Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Aqiqahan.


Pagi ini telah disibukkan beberapa kegiatan menjelang acara dimulai. Bahkan sejak jam tiga pagi suasana sudah ramai. Anisa sejak tadi sudah bangun untuk membantu Farhan menyiapkan keperluannya dalam menjemput Husna dan Faiz. Awalnya Anisa bersikeras untuk ikut, tapi Farhan melarangnya.


Anisa mengantarkan Farhan sampai depan rumah. Bahkan saat ini azan subuh belum berkumandang. Dengan nekatnya Farhan berangkat saat ini juga. Farhan tak membawa barang banyak, hanya membawa buah tangan untuk Abah Kyai.


“Nanti sholat sendiri dulu ya? Kalau di mushola ada jamaah, sholat di mushola aja,” Ujar Farhan.


“Iya Mas, tapi Adek sholat di kamar aja ya? Malu, di dapur banyak tetangga...” Jawab Anisa.


“Iya, ya udah Mas berangkat dulu,” Pamit Farhan.


Anisa mencium tangan Farhan.


Cup! Satu kecupan mendarat di kening Anisa.


“Habis sowan langsung pamit ya,” Pinta Anisa.


“Siap Bos! Assalamu’alaikum,”


“Wa’alaikumussalam,” Jawab Anisa.


Anisa bahkan menunggu di depan rumah sampai mobil Farhan benar-benar hilang dari pandangan. Ini masih menunjukkan pukul setengah empat, sengaja Farhan berangkat pagi-pagi buta. Agar jalanan tidak macet katanya. Menurut perhitungannya tadi, ia akan sampai pesantren saat subuh. Setelah subuh ia akan segera meminta izin kepada Abah Kyai untuk membawa adik-adiknya pulang. dengan begitu, ia akan sampai rumah tepat sebelum acara dimulai.


“Cuma dititnggal tiga jam aja kalut bener,” Sindir Kak Ical yang tiba-tiba nongol.


“Sibuk!” Jawab Anisa.


Anisa memutuskan untuk ke kamar kakaknya. Untuk apa lagi kalau bukan melihat debay.


Cklek!


“Assalamu’alaikum,” Sapa Anisa.


“Wa’alaikumussalam, dek! Gantiin kakak jagain baby dong, kakak ngantuk banget,” Ujar Kak Aisy.


Anisa menghampiri Kak Aisy yang tengah menggendong sambil menimang-nimang babynya.


“Boleh deh,” Jawab Anisa.


Dipindahkannya baby mungil itu ke tangannya. Tterlihat jelas kelelahan di wajah Kak Aisy. Anisa mulai menimang-nimang baby itu.


“Kakak tidur bentar ya dek?” Lirih Kak Aisy.


“Iya Kak, oh iya, Kak Ical kemana?” Tanya Anisa.


“Lagi siapin baju buat acara nanti. Masih di kamar Umi, lupa mau bawa kesini,” Jawab Kak Aisy.


Anisa manggut-manggut. Kak Aisy berbaring di ranjangnya. Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah tertidur.


Dilihatnya baby digendongannya masih membuka mata sesekali. Kenapa dari tadi nulisnya Baby sih? Kenapa gak disebutin namanya?


Namanya masih dirahasiakan gaess, jadi sabar ya! Nanti kalau waktu acara dibocorin kok. Hehehe.


Anisa melantunkan sholawat, siapa ttahu baby cantik itu mau bobok lagi.


Cklek!


Faisal masuk ke kamarnya. Bukan sang istri yang didapati. Melainkan sang adik.


“Kak Aisy mana?” Tanya Kak Ical.


“Shyuuut, pelan-pelan ngomongnya. Kak Aisy lagi bobok. Kasihan lelah banget sepertinya,” Jawab Anisa.


Kak Ical meletakkan baju couplenya di gantungan kamarnya. Ia mendekati sang adik yang tengah menggendong anaknya.


“Belum tidur sama-sekali memang, tadi aja Cuma dua jam tidur habis makan malam,” Ujar Kak Ical.


“Kakak juga belum tidur? Sana tidur, biar aku yang jaga dedeknya,” Jawab Anisa. Tentu saja ia merasa iba, apa mungkin ia juga akan seperti ittu nantinya saat mempunyai anak?


Kak Ical menghampiri sang istri dan duduk di sisinya. Di elusnya rambut Kak Aisy. Tentu saja agar semakin nyenyak tidurnya. Anisa terus saja fokus menimpang baby di tangannya agar cepat tidur. Jika melihat kedua kakaknya akan semakin membuatnya kangen dengan babang suami.


Anisa mencoba meletakkan di box bayi, tapi malah menangis. Ttak ingin membangunkan sangg kakak, Anisa terus menimangnya.


