Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Kesempatan Pacaran Halal


Kini Anisa dan Farhan sudah berada di rumah sakit Ibu dan Anak. Anisa segera menuju resepsionis rumah sakit untuk menanyakan ruangan Kak Aisy. Sampai - sampai Farhan ditinggalnya.


Di depan ruangan yang dituju Anisa bapak-bapak tengah berkumpul. Siapa lagi kalau bukan Abi, Ayah, Faisal, dan mertua Faisal. Anisa menyapa mereka yang ada di sana dan menyalami satu persatu.


"Farhan mana Neng?" Tanya Abi.


Anisa menoleh ke belakang ternyata suaminya belum ada.


"Ketinggalan fi belakang Bi!" Ujar Farhan baru datang. Anisa hanya tersenyum kikuk.


"Ayo Mas, kedalam," Ujar Anisa dengan menggandeng Farhan. Farhan mengangguk.


.


.


"Assalamu'alaikum". Sapa Anisa dan Farhan.


"Wa'alaikumussalam". Jawab mereka yang di dalam.


"Ini apa yang ditungguin mama baru," Ujar mama Kak Aisy. Dari tadi Kak Aisy memang mengharap kehadiran sang adik.


"Baby-nya cowok atau cewek?" Tanya Anisa menghampiri ponakan pertamanya yang digendong Umi.


"Cewek aunty," Jawab Umi dengan menirukan suara baby.


"Aku ke kamar mandi dulu," Ujar Farhan dengan buru-buru masuk.


"Pengen gendong," Celetuk Anisa. Umi tersenyum dan memberikan pada Anisa dengan hati-hati.


"Umi ke luar dulu, mau siapin kopi buat bapak-bapak," Pamit Umi dan berlalu.


"Lihai banget kamu sayang gendongnya," Ujar Bunda mendekati Anisa yang tengah menoel-noel pipi baby.


"Biasa ditinggalin Faiz waktu kecil dulu Bun, hehehe," Jawab Anisa. Bunda dan Anisa kini duduk berdua di sofa.


"Kapan mau nyusul Nis? Kakakmu udah punya nih," Ujar Mama Kak Aisy. Anisa hanya tersenyum dan melihat Bunda disampingnya.


"Santay ya Nis, masih muda gak papa... Allah masih memberi kesempatan buat pacaran. Iya kan sayang. Hahaha,"Jawab Bunda. Sebelah tangan Anisa menggenggam tangan Bunda.


"Iyaa, tapi umur Farhan kan sama seperti Faisal. Mereka dulu satu kelas kan?" Sambung Mama Kak Aisy.


"Maaa," Lirih Kak Aisy.


"Iya satu kelas, tapi umur Farhan mah dibawanya Ical. Ical ikut exelerasi dulu, makanya bisa sekelas," Jawab Bunda.


"Udah lah Ma," Lirih Kak Aisy ketika hendak berbicara kembali. Akhirnya tak jadi.


Cklek!


Farhan menyelesaikan ritualnya dan duduk di sisi lain Anisa.


"Lucu ya yaank? Tapi gak gembul," Celetuk Farhan mengelus pipi Anisa.


"Cantik kan Mas?" Tanya Anisa ikut memandangi baby kecil di gendongannya. Farhan mengangguk dengan senyum manisnya.


"Kita keluar yuk Jeng?" Ajak Bunda pada Mama Kak Aisy.


"Iya, ayo!". Mereka akhirnya keluar. Tinggal 4 manusia di ruangan ini.


"Maafin Mama ya dek?" Ujar Kak Aisy.


Anisa tersenyum dan mengangguk. "Gak papa Kak, santai ajah." Jawab Anisa.


"Kenapa?" Tanya Farhan bingung.


"Gak papa Mas," Jawab Anisa sebelum Kak Aisy menjawab.


"Ajarin Mas gendong siih, pengen bisa. Nanti kalau punya anak biar gak malu-maluin, hehehe," Ujar Farhan.


"Siap Bos! Sini Adek ajarin," Anisa pelan-pelan memindahkan baby ke tangan Farhan.


"Gak usah tahan napas Mas, nanti malah bengek lhoo, Hahaha." Anisa terngakak ketika Farhan sama sekali tak bernapas ketika menggendong baby. Ia baru bernapas ketika Anisa berbicara demikian. Aisyah pun juga ngakak ketika melihat ekspresi Farhan.


"Takut nangis dek, makanya Mas mengeluarkan kekuatan super gak napas," Celetuk Farhan.


"Napas Mas, masak iya pulang dari sini adek punya suami bengek," Ujar Anisa. Dibalas tawaan.


