Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Gugup tingkat dewa


Setelah melaksanakan sholat asar Anisa berniat untuk membantu Umi didapur. Ternyata didapur sudah ada Bunda dan Kak Aiys juga.


"Gimana istirahatnya? Nyenyak?". Sindir Kak Aiys yang melihat Anisa duduk di kursi dapur. Bunda dan Umi pun terpancing untuk melihat ekspresi Anisa.


"Yaaa, biasaa. Emangnya harus gimana?". Tanya Anisa bingung.


"Tambah anget ya sayaang". Sambung Bunda.


"Bunda apaan sih. Anisa bantuin apa nih". Anisa menghampiri Bunda dan Umi.


"Di kulkas masih ada cumi dek, kamu masakin itu dong". Ujar Kak Aiys.


"Siap bos!". Jawab Anisa.


Kak Aiys tak membantu memasak, sebab Umi yang melarangnya. Jadilah Kak Aiys yang mengomentari masakannya. Maklumlah. Cucu perdana, jadi Umi begitu memanjakan Kak Aiys.


Jika biasanya Mbok Yem membantu untuk masalah dapur, kini beliau diminta Umi untuk istirahat dulu. Karena Umi ingin mengenang masa kuliah dengan Bunda katanya.


Setelah berkecimpung dengan onderdil dapur, akhirnya selesai juga masakan mereka. Anisa memilih menu masakan asam manis, sesuai request dari Mbak Aisy.



Dan dipadukan oleh beberapa masakan Bunda dan Umi.


"Aisy ke kamar dulu Umi, Bunda, mau siapin keperluan Mas Ical dulu". Pamit Mbak Aisy.


"Oke sayang". Jawab Bunda.


"Kamu juga sana, contoh kakak iparmu itu. Jangan malu-maluin Umi". Ujar Umi.


"Iyaa, Anisa pamit dulu. Mau nyontek kegiatannya Kak Aiys". Canda Anisa meninggalkan dapur.


Anisa tertarik untuk berjalan ke arah taman. Suara ramai Husna dan Faiz mengundangnya untuk menghampiri mereka. Ternyata disana sudah ada para laki-laki juga. Abi, Ayah, Kak Ical, dan Mas Faridz tengah beradu catur disertai perbincangan-perbincangan ringan.


"Sudah selesai masaknya dek?". Tanya Faisal ketika melihat Anisa menghampiri Faiz dan Husna yang sedang menonton film di laptop. Tak jauh dari kerumunan bapak-bapak.


"Udah, barusan". Jawab Anisa singkat.


"Kalian nonton apa sih?". Tanya Anisa pada adik-adiknya.


"Nonton Hary Poter, ada episode baru kak". Jawab Faiz.


"Udah sore lho, mandi gih. Siap-siap maghrib". Ujar Anisa.


"Bentar kak, 2 menit lagi selesai. Habis itu langsung mandi deh". Jawab Husna.


Keluarga Farhan memang sengaja untuk tidak pulang. Ulah siapa lagi kalau bukan Umi. Umi membujuk Bunda untuk menginap, sehingga waktu resepsi besok bisa berangkat bersama.


"Nah! Sudah. Beresin ya Iz, aku kedalam dulu". Ujar Husna berlalu kedalam rumah.


"Dasar kak Husna. Gak tanggung jawab". Gerutu Faiz tak terima.


"Eh! Tunggu. Itu laptop kakak?". Tanya Anisa.


"Hehehe, iyaa". Jawab Faiz cengengesan.


"Kamu ya. Kebiasaan. Gak izin dulu sama yang punya". Ujar Anisa.


"Eh! Jangan marah dulu, Faiz udah izin sama Kak Farhan kok. Malah kak Farhan yang ngambilin laptopnya". Ujar Faiz.


Anisa melirik pada Farhan yang masih asik bermain catur.


"Kamu gak buka-buka file kakak kan? Nanti ada yang kehapus kayak dulu itu". Tanya Anisa.


"Nggak kok kak. Aku cuma nonton ajah". Jawab Faiz.


"Ya udah. Ayo bawa ke kamar kakak". Ujar Anisa.


"Kenapa gak dibawa sendiri sih kak? Kan aku bisa langsung ke kamar". Ujar Faiz setelah mengembalikan laptop ke tempatnya.


"Supaya adik kakak terbiasa bertanggung jawab atas barang yang dipinjam". Ujar Anisa.


"Sudah sana, kakak mau mandi". Ujar Anisa mengusir Faiz.


"Iya-iya". Jawab Faiz meninggalkan Anisa.


Anisa menyiapkan pakaian untuk Farhan.


"Sebenarnya aku malu mau ngambil perlengkapan pakaiannya Mas Faridz. Ouuh, pertama kalinya tanganku menyentuh perlengkapan dalam orang lain". Gumam Anisa. Kalau milik keluarganya sendiri mah udah biasa. Ini? Punya suami.


Anisa meletakkannya di ranjang. Kemudian ia bersih-bersih.


"Belum kekamar ternyata". Gumam Anisa melihat Farhan ada dikamar.


Anisa memilih untuk murojaah di balkon kamarnya sebelum azan maghrib berkumandang.


CEKLEK!


Farhan kembali kekamar untuk membersihkan tubuhnya. Dilihatnya Anisa tengah lalaran di balkon.


"Masyaallah, kamu sekarang istriku. Kenapa aku masih tak percaya". Batin Farhan.


Farhan melihat pakaiannya sudah tersiapkan dengan rapi di ranjang. Ouuh! Manisnya. Pikir Farhan.


Setelah menyelesaikan ritual mandi Farhan menghampiri Anisa ke balkon. Ia duduk disisi Anisa mengamatinya.


"Kenapa mas?". Tanya Anisa menyudahi lalarannya.