Tok! Tok! Tok!


Anisa yang mendengar ketukan pintu pun segera membukanya. Ternyata Bunda Umi.


“Kok kamu disini Neng?” Tanya Umi.


“Iya, bantuin jagain dedek. Kasihan kak Aisy belum tidur,” Jawab Anisa.


Umi masuk ke kamar melihat Faisal dan Aisyah tertidur pulas.


“Nanti kalau subuh Kak Ical dibangunin ya?” Pinta Umi.


“Iya Mi,” Jawab Anisa.


Umi meninggalkan Anisa. Kembalilah Anisa sendiri terjaga. Bukan! Ia bersama dedek bayi. Tak beberapa lama kemudian, dedek bayi dalam timangan Anisa sepertinya telah tertidur. Anisa meletakkan dedek bayi itu dalam box di samping tempat tidur Mama Papanya.


Pas sekali adzan subuh berkumandang. Anisa membangunkan Kakaknya untuk melaksanakan sholat subuh. Anisa membangunkan tanpa bersuara. Ia hanya menggoyangkan lengan Kak Ical secara perlahan. Takut jika Kak Aisy juga ikut terbangun.


“Kenapa?” Tanya Kak Ical lirih.


“Udah subuh, sholat dulu. Oh iya, dedeknya udah tidur, Anisa ke kamar dulu ya?” Jawab Anisa sekaligus pamit. Farhan hanya mengangguk.


“Makasih ya dek,” Ujar Kak Ical sebelum Anisa benar-benar keluar kamar. Anisa tersenyum dan berlalu ke kamarnya.


.


.


Untunglah hal itu tak berlangsung lama. Mbah Uti memanggil Anisa agar menemaninya ke taman belakang. Langit memang masih gelap. Tapi di taman itu dipenuhi dengan lampu-lampu yang indah dipandang mata. Sudah lama rasanya ia tidak berbicara empat mata bersama Mbah Uti. Mereka kini tengah duduk di sebuah pendopo.


“Eneng gak siap-siap buat acara?” Tanya Mbah Uti.


“Nunggu Mas Faridz pulang Mbah Uti, acaranya juga masih lama,” Jawab Anisa.


“Kapan mau main ke Jogja? Mbah Kakung mu sudah menyiapkan kamar buat kamu nginep sama suamimu lho,” Ujar Mbah Uti.


“Iya?” Tanya Anisa tak menyangka.


“Iya, sudah sejak lama. Bahkan waktu pulang dari acara pernikahan kamu Mbah Kakung sudah memesan beberapa barang untuk perlengkapan kamar kalian,” Sahut Mbah Kakung yang sudah berada di dekat mereka. Kini Anisa duduk di tengah-tengah Mbahnya.


“Insyaallah beberapa waktu yang akan datang Anisa dan Mas Faridz akan pergi ziarah wali Mbah. Katanya sih mau mampir ke Malioboro. Siapa tahu Mas Faridz mau mampir ke rumah Mbah,” Jawab Anisa dengan penuh harap.


“Harus mau. Nanti kalau gak mau bilang ke Mbah Kakung. Biar Mbah yang bicara sama suami Eneng,” Jawab Mbah Kakung.


“Kok Cucu Mbah yang satunya belum datang to nduk?” Tanya Mbah Uti.


“Masih dijemput Mbah... Emmm, gimana kalau kita Video Call aja?” Tanya Anisa.


“Jangan, nanti ganggu. Kalau lagi nyetir gimana? Berbahaya,” Jawab Mbah Uti.


“Gak papa Mbah, nanti yang jawab palingan Faiz,” Ujar Anisa. Ia segera memencettt nomor telepon Farhan dan menyambungkan teleponnya.


“Assalamu’alaikum, Iya yaank? Ada apa?” Tanya seseorang disebrang sambungan telepon.


“Wa’alaikumussalam, Mas Faridz masih di pesantren?” Tanya Anisa.


“Ndak sayaang, Mas sudah di jalan ini. Sebentar lagi sampai rumah insyaallah. Sekitar setengah jam an laah,” Jawab Farhan.


“Emm, hpnya kasih ke Fais dulu Mas, Mbah Uti mau VC-an sama Faiz,” Ujar Anisa.


“Oalah, iya-iya. Sebentar,”


“Dek! Mbah Uti mau bicara sama kamu nih,” Ujar Farhan kepada Faiz. Faiz segera menerimanya. Tak dapat dipungkiri. Ia juga sangat kangen pada Eyangnya itu.


Mulailah Anisa merubah panggilan menjadi VC. Tampak Mbah Uti mengobrol dengan Faiz. Mbah Kakung hanya menontton saja rasanya sudah senang. Padahal sebentar lagi juga akan bertemu. Hahaha.


