
"Kenapa sih Nis? Kenapa? Aku gak suka yaa kalau kamu ambil tindakan secara pribadi gini! Apalagi ini masalah aku, bukan wilayah kamu!" Tegas seorang perempuan di sebrang telepon ini.
"Nyesel aku udah cerita semuanya ke kamu! Assalamu'alaikum!"Telepon dimatikan sepihak.
Tetesan bening mulai mengalir dengan sendirinya. Kenapa ia jadi gegabah? Kenapa? Kenapa harus memberi tahu?
"Wa'alaikumussalam," Jawab Anisa lemah.
.
.
"Sayang, mau sarapan apa? Biar Mas carikan," Panggil Farhan memasuki kamarnya.
"Lho! Kamu kenapa?" Tanya Farhan menghampiri Anisa yang habis menangis.
"Wardah marah," Lirih Anisa.
"Kamu tadi jadi ngomong?" Tanya Farhan. Dibalas anggukan oleh Anisa.
Huufft! Di usapnya kasar rambut Farhan. Anisa mendekati Farhan. Digenggamnya lengan Farhan.
"Kan tadi mas udah ngelarang buat ngomong," Lirih Farhan.
"Maaf Mas, ternyata tidak membantu," Lirih Anisa semakin menangis.
Tak tega melihat sang istri menangis, Farhan merengkuh Anisa dalam pelukannya. Diusapnya rambut Anisa perlahan dengan lembut.
"Wardah marah Mas," Lirih Anisa lagi dengan sesenggukan.
"Ya memang itu akibatnya kalau melangkah tanpa mempertimbangkan. Gak perlu nangis sayang... Pikirkan jalan keluarnya, kita minta maaf pelan-pelan, okee!" Jawab Farhan menasehati.
Anisa tampak mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Dibalas pula dengan Farhan.
"Jangan terlalu stres, kasihan yang di perut," Ujar Farhan.
"Mau makan apa?" Tanya Farhan.
"Mau Bude Pojok," Lirih Anisa.
"Yuk ke bawah, Budenya sudah masak," Ujar Farhan menggandeng Anisa.
Di pakaikannya jilbab Anisa dengan telaten. Kemudian mereka berdua meninggalkan kamar. Di ruang makan sudah berkumpul keluarga besar. Yang lebih mencengangkan, di sana juga ada Bude Pojok. Ntah siapa sebenarnya nama Bude itu. Hahaha .
"Pagi-pagi gini, Bude gak jualan di simpangan pojok?" Tanya Anisa lembut.
"Bude sudah di kontrak sama suamimu. Di kontrak sampai kamu lahiran," Jawab Bude Pojok. Ternyata nama beliau Minah.
Anisa syok mendengarnya dan langsung menghadap Farhan. Yang ditatap pun hanya cengengesan sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Iya sayang, kasihan Budenya kalau diminta memegang dua tanggung jawab. Antara sarungnya dan kamu... Lebih baik Bude di ajak bergabung dengan kita. Farhan juga gak perlu bolak balik 3 kali sehari ke warung Bude Minah," Ujar Umi.
"Bude gak keberatan?" Tanya Anisa pada Bude Minah.
"Alhamdulillah, Bude senang sekali Neng... Penghasilan Bude di warung tidak menentu, kalau di sini sudah pasti... Kasihan juga kalau Neng Anisa makan makanan warung yang itu-itu saja," Jawab Bude Minah.
Anisa tersenyum. Alhamdulillah, ia masih di kelilingi orang-orang yang menyayangi dan peduli.
"Terima kasih Bude," Ujar Anisa.
"Sama-sama Neng,"
.
.
.
Kini Anisa dan Farhan sudah berada di taman belakang. Farhan memang tidak ada jam mengajar pagi. Setelah zuhur ia baru akan memulai kelasnya.
Saat ini Ayah juga mengambil alih kembali kemudi Universitas. Tentu saja meminta sang anak agar standby di dekat menantunya jika diperlukan.
Ayah juga sudah mengganti jam mengajar Anisa. Anisa tak diperbolehkan mengajar jika masih mual-mual. Setelah dirasa kandungannya kuat, barulah diizinkan kembali mengajar.
Meski begitu, Anisa masih memegang tanggung jawab membimbing mahasiswa di tugas akhir. Tak perlu ke Universitas, ia hanya perlu menunggu kapan pun mahasiswanya membutuhkan bimbingan di mansion.
"Weekend.kita ke pesantren ya Mas," Ujar Anisa.
"Jauh yaang, kapan-kapan aja kalau sudah lebih membaik," Jawab Farhan mencoba membujuk.
"Nggak Mas, aku pengen ketemu Wardah..." Rengek Anisa.
"Nanti Mas konsultasi dengan Dokter Rani dulu ya," Jawab Farhan. Anisa hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi.
Bersambung....