
Pagi ini Anisa telah berada di kampus. Tentu saja tak sendiri, ia bersama Farhan. Anisa pagi ini ada jam mengajar. Farhan baru ada jam siang nanti. Mana mungkin ia membiarkan istrinya berangkat sendiri.
"Selamat pagi Prof, ini saya memberikan undangan makan malam untuk Prof dan Bu Anisa," ujar Pak Haris menghapiri Anisa dan Farhan.
"Ada acara apa ya Pak?" tanya Anisa.
"Hehehe, acara biasa Pak. Acara tunangan saya," jawabnya.
"Terima kasih ya Pak, insyaallah kami akan datang," ujar Farhan.
Farhan mengantarkan Anisa ke kelasnya. Awalnya Farhan ingin ikut masuk, tapi Anisa melarangnya. Sudah persis bodyguard. Anisa memasuki kelasnya. Para mahasiswa terkikik ketika Anisa masuk.
"Ada apa? Ada yang aneh dengan saya?" tanya Anisa bingung. Anisa berbalik dan,
"Mas ngapain ikut masuuuk?" Anisa geram dibuat Farhan.
Ternyata Farhan mengekor di belakangnya. Anisa menarik Farhan keluar kelas.
"Ngapain? Kan katanya tadi iya?" tanya Anisa.
"Mas gak ada kerjaan yaang, ikut ngajar kamu yaa," pinta Farhan.
"Gak bisa Mas, salah siapa jamnya gantian sama Pak Saipul, jadinya gak samakan. Dulu sebelum nikah juga biasa sendiri. Ngapa jadi manja sih?" gerutu Anisa.
"Itu beda, istriku telah mengubah duniaku," gombal Farhan.
"Udah ah! Adek mau ngajar. Mas ke ruangan Mas ajah. Assalamu'alaikum," pamit Anisa.
Cup! Tak lupa satu kecupan di pipi Farhan. Mumpung lorong kelas sedang sepi.
"Harusnya Pak Rektor biarin masuk Buk," ujar salah satu mahasiswa dan didukung anggukan yang lannya.
"Itu sih maunya kalian. Khususnya kaum hawa. Kalian gak fokus kuliah malah lihatin Pak Rektor," Jawab Anisa dan mereka hanya cengengesan, para penduduk Universitas tak ada yang memanggil Kak pada Anisa saat ini. Padahal Anisa lebih senang dengan panggilan itu.
"Maaf, tadi saya belum mengucapkan salam. Assalamu'alaikum Warahmatullah," Anisa membuka pelajarannya.
"Wa'alaikumsalam Wr. Wb." jawab mereka.
"Okee, silahkan dimulai presentasinya. Moderator?" ujar Anisa.
"Saya Bu," jawab salah satu mahasiswanya.
"Silahkan dipimpin," ujar Anisa.
Perkuliahan berlangsung selama tiga jam. Karena memang mata kuliah yang diampu Anisa 3 SKS. Awalnya Anisa takut jika para mahasiswanya akan bosan. Ia terus berusaha agar mahasiswanya dapat mengikuti pelajaran dengan fokus dan tidak bosan.
Biasanya setelah melewati dua jam perkuliahan, mereka mulai mengeluh. Mau tak mau Anisa harus memutar otak agar mereka kembali semangat. Ntah itu dengan mengajak keluar kelas, perpustakaan, atau dengan permainan-permainan.
Tepat pukul 9 pagi Anisa menutup kelasnya. Karena tadi memang dimulai pada jam 6.40 pagi. Setelah keluar dari kelas, Anisa menyempatkan mampir di perpustakaan. Anisa diberi kepercayaan untuk menjadi dosen pembimbing skripsi mahasiswa. Karena sistem kepenulisan tiap universitas terkadang ada beberapa perbedaan, maka ia harus memahami sistem kepenulisan Universitas ini. Ia mengambil buku pedoman kepenulisan skripsi dan beberapa buku lainnya yang dibutuhkan untuk mengajar atau bahan bacaan biasa.
“Tumben sendirian Bu?” sapa Pak Haris menghampiri Anisa yang tengah memilih-milih buku.
“Eh! Pak Haris, iya... sekalian dari kelas mampir ke perpustakaan,” jawab Anisa, kembali memfokuskan mencari buku.
“Ada yang bisa dibantu Bu?” tanya Pak Haris.
“Tidak usah Pak, buku pokok yang saya cari sudah lengkap. Saya hanya melihat-lihat saja siapa tahu ada yang cocok,” jawab Anisa.
“Mari Pak, saya ke kantor dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Anisa.
“Bu, boleh kita sama-sama ke kantornya?” tanya Pak Haris.
“Mohon maaf sebelumnya Pak, saya masih ada keperluan. Mari, assalamu’alaikum,” jawab Anisa dan bergegas ke tempat peminjaman buku.
Sejak Pak Haris datang Anisa merasa tak nyaman. Sebab beliau terus saja memandangi Anisa. Tak tahan atas tatapannya, Anisa memutuskan untuk undur diri terlebih dahulu. Keluar dari perpustakaan rasanya lebih nyaman. Ia mencoba menghubungi Farhan tapi tak ada respon sama sekali. Kemana gerangan sang suami? Jadwal mengajar Farhan masih jam sepuluh. Sedangkan sekarang masih jam 9 lewat. Anita mengurungkan niattnya untuk ke kantor. Ia memilih untuk langsung ke ruangan Farhan.
