Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Hari Patah Hati Sepesantren


Sudah lama rasanya Anisa tak menginjakkan kaki di pesantren ini. Terakhir kali saat awal bertemu suaminya. Eeaaakkk!


Mereka berdua baru saja sampai di parkiran pesantren. Cukup ramai, sebab memang saat ini jadwal kunjungan wali santri.


"Kita langsung ke ndalem Mas?". Tanya Anisa.


"Ya iyaa laahh. Ntar di cap santri durhaka kalau gak sowan". Jawab Farhan. Ia membuka pintu mobilnya. Bergegas ke arah pintu Anisa.


"Assalamu'alaikum Mas Farhan. Saya panggilkan Husna yaa?". Sapa salah satu santriwati yang ada di parkiran.


"Wa'alaikumussalam, tidak usah Mbak. Biar saya dan istri saya sendiri saja". Jawab Farhan kemudian membuka pintu mobil disisi Anisa.


Santri yang mengajak berbicara Farhan pun melongo. Ternyata sosok tampan dihadapannya telah menikah. Oh! Sakitnyaaaa.....


"Monggo (mari) Mbak, kami duluan. Assalamu'alaikum". Pamit Anisa.


"Wwa-wa'alaikumsalam". Jawabnya tergagap.


"Demi apa! Itukan kakaknya Faiz? Mereka udah menikah? Woooaaaaahhhhh! Daebak! Cocok banget". Sahut temannya.


"Pantesan aku sering lihat Husna ngasih lauk atau barang buat Faiz". Sambung yang lainnya.


"Hari patah hati sepesantren ini mah". Ujar santri yang mengajak Farhan berbincang tadi.


.


.


.


"Fansnya Mas Faridz banyak banget". Ujar Anisa di tengah perjalanan.


"Mana ada? Orang kayak Mas kok banyak yang ngefans". Jawab Farhan.


"Dari tadi tiap kita lewat orang lihatnya kesini semua". Ujar Anisa.


"Kitakan dua sejoli yang serasi". Jawab Farhan dengan merangkul Anisa.


"Jangan gini Mas, malu ih. Kita lagi pusat perhatian tahuu". Gerutu Anisa dengan berusaha melepaskan rangkulan Farhan.


"Nisa!". Panggil Wardah. Menghentikan Anisa yang sedang berusaha melepaskan rangkulan Farhan.


"Wardah? Uuuuhhhh kageeen". Ujar Anisa berlari memeluk Wardah. Otomatis rangkulan Farhan terlepas.


"Bulan depan aku nikah. Kamu ke rumah yaa?Nginep, temenin akuu. Pliisss". Pinta Wardah.


"Hehehe, akukan gak sendiri lagi Wardah... Udah ada yang punya, aku harus izin dulu. Okee". Jawab Anisa.


"Huufft, okee deh". Jawab Wardah dengan sedikit kecewa.


"Ayo ke ndalem dulu". Ajak Farhan dengan menggenggam tangan Anisa.


"Uluh-Uluuhh, mentang-mentang udah halal. Kemana-mana gandengan terus dah". Sindir Wardah.


"Kamu mah, jangan keras-keras. Malu banyak orang denger". Ujar Anisa pada sahabatnya satu itu. Sedangkan Wardah hanya tersenyum mengejek.


Di sisi lain,


"Ya Allah! Bantu hambamu ini untuk ikhlas, kenapa hamba masih merasa sakit melihat itu semua". Batinnya memberontak ketika melihat Anisa dan Farhan berlalu.


.


.


.


.


Untung saja ada suaminya. Jika tidak, sudah dipastikan saat ini hanya suara jangkrik yang menggema. Sebab, biasanya Anisa akan lebih terbuka jika bersama Umi (Bu Nyai). Sedangkan Umi sedang keluar.