.


.


.


Anisa baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Satu jam yang lalu Farhan telah sampai di Jombang kembali. Dilihatnya sang suami ttengah bersender pada kepala ranjangnya. Tidak sendiri. Husna juga ikut ke kamar mereka. Tentu saja diawali dengan pertengkaran antara dua kakak beradik itu. Husna tengah menonton tv sedangkan Farhan disampingnya tengah membaca sebuah buku. Tak ada sepatah kata muncul dari keduanya. Sepertinya masih sama-sama merajuk. Hahaha.


Gara-gara Husna ada di kamar ini Farhan tidak bisa mandi berdua bersama sang istri. Farhan sendiri heran. Kenapa sang isttri lebih membela adik iparnya dari pada suaminya sendiri.


“Udah ah ngambeknya! Mandi dulu sana Mas,” Ujar Anisa menghampiri Farhan dengan mengengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


“Na! Mandi dulu sana!” Perintah Farhan pada manusia yang tenggurap menghadap tv itu.


“Kak Farhan dulu aja sana,” Jawabnya. Anisa geleng-geleng kepala melihat kedua orang itu. Tidak mudah membujuk sang suami beberapa waktu yang lalu agar memperbolehkan Husna ke kamar mereka. Sekarang harus disuguhi dengan percecokan kecil lagi.


“Ayo! Husna, mandi duluan gih. Kak Ica mau nunjukin baju kakak buat kamu kenakan nanti,” Bujuk Anisa.


“Masak Husna dikasih baju lungsuran lagi?” Tanya Husna.


“Eh! Ngejek kamu ya! Kakak mau ngasih yang baru tahu. Ini belum sempat kakak pakai. Awalnya mau kakak pakai, tapi kak Ica dan Kakak kamu udah dikasih lagi sama Umi. Jadinya yang ini buat kamu ajah,” Jelas Anisa.


“Oke deh! Husna mandi,” Husna langsung bersemangat. Bergegas ke kamar mandi, tak lupa mengusili Farhan terlebih dahulu. Dipencetnya hidung Farhan keras-keras kemudian berlari ke kamar mandi.


“Mulai berani ya kamu sama Kakak!” Teriak Farhan.


Kembali Anisa mengelus lengan Farhan agar tenang.


“Gak papa Mas, biar tambah mancung,” Canda Anisa dan dibalas dengan dengusan oleh Farhan.


.


.


Acara dibagi menjadi dua waktu. Yang pertama pagi menjelang siang kemudian malam hari untuk marhabanan. Pagi hari ini digunakan untuk acara-acara adat. Abi yang merupakan keturunan jawa kental mengikuti anjuran Mbah Kakung untuk melestarikan adat istiadat.


Siang harinya akan diadakan acara brokohan atau slametan sekaligus aqiqahan. Brokohan ini merupakan acara berdoa bersama agar bayi diberi berkah dan keselamatan. Dalam kesempatan kali ini dihadiri oleh para tetangga. Selain itu juga ada acara spasaran. Yakni acara semacam dengan brokohan, tetapi dihadiri oleh orang-orang dengan lingkup yang lebih luas juga. Orang-orang tersebut juga akan memberikan selamat pada keluarga baru itu. Dalam hal ini pihak penyelenggara akan memberikan jamuan kepada tamu-tamunya.


Dimalam harinya dilanjutkan dengan pembacaan sholawat-sholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga diiringi oleh pemotongan rambut si bayi.


Anisa dapat menyaksikan pemandangan yang amat sangat menyejukkan kali ini. Sang suami dittugaskan untuk menjadi Qoriah pada kesempattan kali ini. Suara Farhan begitu lembut dengan alunan suara merdunya dapat mengipnotis siapa pun yang mendengarkan.


Sedangkan Faiz, kali ini ditugaskan sebagai vokalis sholawat mulai pagi hingga malam hari. Hahaha, kasihan sekali. Pulang-pulang langsung capek. Untung saja Anisa dan Farhan sesekali menggantikan atau sekedar menemani Faiz sebagai vokalis. Keluarga mereka tak menyewa panggung hiburan seperti orgen atau orkes. Mereka lebih memilih menyewa grup sholawat banjari. Hal itu lebih afdhol menurut Abi dan tentunya Mbah Kakung.


Oh iya! Nama si bayi sudah terpampang dengan indahnya. Namanya yaitu Afifah Hilya


Nafisah.


Bersambung....


Wuuuiiih! Menurut lhu-lhu itu nama buaaagus sih! Artinya Perempuan Berharga dan Memikimj Kemuliaan Tinggi. Mohon maaf jika salah. Jika memang benar-benar salah itu murni dari kekhilafan Lhu-Lhu.