisa.
"Eh, emm, iyaa. Udah kok". Jawab Farhan.
"Sudah siap mbak, mari saya bantu memakai gaunnya". Ujar salah satu perias.
"Tttuutunggu mbak, kita gantinya disini?". Tanya Anisa kaget ketika mbaknya mulai membantu membuka resleting baju Anisa.
"Iyaa mbak". Jawab perias.
"Kenapa sayang?". Tanya Bunda.
"Emm, gak papa Bun. Hehehe". Jawab Anisa.
"Saya sendiri saja mbak, saya pakai diruang ganti saya". Ujar Anisa mengambil alih gaun yang dibawa perias dan memasuki ruang ganti.
Farhan yang melihat tingkah istrinya pun terkekeh.
Beberapa saat Anisa keluar,
Cklek!
Farhan terpana dibuatnya. Fix, ini putri kerajaan kesasar.
"Masyaallah, anak Bunda cantik bangeet, tinggal pakai jilbabnya ya ini". Puji Bunda.
"Iya bu, silahkan mbak, duduk lagi". Ujar mbak perias.
Dengan lihainya para perias mengikat rambut Anisa yang panjang dan memakaikan jilbab lalu dirias.
"Sambil menunggu mbaknya, Masnya silahkan bersiap. Dibantu asisten saya". Ujar perias.
Setelah selesai berias Anisa dan Farhan beriringan untuk turun dari kamar dan segera berangkat ketempat resepsi. Tidak terlalu jauh, makanya mereka memilih untuk riasan dirumah saja.
"Cucu mbah cantik sekali". Puji Mbah kakung yang sudah datang dari semalam.
"Anisa belum sempat manja-manjaan sama mbah kakung dan mbah putri". Lirih Anisa dengan memeluk mbahnya.
"Ayo berangkat, mbah masih lama di Jombang. Kamu bisa puasin. Tapi jangan sampai suamimu cemburu. Hahahha". Ujar Mbah Putri. Dibalas tawaan yang lain.
"Mbah kakung pengen gandeng suamimu ndok". Ujar Mbah kakung beralih ke sisi Farhan. Sesekali mereka berdua bercakap-cakap sambil menunggu mobil disiapkan. Farhan merupakan seseorang yang supel. Gampang akrab dengan seseorang.
"Nah itu mobilnya, ayo berangkat". Ujar Umi. Membantu Anisa menaiki mobil dan merapikannya. Begitupun dengan Farhan.
Sebelum Ke pelaminan, Anisa diminta untuk berfoto terlebih dahulu.
Barulah mereka berdua menuju pelaminan.
Seluruh tamu memperhatikan para pengantin yang berjalan ditengah-tengah menuju pelaminan. Berdecak kagum setiap orang melihat mereka berdua.
"Istriku cantik banget". Ujar Farhan setelah duduk di singgasana.
"Maaas, jangan gitu. Ntar mukaku kek tomat". Jawab Anisa dengan sedikit memukul lengan Farhan.
Rangkaian acara demi acara mereka lewati. Hingga kini telah memasuki tengah hari, waktunya untuk acara makan-makan.
"Ini makanan buat kalian. Dari pagi belum makan". Ujar Umi memberikan sepiring makanan dan dua sendok. Tak lupa Umi meminta petugas untuk memberikan meja kecil didepan mereka agar mudah untuk makan. Kegiatan mereka tak luput dari pandangan para tamu. Mereka selalu berdecak kagum pada pasangan pengantin itu.
"Sudah selesai mbak, mas?". Tanya seorang petugas kebersihan hendak mengambil piring.
"Oh! Sudah mas. Terima kasih". Ujar Anisa memberikan piringnya. Tak lupa meja kecilnya disingkirkan.
"Mbak Anisa, Mas Farhan, mari kita ganti gaun lagi". Ujar Mbak Perias yang tadi.
"Lagi? Dimana mbak?". Tanya Anisa.
"Di hotel belakang mbak". Jawab periasnya. Ternyata lokasi resepsi berada di lokasi hotel ternama Jombang yang memilih tema outdoor hutan.Mereka sekalian melaksanakan sholat zuhur. Sehingga membutuhkan waktu lama untuk merias Anisa kembali.
Anisa Dan Farhan kembali dengan gaun barunya.
Anisa dan Farhan kini menyambut para tamu di pelaminan. Saling berjabat tangan dan berfoto bersama.
"Sebenarnya aku gak rela foto cantik kamu tersebar sama orang-orang itu". Ujar Farhan ketika tak ada tamu yang naik.
"Helleh! Dasar gombal. Aku gak nyangka Mas Faridz itu ternyata sosok yang gombalan". Jawab Anisa.
