Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Pulang


Siang ini Anisa tengah berada di ruang rawat bersama Bunda. Farhan dan Ayah sedang pergi ke Universitas untuk menyelesaikan urusannya. Mereka berdua tampak asik mengobrol sembari Bunda membuka-buka sebuah kumpulan foto yang sengaja dibawanya kemarin hari.


"Lucu kali Mas Faridz kalau seperti ini Bun," ujar Anisa dengan tawa renyahnya.


Seorang anak kecil berumur kurang lebih 5 tahun memakai baju koko dipadukan dengan lilitan sarung dan peci berkarakter casper. Tokoh hantu kartun jaman dahulu yang tak kalah lucunya. Di sampingnya seorang laki-laki yang dapat dipastikan jika itu adalah Ayah.


"Ini pertama kalinya Farhan dipakaikan sarung sama Ayah. Hahaha, senang sekali dia waktu diberi hadiah sarung," jawab Bunda.


Kedua wanita itu larut dalam perbincangan masa kecil Farhan dan Husna. Sembari menunggu sore hari menjelang kepulangan ke rumah.


.


.


.


Perlengkapan Anisa sudah tersiapkan semua. Waktunya kini mereka kembali ke mansion. Farhan dan Ayah baru saja kembali dari Universitas dan langsung menuju ke rumah sakit. Infus Anisa juga baru saja dilepas. Asal kalian tahu, dari awal Anisa datang ke rumah sakit, Farhan menangis tak tega melihat istrinya ditusuk jarum infus. Hingga kini ia kembali menangis melihat jarum itu dilepaskan.


"Aneh anak Ayah sekarang nduk, padahal aslinya dia nggak takut jarum suntik. Kok sekarang jadi gini, jatuh martabatnya sebagai rektor," celetuk Ayah pada Anisa. Anisa dan Bunda tertawa geli menyetujui ucapan Ayah.


Farhan yang menjadi topik pembicaraan terdiam saja, malas menanggapi. Ia tampak memeluk Anisa yang tengah duduk bersender di kepala ranjang. Farhan menyenderkan kepalanya di dada Anisa tanpa rasa malu sama-sekali.


"Mau pulang kapan ini Han?" tanya Ayah. Bukannya langsung pulang, malah manja-manjaan di tempat tidur.


"Nunggu dokter Yah, resepnya belum dikasih tadi," jawab Farhan malas.


Ayah memilih menyalakan tv sembari berbincang dengan Bunda. Sesekali juga dengan Anisa. Jangan harap Ayah berbincang dengan Farhan kali ini, Farhan sudah ngelipus memeluk Anisa.


"Sore dok," jawab Anisa dan yang lainnya. Kecuali Farhan.


"Waahh, capai sekali sepertinya calon Abi satu ini," canda dokter Dyah menyindir Farhan.


Anisa menggoyangkan lengan Farhan, tapi sang empu sama-sekali tak bergeming. Ia justru malah mengeratkan pelukannya. Bunda sampai membatu Anisa membangunkannya .


"Biasa bu, tak apa. Saya hanya mau menyerahkan resep ini saja, kebetulan asisten saya sedang bertugas, jadi saya antarkan sendiri,"ujar dokter cantik itu.


"Terima kasih dok," ujar Ayah mengambil resep itu.


Dokter yang sangat cantik dan ramah. Setelah kepergian dokter Dyah, Ayah turun tangan menebus obat ke apotik rumah sakit. Bukan obat sakit sebenarnya, hanya vitamin penguat kandungan. Tak sabar Ayah menunggu sang anak yang tak mau bangun. Mau tak mau beliau pergi. Durhaka kamu Han! Untung Ayah baik.


"Udah, bangun! Ayah udah keluar," ujar Bunda. Ternyata Bunda tahu siasat sang anak.


"Farhan ngantuk beneran Bun," lirih Farhan.


"Mau Bunda jewer ta? Ayo pulang!" jawab Bunda.


Anisa terkekeh melihat kelakuan anak dan bunda itu. Dengan malas, Farhan mengurai pelukannya dan beranjak ke kamar mandi. Membasuh mukanya agar kembali segar. Ia ingin cepat pulang dan istirahat. Sebagus apapun ruangan ini, tetap kamarnya dan sang istri yang paling nyaman.


"Dasar! Ngerjain yang udah tua!" ujar Ayah ketika Farhan keluar dari kamar mandi.


"Hehehe, nggak ngerjain Yah, beneran ngantuk Farhan," jawab Farhan dengan menggaruk rambutnya. Tak ada kutu disini, tapi ntah kenapa ketika orang bingung atau tak punya jawaban lebih suka menggaruk kepalanya.


"Ya udah ayo pulang, Umi sama Abi kalian sudah di mansion," ujar Ayah mendorong troli barang bawaan mereka. Sedangkan Farhan mendorong kursi roda Anisa.