Farhan perlahan-lahan bernapas. Sepertinya memang belum terbiasa, sebab ia terlihat kaku dalam menggendong baby cantik itu. Setelah beberapa saat, Bunda memasuki ruangan.


"Farhan, Anisa, kita pulang yuk?" Ajak Bunda.


"Pulang aja Bun, kan Bunda sama Ayah," Ujar Farhan.


"Bunda mau nunjukin penghuni baru di rumah," Ujar Bunda lagi.


"Pokoknya cepet pulang, Bunda tunggu di rumah nanti," Sambung Bunda.


Bunda menghampiri Kak Aisy dan berpamitan. Sedangkan Anisa dan Farhan tampak tengah memahami ujaran Bunda barusan. Tak berselang lama, Ayah juga ikut berpamitan. Karena penasaran, Anisa mengajak Farhan untuk pulang juga.


Sesampainya di mansion, Anisa dan Farhan disambut oleh kedua krucil yang berlari menghampiri mereka


"Lho! Jeje sama Jacky kok disini?" Kaget Anisa. Ia mengambil Jacky di gendongannya.


"Bunda yang minta ke Umi, lucu banget, makanya Bunda minta." Bunda menghampiri mereka.


"Bunda punya peralatan kucing?" Tanya Farhan.


"Punya dong. Bunda udah siapin ruangan buat mereka. Yuk! Bunda tunjukin," Jawab Bunda.


Bunda mengajak Anisa dan Farhan ke sebuah ruangan tak jauh dari ruang tamu. Di bukanya pintu itu. Di dalamnya sudah ada box-box gantung untuk kucing bermain, Sepetak kasur, bahkan di sana sudah terjejer beberapa perlengkapan kucing yang lain. Anisa sampai terbengong melihatnya. Bunda nekat juga ternyata.


"Bunda yakin mau ngrawat Jeje dan Jacky di sini?" Tanya Anisa.


"Yakin dong,". Jawab Bunda. Bunda berlalu pergi.


"Mbak siapa?" Tanya Anisa pada seorang perempuan di ruangan itu.


"Saya petugas pengurus kucing Mbak, di minta Ibu untuk membereskan ruang ini dan menjaga kucing jika tidak ada orang di mansion ini," Jawabnya. Anisa memandangi Farhan, dan dibalas dengan hendikan bahu tanda tak tahu.


Akhirnya Anisa meletakkan Jacky di ruangan itu dan mengajak Farhan ke kamar mereka.


"Udah sore banget ternyata," Celetuk Farhan ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul empat sore.


"Astaghfirullah! Aku belum masak Mas," Ujar Anisa. Ia langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


"Kenapa sayang? Pelan-pelan to, kalau turun tangga," Ujar Ayah yang tak sengaja bersimpangan.


"Hehehe, iya Yah. Maaf, belum masak buat makan malam Yah... Makanya buru-buru, hehehe," Jawab Anisa.


"Ngapain masak? Gak usah, nanti kita makan malam di luar aja. Farhan gak ngasih tahu kamu?" Tanya Ayah lagi.


"Awalnya Farhan mau ngasih tahu, eh! Malah lari keluar duluan. Ya udah gak jadi ngasih tahu," Jawab Farhan, yang kini menuruni tangga. Anisa menoleh ke Farhan dan Ayah secara bergantian dengan wajah merahnya menahan malu.


"Ayo mandi," Ajak Farhan dengan merangkul Anisa kembali ke kamarnya.


"Anisa sama Mas Faridz ke kamar dulu Yah," Ujar Anisa dengan sedikit berteriak karena di rangkul Farhan menjauhi Ayah. Ayah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya.


.


.


.


"Huufft! Seger banget habis mandi," Ujar Farhan setelah keluar kamar mandi, disusul Anisa di belakangnya.


"Seger-Seger! Dingin tahuu!" Omel Anisa.


"Iya-iya, maap. Ayo sholat! Udah mepet waktunya," Jawab Farhan.


Seperti biasanya, setelah sholat asar Farhan dan Anisa melakukan lalaran.Hingga menjelang maghrib, mereka turun ke bawah untuk sholat maghrib.


"Jeje sama Jacky udah di kasih makan Mbak?" Tanya Anisa pada pengurus kucingnya.


"Udah Non, sudah disiapkan semua," Jawabnya.


"Makasih ya Mbak, lain kali panggilnya jangan Non! Panggil Neng ajah," Ujar Anisa. Lawan bicaranya pun mengangguk hormat.


.


.


.