“Assalamu’alaikum,” sapa Anisa memasuki ruangan Farhan.
Sepi! Itulah kesan pertama saat ia memasuki ruangan. Seolah tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Kemana suaminya. Perasaan tak ada rapat hari ini. Diletakkannya tumpukan buku di meja kerja Farhan. Anisa mencoba untuk mengecek ruang pribadi.
Hufft! Pantas saja tak ada sahutan. Ternyata sang empunya sedang tidur pulas. Tv-nya gak dimatikan pula.
“Mas?” panggil Anisa dengan mengelus rambut Farhan. Yang dielus pun tak bergeming sama sekali.
“Kenapa sih Yaang?” tanya Farhan dengan suara paraunya.
“Ngajar Mas,” jawab Anisa. Farhan melirik ke arah jam dinding.
“Dua puluh menit lagi,” ujar Farhan kemudian memejamkan matanya lagi.
“Nanti mata Mas nampak habis tidur lho kalau masuk kelas,” ujar Anisa dengan mengelus wajah Farhan kembali. Farhan tak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya pada Anisa. Akhirnya Anisa hanya diam dipelukan Farhan. Sepuluh menit berlalu, dan Anisa hanya mengedipkan matanya saja dari tadi.
“Kok adek gak bobok sih?” tanya Farhan.
“Adek gak ngantuk Mas,” jawab Anisa.
“Mandi yuk,” ajak Farhan.
“Nggak mau ah! Aku mau nonton ajah,” jawab Anisa merubah posisinya menyender pada kepala ranjang.
Memang ya! Kalau laki-laki tuh mandinya cepet abis. Baru lima menit berlalu, Farhan sudah siap dengan setelan mengajarnya.
“Nanti Mas ada meeting kecil, gak lama kok. Kita berangkat ke tempat acara Pak Haris dari sini aja ya?” tanya Farhan. Anisa hanya mengangguk karena ia tengah fokus membaca buku.
“Tvnya jangan dibiarin nganggur dong Yaang.” Ujar Farhan.
“Siap bos!” jawab Anisa langsung mematikan tv.
“Mas berangkat, assalamu’alaikum,” pamit Farhan. Tak lupa Anisa mencium tangannya.
.
.
.
Kini Anisa dan Farhan tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara pertunangan Pak Haris. Anisa mulai kepikiran mengenai tingkah Pak Haris tempo tadi. Kenapa ia seperti menguntit Anisa? Atau itu hanya perasaannya? Mana mungkin ia begitu, sedangkan malam ini ia akan mengadakan lamaran.
Hotel Valencia. Tempat acara itu berlangsung. Anisa dan Farhan segera memasuki gedung. Tepatnya di lantai tujuh. Sepertinya acara cukup mewah, tamu undangannya pun terlihat sangat banyak. Terlihat Pak Haris menghampiri Anisa dan Farhan yang baru datang.
“Selamat malam Pak Farhan dan Bu Anisa, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk hadir pada acara kami,” sambut Pak Haris.
“Selamat malam kembali Pak, sama-sama kami ucapkan,” jawab Farhan dan Anisa hanya tersenyum.
“Boleh saya bertemu dengan calon istri anda Pak?” tanya Anisa.
“Oh, boleh-boleh. Mari saya antarkan,” jawabnya. Mereka berjalan ke arah depan. Tepatnya di dekat panggung acara.
“Ini calon istri saya,” ujarnya dengan merangkul seorang perempuan. Betapa terkejutnya Anisa dan Farhan,
“Buu, Anggun?” lirih Anisa.
“Iya Anisa, sudah lama sekali rasanya kita tidak bertemu,” jawab Bu Anggun kemudian memeluk Anisa.
“Ouh, saya terkejut sekali. Jodoh memang begitu mengejutkan ya Bu, hahaha. Selamat Bu Anggun dan Pak Haris atas pertunangannya. Semoga lancar semuanya,” ujar Anisa.
“Aammiiiin, terima kasih Anisa,” jawabnya.
“Oh iya, orang tua kalian mana? Saya belum pernah menyapa mereka,” ujar Farhan.
“Emmm, mohon maaf sebelumnya Pak, orang tua saya sudah meninggal semuanya. Sedangkan Orang tua Anggun masih berada di luar negeri. Tidak bisa hadir, sedang ada acara mendadak,” jawab Pak Haris.
“Innalillahi, saya minta maaf Pak,” ujar Farhan menyesal.
“Tidak apa, mari saya antar ke meja para dosen universitas yang lain,” ajak Pak Haris.
Ternyata sudah banyak para dosen yang hadir. Mereka duduk dan sesekali becengkrama satu sama lain agar tak terlalu bosan menunggu acara dimulai.
“Emangnya bisa ya Mas? Acara tunangan gak dihadiri orang tua dari salah satu pihak?” tanya Anisa. Ia dari tadi sangat penasaran perihal ini.
“Mungkin sudah ada anggota keluarga yang lain sayang, lagian ini bukan ijab qobul yang harus menghadirkan ayah Bu Anggun,” jawab Anisa.
Tapi tetap saja. Ini acara penting. Ternyata masih ada orang tua yang tega tidak hadir diacara penting anaknya. Batin Anisa masih saja berperang meminta kejelasan. Apa pulak minta kejelasan. Hahaha.
Bersambung....