
Setelah fokus di depan kompor, akhirnya selesai juga bubur buatan Abi. Dibantu Umi tentunya. Abi membawa langsung bubur itu untuk Anisa. Umi menyiapkan jus semangka untuk pelengkap. Anisa kini tengah bersama Bunda ternyata. Tak tahu kapan datangnya, tiba-tiba sudah bersama Anisa.
"Neng, dicoba dulu yaa?" Ujar Abi mendekat. Bunda tersenyum melihat keluarga ini, begitu harmonis.
Spontan Anisa menutup hidungnya dan mengisyaratkan Abi untuk tidak mendekat. Abi yang tak paham isyarat itupun masih tetap mendekati Anisa. Tak tahan dengan rasa mualnya, Anisa bergegas menuju kamar mandi terdekat.
"Tuhkan, Umi bilang apa! Kalau maunya itu, ya harus itu. Kalau dikasih yang lain bakal nolak, kasihan lagi-lagi harus muntah. Mana perutnya kosong," Omel Umi.
Bunda sudah mengikuti Anisa saat ke kamar mandi. Tentu saja Anisa menjadi semakin lemas.
"Padahal Anisa belum makan, tapi kok mual terus ya Bun,"Lirih Anisa sembari dituntun Bunda.
"Sabar sayang, seperti inilah perjuangan seorang ibu," Jawab Bunda.
Di meja tadi sudah bersih dari masakan Abi. Abi pun tak ada di sana. Ntah kemana calon Mbah Kakung itu.
"Abi marah ya Mi?" Tanya Anisa rada cemas.
"Marah kenapa? Nggaklah! Itu apa! Lagi makan bubur tadi," Jawab Umi sambil menunjuk kearah kebun anggur yang agak jauh. Terlihat Abi tengah menyantap masakannya sendiri di bawah rimbunan pohon.
"Nyesel kamu Neng! Masakan Abi padahal enak," Ejek Abi.
Disambut tawa oleh Bunda dan Umi. Tak berselang lama datanglah Ayah bergabung dengan Abi yang sedang menyantap makanan lezat.
"Sayaang! Sayang!" Terdengar suara teriakan Farhan dari dalam rumah.
"Hey! Farhan! Kenapa pula kamu ini teriak-teriak!" Ujar Ayah. Tak berselang lama Farhan muncul.
"Khawatir yah, kirain ada apa-apa. Tadi sendirian di rumah," Jawab Farhan.
Di belakangnya sudah ada ibu-ibu paruh baya mengikutinya. Semua orang di sana pun melongo dibuatnya. Kenapa pulak ini anak membawa bude yang berjualan di warung pojok? Yang dibutuhkan Anisa hanya masakannya, bukan Budenya....
"Silahkan duduk bu," Ujar Bunda ramah.
Bunda menoel lengan Farhan, isyarat agar menjelaskan ada apa gerangan mengajak bude pojok. Bahkan Farhan tak membawa makanan apapun.
"Begini Bunda, Umi, tadi Farhan harus mencari rumah bude ini terlebih dahulu. Bude sedang tidak jualan. Jadi, Farhan membujuk bude ini agar ikut dan mau memasakkan untuk Anisa," Jelas Farhan.
"Nah! Berhubung Bude sudah setuju, mari Bude ikut saya ke dapur, saya bantu siapkan," Ujar Bunda menarik tangan Bude menuju dapur. Tak lama, Umi mengikuti.
Farhan duduk di sebelah Anisa. Tiba-tiba ia menutup hidungnya.
Tak ingin membuat kesalahan lagi, Farhan segera masuk untuk mandi. Padahal sebelum mencari Bude Pojok sudah mandi tadi. Diciumnya ketiak kanan dan kiri untuk mengecek aroma tubuhnya.
"Gak bau kok! Parfumnya masih tercium juga!" Gumam Farhan setelah sampai di kamar.
Meskipun begitu, Farhan tetap mandi. Matanya terbelalak melihat baju kotor yang belum dicuci sama sekali. Hanya satu kantong memang, tapi jika tak dikerjakan besok pasti makin banyak. Apa harus dirinya yang turun tangan. Ia yakin, sang istri pasti akan kecapaian jika nanti mencuci.
Oke! Saatnya beraksi!
.
.
.
Kini Anisa sudah duduk manis di meja makan. Makanan yang awalnya ada di bawah tudung saji sudah dipindah alihkan. Si Bude menyerahkan satu soup untuk Anisa. Berbinar sudah mata wanita itu.
"Mas Faridz lama banget mandinya," Lirih Anisa.
"Mau makan dengan Mas Faridz?" Tanya Bunda. Anisa perlahan mengangguk.
Bunda berjalan menuju lantai dua mencari sang anak.
Tok! Tok! Tok!
Tak ada sahutan sama sekali. Akhirnya Bunda masuk. Kosong! Dimana anaknya? Terdengar gemercik air dari ruang cuci baju. Ya! Kamar mereka memang terdapat tempat mencuci baju. Dibuat khusus setelah pernikahan mereka.
"Han? Kamu nyuci sendiri?" Tanya Bunda heran. Pasalnya sang anak tak pernah mencuci sendiri jika di rumah.
"Iyaa Bun, kasihan Anisanya nanti kalau harus nyuci. Ntar kecapaian," Jawab Farhan yang dengan santainya memutar mesin cuci.
"Udah nanti diteruskan lagi, temani Anisa makan... Dia nungguin kamu tuh," Ujar Bunda.
"Lho! Farhan belum mandi. Ya udah, Farhan langsung mandi cepet kok Bun," Ujar Farhan dengan tergesa-gesa masuk ke bilik kamar mandi.
Bunda tersenyum sendiri melihat tingkah anak laki-lakinya itu. Melihat belum ada baju yang disiapkan, Bunda berinisiatif menyiapkan baju sang anak.
Bersambung....