Kini Bunda dan Ayah sudah siap dengan style-nya. Anisa dan Farhan masih setia sibuk di kamar mereka.


"Anak-anak mana sih? Lama banget!" Gerutu Bunda menghampiri kamar Anisa dan Farhan.


Cklek!


Duuuh! Sosweet-nyaa. Bunda teringat tujuannya kemari.


"Masih lama?" Tanya Bunda tiba-tiba. Sukses membuat Anisa dan Farhan terkaget. Untung bibir Anisa tidak belepotan.


"Sudah kok Bun," Jawab Farhan. Mereka berdua bergegas menghampiri Bunda.


Ayah sudah menunggu di depan mansion dan mengobrol dengan para petugas keamanan. Deru langkah terdengar mendekat.


"Harus dijemput dulu ya, baru mau turun?" Sindir Ayah melihat anaknya.


Farhan hanya tersenyum tanpa salah dengan Anisa merangkul lengan Farhan. Ayah menggelengkan kepalanya heran.


"Ayo berangkat! Ayah udah laper," Ujar hendak Ayah memasuki mobil.


"Maaf Yaah,Bun," Ujar Anisa dengan muka sok bersalahnya sebelum Ayah membuka pintu mobil.


"Iyaa, gak papa," Jawab Ayah mengelus kepala Anisa dan langsung masuk mobil.


Anisa duduk di jok depan dengan Farhan yang mengemudikan mobil. Malam ini tampak ramai. Mungkin karena malam ahad. Banyak yang ngapel pacarnya. Hehehe. Mereka memilih singgah di restoran pilihan Ayah.



Hidangan sudah tersedia di depan mereka. Begitu menggiurkan. Anisa mulai memasak. Dibantu oleh Bunda yang juga menyiapkan untuk Ayah.


"Coba aku yang masak Yang," Ujar Farhan menyambar sumpit yang dipegang Anisa. Padahal di hadapannya juga ada.


Ia mulai mengaduk-aduk, diarahkannya pada Anisa.


"Coba deh," Ujarnya. Mau tak mau Anisa membuka mulutnya menerima suapan Farhan. Kalian tahukan? Malunya itu lhooo... Ayah dan Bunda hanya mengulum senyum melihat pemandangan di depannya. Anaknya terlalu bucin sekarang. Bahkan ia terang-terangan dihadapan orang tua 😑


.


.


.


Kini Anisa dan Bunda tengah duduk di sofa kamar Anisa. Farhan? Ia tengah di ruang kerjanya bersama Ayah.


"Mau nonton apa Bun? Nonton Mas Al ya?" Tanya Anisa.


"Nonton Mas Al udah terwakilkan sama nonton kamu sama Farhan sayaang," Jawab Bunda dan dibalas dengan muka merahnya malu.


"Iya deh, kita nonton Mas Al ajah," Sambung Bunda.Anisa segera mencari Chanel film yang di maksud,


"Bunda?" Lirih Anisa. Bunda spontan menoleh dan tersenyum.


"Kenapa Sayang?" Tanya Bunda.


Anisa menghadap sepenuhnya pada Bunda dan menggenggam tangan Bunda.


"Anisa masih kepikiran sana ucapan Mamanya Kak Aisy," Lirihnya.


Bunda tersenyum dan mengelus rambut Anisa.


"Bunda udah pengen banget punya cucu?" Tanya Anisa dengan wajah sedihnya.


Bunda membawa Anisa di pelukannya.


"Kamu jangan mikir aneh-aneh. Bunda sayaaaang banget sama Anisa. Kamu tahu? Bunda senangnya Masyaallah saat tahu Anisa menerima pinangan Farhan. Momongan itu titipan Allah, segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Anisa harus senantiasa berdoa, berikhtiar, dan upayakan selalu berprasangka baik sama Allah. Anisa masih muda, Farhan juga masih muda. Mungkin aja, Allah ingin kalian romantisan duluu, dari zaman kamu kecil sampai bertemu suami Anisa pernah pacaran?" Jelas Bunda panjang lebar. Anisa menggeleng.


"Naah, Allah memberi kesempatan buat Anisa dan Farhan buat pacaran halal dulu, Bunda gak masalah Anisa mau hamil kapan pun. Jika Allah sudah menghendaki, pasti dia sudah disini," Sambung Bunda dengan mengelus perut Anisa. Anisa tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih, Bunda udah baik banget sama Anisa," lirihnya.


.


.


"Kenapa nih? Kok peluk-pelukan?" Tanya Farhan ketika melihat Bundanya memeluk Anisa.