"Sosok? Emangnya aku makhluk astral apa". Imbuh Farhan.
"Hiiiish, gak usah ngelawak terus deh. Mana Mas Faridz yang pendiam dan cool itu?". Jawab Anisa.
"Hei, jangan salah. Mas mu ini selalu cool tauu". Jawab Farhan dengan menarik pinggang Anisa agar lebih dekat dengannya.
"Maas, banyak orang lho". Ujar Anisa dengan was-was melihat sekitar.
"Kamukan istriku. Aku mau cium kamu ditengah umum juga gak salah kok. Cup!". Farhan mengecup bibir Anisa.
"Maaas. Kok jadi bucin gini sih". Ujar Anisa dengan semu merah.
"Kamu kenal kata bucin?". Tanya Farhan.
"Ya kenallah. Aku kan masih tergolong anak millenial. Emangnya mas apa". Ledek Anisa.
"Mulai berani yaa. Hemm, cup! Cup! Cup!". Farhan mulai menjadi.
"Maaas, iyaa, gak lagi jangan gitu dong. Malu tahuuu". Ujar Anisa. Untung saja para tamu masih sibuk. Tak tahu jika ada yang yang melihat tingkah para pengantin.
"Mas, itu Bu Anggun?". Tanya Anisa.
"Iya, mas yang ngundang. Biar dia tahu istriku lebih cantik dari dia". Jawab Farhan dengan tawanya.
"Mas nih!". Gerutu Anisa. Bu Anggun mendekati pelaminan dan mulai mengucapkan selamat.
"Selamat ya Mas Rektor, dan Anisa. Saya mohon maaf atas segala kesalahan saya. Saya sangat berterima kasih kepada Mas Rektor untuk mencabut tuntutan berhenti menjadi dosen di kampus". Ujar Bu Anggun.
"Jangan berterima kasih kepada saya, yang membujuk saya agar tidak mengeluarkan anda adalah istri saya". Jawab Farhan dengan mengaitkan jemari Anisa di lengannya.
"Terima kasih Anisa". Ujar Bu Anggun dengan memeluk Anisa.
"Sama-sama bu, saya harap ibu tidak melakukan hal buruk yang sudah lampau". Jawab Anisa.
Setelah selesai meminta maaf, Bu Anggun pergi. Ternyata ia tak sendiri, tapi bersama Pak Haris. Pak Haris tak mau ikut naik memberi selamat. Ia tak kuat menerima kenyataan bahwa pujaan hatinya memilih orang lain.
Selang beberapa saat, dosen-dosen kampus pun datang ke acara. Seketika menjadi ramai. Bukan hanya dosen, tapi juga para mahasiswa yang menjadi murid Farhan dan Anisa. Bahkan Anisa dan Farhan sampai turun untuk menyambut mereka. Senda gurau, ledekan, dan gosipan bertaburan akibat kedatangan para mahasiswa. Tak lupa mereka berfoto bersama.
Ketika tengah asik bercengkrama,
"Anisa?". Panggil seorang perempuan.
Anisa menoleh dan ternyata Wardah yang datang. Tidak sendiri, melainkan bersama Cak Ibil dan orang tua Wardah.
"Wardaaah!". Teriak Anisa menghampiri Wardah dan memeluknya.
"Aku kangen bangeeet. Kamu jahat, gak datang di acara ijab Qabul ku". Rengek Anisa setelah duduk di sebuah kursi.
"Iyaa, maaf. Aku sedang acara juga waktu itu. Tahu gak? Aku dikhitbah sama Cak Ibil". Ujar Wardah.
"Ha! Yang benar? Alhamdulillah. Kok kamu gak ngabarin aku?". Tanya Anisa.
"Iyaa maaf, kemarin itu dadakan. Waktu aku sama mama mau ke rumah kami, Keluarga Cak Ibil datang. Aku gak mau ganggu kamu". Jelas Wardah.
"Ya udah, gak papa. Kapan acaranya?". Tanya Anisa.
"Tiga bulan lagi, sabar". Jawab Wardah.
"Kamu cantik bangeet". Sambung Wardah.
"Makasiiih". Jawab Anisa.
"Selamat ya Anisa, semoga menjadi keluarga yang barokah, sakinah mawadah warohmah hingga di surganya Allah". Ujar Cak Ibil yang datang dengan Farhan.
"Terima kasih Cak. Selamat juga atas khitbahnya dengan Wardah, semoga lancar semuanya". Jawab Anisa dengan senyum merekah.
Bersambung๐.....
Maaf ya gaes... Lhu-lhu upnya lamaa... ๐๐๐