"Gak papa. Sini saya simak". Ujar Farhan.


Anisa memberikan Al-Qur'annya pada Farhan.


Anisa mulai melantunkan ayat demi ayat dan disimak oleh Farhan. Hingga azan maghrib, mereka menyelesaikan kegiatannya. Anisa bersiap untuk sholat maghrib. Setelah siap, mereka berdua berjalan beriringan menuju mushola.


"Cieeee! Pengantin baru. Berduaan teruus". Ledek Faiz yang baru saja keluar dari kamar.


"Dasar anak kecil. Tau apa kamu". Jawab Anisa.


"Wleek!". Faiz membalas dengan juluran lidah dan berlari meninggalkan pengantin baru itu.


"Iqomah Farhan". Ujar Abi setelah kami sampai di mushola.


Mushola kali ini penuh. Sebab ketambahan keluarga Farhan dan keluarga besar Abi dan Umi.


"Anisa kira bude dan yang lain sudah pulang, abisnya gk keliatan sore tadi". Ujar Anisa pada budenya.


"Iyaa, tadi kami jalan-jalan sebentar. Kan jarang main ke Jombang. Besok kalau libur kerja main ke Jogja. Ajak suami kamu. Oke!". Jawab Bude.


"Insyaallah. Mbah putri dan Mbah Kakung kapan sampai sini?". Tanya Anisa. Nenek dan kakek Anisa baru bisa ke Jombang sore hari, sebab Kakek Anisa yang juga salah satu pemuka agama harus mengisi kajian di daerahnya.


"Nanti malam sampai insyaallah, kan Jogja gak jauh". Jawab Bude.


Setelah berbincang sebentar di mushola, mereka makan malam bersama.


"Mas Farhannya di ambilin dong Nis". Ujar Bude.


"Iyaa Bude". Jawab Anisa lirih, menahan malu.


Anisa mengambilkan nasi dan lauk untuk Farhan setelah Kak Aisy.


"Mau lauk yang mana mas?". Tanya Anisa lirih.


"Yang kamu masak tadi". Jawab Farhan.


"Itu aja?". Tanya Anisa lagi.


"Emm, semuanya juga boleh". Jawab Farhan. Akhirnya Anisa mengambilkan beberapa lauk yang lain. Interaksi mereka tak luput dari tatapan yang lain.


"Kok liatinnya pada gitu sih?". Ujar Anisa tak tahan jadi pusat perhatian.


"Suka deh lihat pengantin baru kayak kalian". Ujar Bude lagi.


"Anisa gak suka yaa kalau pada gitu". Ujar Anisa kesal plus malu.


"Sudah-sudah mbak yu, ayo kita makan semua". Lerai Umi tak tega melihat putrinya bermuka merah. Hahaha.


Setelah sholat isya Anisa dan Farhan langsung istirahat oleh para ibu-ibu. Sebab akan dimulai hari yang panjang. Padahal Anisa ingin menunggu Mbah kakung dan Mbah putrinya. Mau tak mau Anisa mengikuti perintah sang ibu-ibu.


Didalam kamar pengantin


Anisa mulai gugup kembali. Ia membersihkan mukanya sekaligus berwudhu. Sudah kebiasaannya memang. Sebelum tidur selalu berwudhu dahulu. Anisa juga sekalian mengganti pakaian tidur.


Didapatinya Farhan tengah mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Ntah ni orang. Harusnya ia menunda pekerjaannya dahulu.


"Kok masih kerja sih mas?". Tanya Anisa.


"Gak kok. Ini sudah selesai. Cuma ngecek bentar tadi". Jawab Farhan.


"Ini". Anisa memberikan pakaian tidur untuk Farhan. Dan mengambil laptop dari pangkuan Farhan memindahkannya dimeja kerja Anisa.


Farhan memasuki kamar mandi. Dan Anisa bergegas naik ke ranjang sebelum Farhan keluar. Ia meringkuk membelakangi tempat Farhan.


Farhan melihat Anisa yang tengah meringkuk membelakanginya. "Saya tahu kamu belum tidur sayang". Batin Farhan. Ia segera naik ke ranjang untuk melancarkan aksi resenya.


Farhan menyentuh pundak Anisa. Terasa gemetar. Anisa mulai was-was sepertinya.


"Saya tahu kamu belum tidur sayang". Lirih Farhan.


"Jangan takuuut, saya tak akan memakanmu. Besok kita masij melewati hari yang cukup melelahkan". Sambungnya.


"Maas, jangan gitu. Aku takut". Lirih Anisa.


Farhan melepaskan tangannya.


"Menghadaplah kemari". Ujar Farhan.


Anisa berangsur duduk dan menghadap Farhan.


"Tidak usah memakai jilbab. Kita sudah halal". Ujar Farhan dengan lembut.


"Maaf". Lirih Anisa.


"Bolehkah saya membukanya?". Izin Farhan.


Farhan mulai membuka jilbab yang membungkus rambut indah Anisa.


"Kamu cantik istriku". Ujar Farhan setelah meletakkan jilbab Anisa kenakas. Semu merah pipi Anisa.


"Ayo kita tidur". Ujar Farhan. Anisa mengangguk dan berbaring membelakangi Farhan.


Farhan yang mulai gemas pun memeluk Anisa dari belakang. Menautkan jemarinya dengan Anisa. Gugup! Sudah pasti. Anisa bahkan sempat menahan napasnya.


"Jangan ditahan nafasnya. Saya gak mau jadi duda secepat itu. Jangan lupa berdoa. Selamat malam istriku". Ujar Farhan, mengecup ubun-ubun Anisa.


Bersambung...


Lhu-lhu dari kemarin senyum-senyum sendiri waktu nulis.


Duuuuuh! Tingkat kehaluan yang tinggi ini mah.