Setelah puas bercengkrama dengan pimpinan pesantren, kini Anisa dan Farhan kembali pada tujuan awal. Mencari Husna dan Faiz. Ouuhhh! Tanpa dicari ternyata dua kunyuk itu sudah berada di teras ndalema (rumah pimpinan pesantren).


"Kaaak, Husna kangen banget tahuuu. Waktu Kak Ical dan Kak Aisy kesini kenapa gak ikut sih?". Tanya Husna setelah berada dipelukan Anisa.


"Kakak kan ngajar sayaang, maaf baru bisa jenguk sekarang". Jawab Anisa.


"Heh! Kamu! Gak kangen apa sama kakak?". Kini Anisa beralih pada Faiz.


"Gak, mending aku sama Kak Farhan ajah. Ntar kalau sama kakak, kak Husna cemburu lagi". Jawab Faiz.


"Kita duduk di pendopo itu yuk, mumpung kosong". Ajak Farhan.


Faiz kini tengah duduk di samping Farhan. Sedangkan Husna, tengah menempel bak perangko pada Anisa.


"Biasa aja kali Kak, gak mungkin Kak Ica kabur. Kalau gitu malah tambah risih ntar tuh orang". Ujar Faiz yang mulai geram pada Husna.


"Iri bilang boss!". Sambung Husna.


"Kalian mending, ambil barang kiriman di mobil deh. Husna, sana sama Faiz. Kakak gerah kamu tempelin terus". Ujar Anisa.


"Iya-iya, padahal aku masih pengen gini". Gumam Husna.


Anisa tersenyum melihat adik iparnya itu. Iapun mendekati Farhan dan duduk disampingnya.


"Kenapa? Mau ikutan Husna nempelin?". Tanya Farhan dengan memicingkan matanya.


"Hiissh, PD! Adek deketin Mas biar gak dikira lagi marahan. Gak mungkin dong mau duduk jauh-jauhan". Jawab Anisa.


"Yang, Umi ngechat Mas, nih lihat". Ujar Farhan dengan memperlihatkan gawainya pada Anisa.


Farhan, Umi kembali ke pesantren sore ini. Kamu sama istri kamu nginep dulu ya...


Umi kangen sama kalian, masa Umi gak ketemu sih?


"Gimana? Jawab apa?". Tanya Farhan bingung.


"Adek mah nurut ama suami". Jawab Anisa dengan santainya. Ia malah senang jika menginap di sini.


"Itu sih gak ngasih solusi yaang". Ujar Farhan semakin bingung.


"Huufft, Mas ada jadwal penting gak? Buat besok sampai lusa?". Tanya Anisa.


"Besok sih masih jadwal libur ngajarnya, kalau yang lain gak tahu deh". Jawab Farhan.


"Ya udahlah Mas, kita nginep aja. Semalam jadilaah... Kita kabarin Ayah dulu, kalau memang ada acara, Ayah bisa mewakili apa nggak". Ujar Anisa dengan mengelus tangan Farhan.


Farhan mengangguk dan mulai menelpon Ayah. Tak mungkin mereka menolak ujaran Bu Nyai. Tapi disisi lain juga tak mungkin meninggalkan tugas.


Setelah mengabari Ayah,


"Alhamdulillah, Ayah ngizinin kita disini dulu. Gak baik kalau nolak Umi, katanya Ayah. Nanti kalau ada rapat biar Ayah yang mewakili". Ujar Farhan.


"Alhamdulillah kalau gitu". Jawab Anisa dengan memijit pundak Farhan. Pasti capek sepanjang jalan mengemudikan mobil terus.


Tanpa mereka sadari, tingkah mereka sejak tadi tengah menjadi sorotan para santriwati. Karena memang pendopo itu berada di depan agak serong dari ndalem Kyai yang satu wilayah dengan lokasi santri putri. Banyak dari mereka yang begitu mengagumi Farhan sejak Farhan sering menyambangi Husna tempo dulu. Kini idola mereka telah memiliki pendamping.


Bersambung....