"Gak papa, Bunda pengen meluk Anisa ajah. Ya udah, Bunda ke kamar dulu," Jawab Bunda, kemudian kembali ke kamarnya.


"Tidur yuk?" Ajak Farhan. Anisa mengangguk.


Kini mereka tengah bersih-bersih bersama. Seperti biasa, mereka gosok gigi, ganti baju, dan berwudhu sebelum tidur.


Huufft, nyaman sekali jika kita tidur di lengan pasangan kita. Apalagi jika kita dibalas dengan pelukan hangatnya.


"Ada yang mengganggu pikiran istriku?" Tanya Farhan setelah mereka berbaring di ranjang.


Anisa mendongak memandang wajah tampan suaminya. Di elusnya perlahan,


"Mas Faridz, Mas pengen cepet punya anak?" Tanya Anisa lirih. Farhan mengernyitkan keningnya.


"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" Farhan balik tanya.


"Pengen tahu ajah," Jawab Anisa.


"Adek hamil?" Tanya Farhan spontan.


Anisa menggeleng, "Belum Mas," Lirih Anisa.


"Kenapa?" Tanya Farhan, ia terenyuh melihat wajah sedih istrinya.


"Adek belum diberi kepercayaan sama Allah buat mengandung Mas," Lirih Anisa.


"Heey, jangan pasang wajah sedih gitu, Mas masih senang pacaran sama Adek, mas belum rela kalau nanti pelukan Adek berpindah ke baby kita... Mas masih menikmati hari-hari kita berpacaran sayaang... " Ujar Farhan.


Anisa tersenyum dan menelusupkan wajahnya di dada bidang Farhan.


.


.


.


"Yah, kok Bunda jadi kepikiran Anisa ya? Jangan-jangan Farhan gak bisa nenangin pikiran Anisa," Ujar Bunda setelah sesaat membaringkan tubuhnya.


"Apa sih Bun? Farhan tuh udah dewasa. Dia pasti bisa menenangkan Anisa," Jawab Ayah yang memang sudah diceritakan oleh Bunda.


"Bunda gak tenang, kita lihat Anisa dulu yuk!" Ajak Bunda. Tanpa menunggu persetujuan Ayah, Bunda langsung keluar kamar dan naik ke lantai dua.


Cklek!


"Kok di kunci sih Yah? Gak biasanya," Celetuk Bunda ketika hendak membuka pintu tapi tak berhasil.


"Udah, mereka udah istirahat mungkin, kita istirahat juga," Ujar Ayah.


"Pokoknya nggak! Sebelum Bunda melihat kondisi Anisa!" Bunda masih bersikukuh.


"Ini udah malam lho sayang," Sepertinya rayuan Ayah sudah tak mempan.


Dok! Dok! Dok!


Bunda mulai mengetuk pintu. Tak ada respon sama sekali.


Tok! Tok! Tok!


"Ya Allah, Siapa sih! Ganggu aja Lho!" Farhan gusar, ketika aktifitasnya terganggu.


"Buka dulu Mas, siapa tahu penting," Ujar Anisa.


"Tapi, " Ucapnya terpotong.


"Mas, ayo buka, gak mungkin aku yang bukain," Ujar Anisa. Akhirnya Farhan menyahut kimono-nya dan bergegas membuka pintu.


"Apa sih!" Bentak Farhan.Ayah dan Bunda pun terkaget.


"Berani kamu bentak Ayah!" Balas Ayah dengan suara tinggi pula.


"Eh! Ayah sama Bunda ngapain disini? Maaf Yah, Bun, kirain tadi orang lain yang ngetuk pintu," Jawab Farhan dengan menggaruk rambut kepalanya.


"Bunda mau lihat Anisa!"Ujar Bunda hendak memasuki kamar anaknya.


"Eh! Jangan Bun! Jangan sekarang, pliiis, jangan sekarang," Farhan mencegah Bundanya dengan sekuat tenaga.


"Kenapa? Biasanya Bunda juga mampir ke sini buat lihat kalian," Ujar Bunda.


"Buun, gak bisa sekarang... Kalau sekarang, Anisanya pasti malu," Lirih Farhan dengan semburat merah di wajahnya menahan malu. Bunda sedikit mengintip Anisa dari sela-sela Farhan. Anisa tengah membungkus tubuhnya dengan selimut. Bunda mulai dong apa yang diucapkan Farhan.


"Ya sudah! Bunda kembali ke kamar," Ujar Bunda dan berlalu.


"Jos kamu Han!" Bisik Ayah mengikuti istrinya. Farhan mengulum senyumnya dan kembali mengunci pintunya.


Bersambung....